UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga kembali menorehkan prestasi membanggakan. Mereka adalah Rivia Ghina Rahmi (Fakultas Farmasi) dan Alifah Nur Afni Oktavia (Fakultas Keperawatan) yang berhasil meraih juara 2 dalam ajang Genovate Festival 2.0. Kegiatan itu merupakan sebuah kompetisi kreativitas dan inovasi pemuda Indonesia yang mengusung semangat menuju Indonesia Emas 2045.
Genovate Festival 2.0 menghadirkan berbagai kategori seperti esai, infografis, dan Business Model Canvas (BMC), dengan subtema meliputi inovasi teknologi, kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan. Tim ini memilih cabang esai dengan subtema inovasi teknologi, karena dinilai memberikan ruang lebih luas dalam menyampaikan gagasan secara komprehensif dan berbasis riset.
Angkat Inovasi Deteksi Dini DBD Non-Invasif
Ketua tim, Rivia Ghina Rahmi menyampaikan bahwa inovasi DENGUARD lahir dari keinginan mereka untuk menghadirkan solusi deteksi dini DBD yang lebih mudah diakses masyarakat. “Kami ingin menawarkan teknologi yang sederhana, cepat, dan non-invasif, sehingga siapa pun bisa melakukan pemantauan kesehatan tanpa harus menunggu pemeriksaan laboratorium,” ungkapnya.
Dalam kompetisi tersebut, tim mengusung esai berjudul DENGUARD: Inovasi Smart Patch Terintegrasi Aplikasi Berbasis IoT sebagai Deteksi Dini Penyakit Demam Berdarah Menuju Indonesia Emas 2045.
Esai ini berfokus pada pengembangan smart patch non-invasif yang mampu mendeteksi dini Demam Berdarah Dengue (DBD) menggunakan colorimetric biosensor. Patch dilengkapi empat sensor yang memantau biomarker seperti laktat, histamin, sitokin, serta parameter fisiologis seperti suhu kulit, detak jantung, dan kelembaban. Seluruh data dikirim dan dianalisis secara real-time melalui aplikasi DENGUARD menggunakan Bluetooth Low Energy dan algoritma machine learning miniatur.
“Inovasi ini kami rancang untuk menjawab masalah keterlambatan deteksi dini DBD yang selama ini masih mengandalkan pemeriksaan laboratorium dan pengambilan darah,” terangnya. Dengan teknologi tersebut, masyarakat dapat melakukan pemantauan mandiri secara mudah, cepat, dan tanpa prosedur invasif.

Disusun Mandiri Berbasis Riset
Proses penyusunan esai dilakukan sepenuhnya secara mandiri oleh tim, tanpa pendampingan dosen pembimbing formal. Mereka melakukan studi literatur mendalam terkait biosensor, wearable IoT, dan biomarker dengue dari berbagai jurnal nasional maupun internasional.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi ialah menyederhanakan konsep teknis biosensor dan integrasi IoT agar mudah dipahami, tanpa mengurangi akurasi ilmiah. Untuk mengatasinya, tim membagi tugas sesuai keahlian, berdiskusi intensif, dan melakukan revisi berkala demi menghasilkan karya yang runtut dan komunikatif.
Tim berharap inovasi DENGUARD dapat berkembang menjadi prototipe fungsional dan diuji coba pada masyarakat, baik di sekolah, posyandu, maupun puskesmas. Teknologi tersebut berpotensi mendukung sistem pemantauan epidemiologi nasional serta menekan angka kematian akibat DBD.
“Inovasi ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, terutama target 3.3 mengenai percepatan pengendalian penyakit menular berbasis teknologi preventif dan inklusif,” tutup Rivia.
Penulis : Dheva Yudistira Maulana
Editor : Khefti Al Mawalia





