UNAIR NEWS – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-54, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR) gelar kegiatan Sosialisasi Penyakit pada Kucing dan Penularan Penyakit Kucing/Hewan Kesayangan kepada Manusia. Kegiatan tersebut dihadiri oleh anggota PKK Kecamatan Mulyorejo, peserta KKN BBK 7, dan dosen serta sivitas akademika FKH UNAIR. Sosialisasi berlangsung pada Senin (12/1/2026) di Kecamatan Mulyorejo, Surabaya.
Dalam pelaksanaannya, FKH UNAIR berkolaborasi dengan Kecamatan Mulyorejo, Surabaya. Kegiatan edukasi ini menyasar masyarakat Kecamatan Mulyorejo, khususnya ibu hamil yang dinilai lebih rentan terhadap penyakit yang ditularkan dari kucing atau hewan kesayangan. Sosialisasi tersebut disampaikan oleh dua dosen FKH UNAIR, Prof Dr Lucia Tri Suwanti drh M Si dan Prof Dr Wiwik Misaco Yuniarti drh MSi.
Toxoplasmosis dan Dampaknya bagi Ibu Hamil
Prof Lucia mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahaya toxoplasmosis, terutama bagi ibu hamil. Ia menyampaikan bahwa penyakit ini kerap dikaitkan dengan keguguran maupun kecacatan pada bayi.
“Toxoplasmosis bisa menyebabkan keguguran, kecacatan, atau kalau lahir bayi kepalanya besar, atau bisa juga saat lahir normal tetapi gejalanya baru muncul setelah sekian lama,” jelasnya.
Toxoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat berada di hampir seluruh sel berinti di dalam tubuh manusia. “Kalau infeksinya setelah lahiran bisa menyebabkan cacat hati, bisa macam-macam bahkan bisa ke otak, dan dampaknya sangat berbahaya bagi penderita HIV,” ujar Prof. Lucia.
Ia menegaskan bahwa toxoplasmosis termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Meski sering disebut sebagai ‘penyakit kucing’, penularannya tidak hanya berasal dari kucing saja.
“Yang menular ke kita adalah yang keluar dari feses kucing yang terinfeksi,” terangnya.

Pola Penularan dan Upaya Pencegahan
Lebih lanjut, Prof Lucia menjelaskan bahwa kucing yang terinfeksi akan mengeluarkan ookista melalui feses. Ookista tersebut akan menjadi infektif setelah dua hingga lima hari dan dapat mencemari air, tanah, maupun sayuran. “Kemudian ookista itu tertelan oleh hewan lain sehingga mereka juga tertular, dan kita juga bisa tertular,” ungkapnya.
Semua hewan berdarah panas berpotensi terinfeksi, termasuk ayam. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya mengolah makanan dengan benar. “Kalau ibu-ibu masak daging harus matang. Telur ayam juga jangan sampai kuningnya setengah matang,” pesannya. Selain itu, susu sebaiknya dipasteurisasi dan air minum direbus terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
Mengenai gejala pada manusia, Prof Lucia menyebutkan bahwa pada orang dengan imunitas kuat, infeksi sering kali tidak menimbulkan tanda yang jelas. Karena itu, ia menganjurkan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah.
“Ada anjuran sebelum menikah tes TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex), karena kalau infeksinya terjadi saat kehamilan bisa menyebabkan keguguran dan kecacatan,” pungkasnya.
Melalui sosialisasi tersebut, FKH UNAIR berharap masyarakat semakin memahami risiko toxoplasmosis serta mampu menerapkan langkah pencegahan demi menjaga kesehatan calon ibu dan anak Indonesia di masa mendatang.
Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Khefti Al Mawalia





