Universitas Airlangga Official Website

Forensik Digital untuk Mengidentifikasi Bagian Naskah Daun Palem yang Rusak

Naskah kuno telah lama menjadi benda budaya dan sejarah yang bernilai, menawarkan pemandangan unik ke masa lalu. Benda-benda halus ini telah bertahan dalam ujian waktu, membawa serta pengetahuan dan cerita nenek moyang kita. Namun, banyak manuskrip yang rusak akibat pembusukan alam, kondisi lingkungan, dan campur tangan manusia, sehingga menimbulkan masalah besar bagi para peneliti dan konservator. Menurut Perpustakaan Nasional Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan lima puluh enam persen manuskrip milik perorangan warga berada dalam kondisi buruk. Selain itu, ditemukan juga bahwa manuskrip-manuskrip berharga belum dilestarikan secara memadai sejak tahun 2000-an, karena kondisinya yang memprihatinkan. Dalam hal ini, pelestarian dan kajiannya sangat penting untuk mengetahui misteri peradaban kuno dan memahami sejarah kita, terutama bagi kustodian, pustakawan, ilmuwan informasi, arsiparis, kurator, dan sejarawan.

Oleh karena itu, identifikasi naskah kuno yang utuh dan rusak merupakan tugas rumit yang menarik minat akademisi dan cendekiawan di seluruh dunia. Terlebih lagi, untuk manuskrip jenis pertama memberikan gambaran tentang bentuk dan isi aslinya, memberikan hubungan langsung dengan pemikiran dan sentimen masa lalu. Sebaliknya, tipe kedua mengungkap luka-luka sejarah, menghadirkan teka-teki menarik yang membutuhkan upaya restorasi ahli untuk mengungkap informasi yang tersembunyi di dalam halaman-halaman usang mereka. Selain itu, mengetahui informasi seringkali memerlukan upaya restorasi yang canggih untuk mengungkap informasi yang terpendam di dalamnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, cara tradisional adalah dengan memanfaatkan mata telanjang untuk membedakan naskah kuno yang utuh dan yang rusak. Pendekatan klasifikasi manual ini memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan manusia, sehingga kurang dapat dipercaya untuk analisis skala besar. Namun, hal ini membantu sebagai titik awal untuk mengenali kerusakan yang nyata dan mengevaluasi keadaan umum naskah-naskah tersebut.

Selain itu, pelestarian naskah kuno dengan menggunakan ekstrak herbal untuk melawan kerusakan alam telah menjadi praktik umum sejak jaman dahulu. Kemudian, prosedur fumigasi kemudian diadopsi. Sementara itu, Perpustakaan Nasional Malaysia memiliki tujuh tahapan pelestarian yaitu pencucian, penilaian kandungan asam, deasidifikasi, pengeringan, perbaikan tradisional, perbaikan menggunakan mesin pengecor daun, dan penjilidan.

Kemudian, terobosan terbaru dalam metode pencitraan, pemrosesan gambar, visi komputer, dan pembelajaran mesin telah membuka jalan baru untuk identifikasi dan pelestarian teks-teks kuno. Oleh karena itu, beberapa peneliti telah menyelidiki berbagai pendekatan, termasuk peningkatan gambar, ekstraksi fitur, dan algoritma klasifikasi, untuk membedakan manuskrip utuh dari manuskrip dengan tingkat degenerasi yang berbeda-beda. Selain itu, beberapa cara tersebut memerlukan sumber daya manusia yang profesional dan memakan waktu yang lama.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan metode komprehensif untuk mendeteksi naskah kuno baik yang utuh maupun yang rusak. Oleh karena itu, penulis menggunakan algoritma segmentasi mutakhir, memungkinkan analisis yang lebih bertarget. Metodologi yang disarankan akan menggunakan teknik segmentasi tingkat lanjut untuk membedakan manuskrip yang tidak rusak dan manuskrip yang terdegradasi.

Khususnya, fokus penelitian ini adalah menggunakan pendekatan segmentasi untuk membagi kumpulan data menjadi empat subset, yang masing-masing terdiri dari naskah daun lontar: satu rusak, tidak rusak, surat, dan latar belakang. Manuskrip daun lontar ini merupakan kandidat yang sangat baik untuk penelitian kami karena nilai sejarah dan budayanya.

Penulis: Imam Yuadi, S.Sos., M.MT., Ph.D.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

I. Yuadi, U. Nihaya and F. D. Pratiwi, “Digital Forensics to Identify Damaged Part of Palm Leaf Manuscript,” 2023 6th International Conference of Computer and Informatics Engineering (IC2IE), Lombok, Indonesia, 2023, pp. 319-323, doi: 10.1109/IC2IE60547.2023.10331201.