Implikasi kesehatan masyarakat dari virus influenza burung, khususnya virus influenza burung yang sangat patogen (H5N1), telah menjadi semakin signifikan belakangan ini, dengan wabah yang meluas pada unggas dan kasus fatal yang dilaporkan pada manusia. Selain itu, telah terjadi peningkatan infeksi yang mengkhawatirkan di antara spesies mamalia di seluruh dunia. Kekhawatiran utama terletak pada dinamika penularan di antara tiga kelompok utama: unggas, burung liar, dan mamalia. Selain dampak ekonomi yang substansial dari wabah unggas, infeksi ini telah berdampak buruk pada berbagai populasi burung dan mamalia liar, termasuk spesies yang terancam punah, mengganggu keseimbangan ekologis dalam lingkungan mereka.
Sejak Februari 2024, telah tercatat total 882 kasus infeksi pada manusia yang disebabkan oleh virus flu burung patogenik tinggi H5N1 di seluruh dunia. Indonesia melaporkan wabah pertama flu burung patogenik tinggi H5N1 pada unggas pada tahun 2004, dengan kasus awal terkonsentrasi di pulau-pulau padat penduduk seperti Jawa, Sumatera, dan Bali. Selama dua dekade terakhir, virus ini telah menjadi endemik di seluruh kepulauan Indonesia, ditandai dengan wabah unggas yang berulang dan infeksi manusia yang sporadis namun parah, yang mengakibatkan salah satu tingkat kematian kasus tertinggi di dunia.
Studi ini menyelidiki filogeografi dan evolusi genetik virus influenza burung patogenik tinggi
H5N1 di Indonesia dari tahun 2003 hingga 2024, yang mengungkapkan keragaman genetik dan dinamika reasortasi yang signifikan. Analisis filogeografi gen hemaglutinin (HA) menunjukkan beberapa introduksi virus independen ke Indonesia, dengan introduksi paling awal dari Vietnam sekitar tahun 2003–2004 dan invasi berikutnya dari Bangladesh, Timor-Leste, dan Tiongkok. Virus H5N1 menunjukkan evolusi yang berkelanjutan, yang dicirikan oleh klade dan subklade yang berbeda, terutama klade 2.1, yang terdiversifikasi secara signifikan melalui reasortasi dengan galur influenza burung dengan patogenisitas rendah. Gen
neuraminidase (NA) juga menunjukkan keragaman genetik yang substansial, menyoroti mutasi yang terkait dengan resistensi antivirus. Analisis genomik gen internal menunjukkan hubungan genetik yang erat dengan galur H5N1 kontemporer di Asia Tenggara dan peristiwa re-asortasi yang penting. Lebih lanjut, substitusi asam amino spesifik dalam protein virus diidentifikasi berkaitan dengan adaptasi mamalia dan peningkatan virulensi, terutama pada protein HA dan polimerase. Temuan ini menggarisbawahi perlunya surveilans genomik berkelanjutan untuk memantau evolusi virus dan memitigasi risiko kesehatan masyarakat yang terkait dengan potensi limpasan zoonosis.
Penulis: Teguh Hari Sucipto, Saifur Rehman, dkk.
Judul Artikel: Tracking the phylogeography of H5N1 Highly pathogenic avian influenza viruses in Indonesia (2003–2024)
Informasi detail tentang artikel ilmiah ini dapat dilihat di: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00439339.2025.2543040?src=





