Universitas Airlangga Official Website

Gambaran Implementasi Surveilans Kelelahan Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA)

Pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan pada aktivitas manusia di seluruh dunia salah satunya di negara Indonesia. Perubahan ini juga terjadi pada bidang pendidikan yaitu Sekolah Menengah Atas atau biasa dikenal SMA. Mulanya sebelum adanya pandemi, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara tatap muka di sekolah. Namun, dengan adanya pandemi agar mencegah penularan virus Covid-19, pemerintah mengharuskan masyarakat beradaptasi dan melakukan pembelajaran secara daring atau pun hybrid. Tentu hal tersebut merupakan tantangan baru dan menimbulkan dampak negatif salah satunya kelelahan pelajar.

Berdasarkan studi pendahuluan, pelajar mengalami kebosanan dengan pembelajaran yang monoton menatap layer gadget dan juga tidak bisa bertatap muka dengan temannya. Selain itu, sistem pembelajaran online bagi beberapa pelajar sulit untuk dipahami. Rasa kesepian berpengaruh terhadap kejenuhan dalam pembelajaran. Adapun dalam segi kesehatan, dampak dari kelelahan pelajar dapat dikelompokkan menjadi tiga kelelahan indra, kelelahan fisik, dan kelelahan mental (Muna, 2013). Kelelahan indra dan fisik bisa dicegah dan diatasi dengan istirahat yang cukup, akan tetapi pada kelelahan mental sulit ditangani dan cenderung tidak disadari sehingga perlu adanya monitoring terkait hal tersebut. Hasil temuan dengan penelitian review dengan metode systematic review pada 17 negara, 1 dari 6 pelajar mengalami stress. Hal ini perlu adanya sistem monitoring pelajar khususnya pada kelelahan pelajar baik secara fisik, mental, maupun sosial.

Hasil riset tahun 2020 yang dilakukan dengan metode Focus Discussion Group (FGD) pada Kepala Sekolah di beberapa SMA Negeri di Jawa Timur didapatkan bahwa mayoritas sekolah belum memiliki sistem monitoring kelelahan pada pelajar, Surveilans atau pemantauan kelelahan pada siswa bermanfaat untuk mengidentifikasi siswa dengan masalah Kesehatan dalam mengembangkan strategi pencegahan. Dalam wawancara FGD salah satu informan berpendapat “Ada kaitan  pembelajaran dengan kejenuhan dan kebugaran pelajar”. Pendapat lain menyebutkan “Terdapat kaitan karena banyak orang tua yang mendesak untuk sekolah memasukkan kembali siswanya dengan alasan banyak siswa yang merasa lelah dan stress saat belajar dari rumah”. Selain itu “Banyak dari siswa yang mengalami kesulitan saat melakukan sekolah daring dikarenakan gangguan jaringan dan menyebabkan malas untuk mengerjakan tugas”. Hal ini tentu perlu dilakukan monitoring keadaan siswanya. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan bahwa “Dari data yang dihasilkan akan dapat diketahui bagaimana kondisi para siswa, jika didapati hasil siswa mengalami kelelahan berarti perlu adanya evaluasi pihak sekolah terkait cara dan metode belajar untuk siswa”. Hasil temuan monitoring dan evaluasi hanya melalui wali kelas dan guru BK saja dan sangat jarang dilakukan. Selain itu, beberapa sekolah juga ada yang belum menyadari pentingnya surveilans kelelahan pelajar.

Namun demikian, secara keseluruhan sekolah sangat mendukung adanya program pemantauan kelelahan siswa. Pemantauan kelelahan ini dapat dilakukan oleh guru terutama guru BK atau wali kelas serta tenaga IT dari pihak sekolah. Tentu, kerahasiaan data juga diperlukan. Dalam pelaksanaan pemantauan ini, pihak sekolah tidak keberatan untuk menyediakan sarana komputer dan pulsa. Selain itu, seluruh sekolah ternyata belum memiliki panduan mengenai pemantauan kelelahan pada siswa sehingga sangat diperlukan panduan tersebut. Sekolah yang mendukung program pemantauan kelelahan sependapat bahwa program ini dapat memberikan manfaat. Maka dari itu, perlu adanya tindak lanjut terkait regulasi surveilans kelelahan pada pelajar untuk memantau kesehatannya selama masa belajar di SMA agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara optimal.

Penulis: Ayik Mirayanti Mandagi, S.KM., M.Kes.

Jurnal: Overview of the Application Student Fatigue Surveillance at High School