Placenta accreta spectrum (PAS) adalah kelainan implantasi plasenta, di mana vili korion menempel atau menembus otot rahim (miometrium) dalam berbagai tingkat keparahan. Kondisi ini tergolong kompleks dan dapat menimbulkan morbiditas serius, terutama akibat perdarahan hebat dan kerusakan organ di sekitar panggul. Berdasarkan meta-analisis terbaru, sekitar 46,9% kasus PAS mengalami komplikasi perdarahan yang memerlukan transfusi darah.
Meskipun PAS sebelumnya dianggap sebagai komplikasi kehamilan yang langka, kini kejadiannya meningkat, dengan estimasi sekitar 1 dari 533 hingga 1 dari 730 persalinan. Peningkatan ini terutama terlihat di negara-negara dengan angka persalinan sesar dan tingkat fertilitas yang tinggi.
Penanganan PAS yang paling umum dan banyak diterima adalah histerektomi saat operasi sesar. Teknik operasi ini telah disempurnakan dan menunjukkan hasil yang baik bila dilakukan dengan pendekatan standar oleh tim yang terlatih. Namun, tidak sedikit pasien yang ingin mempertahankan uterusnya, sehingga berbagai prosedur konservatif telah dikembangkan dan dilaporkan dari berbagai belahan dunia, meskipun hasilnya masih bervariasi.
Histerektomi juga dapat berdampak pada kesehatan mental, baik karena hilangnya fungsi reproduksi maupun karena trauma dari pengalaman kehamilan dan persalinan yang rumit. Selain itu, tidak semua dugaan PAS pada pemeriksaan prenatal benar-benar terbukti PAS—bisa saja kasusnya hanya dehiscence uterus atau plasenta previa, sehingga histerektomi menjadi tindakan yang berlebihan.
Berbagai alternatif konservatif, seperti teknik operasi uterus-sparing atau pendekatan ekspektatif (plasenta dibiarkan in situ), telah dilaporkan dalam literatur sebagai pilihan lain selain histerektomi. Sayangnya, sebagian besar prosedur ini masih belum didukung oleh bukti ilmiah yang kuat karena terbatasnya data dan rendahnya kualitas studi yang tersedia.
Karena itu, penulis melakukan tinjauan sistematis terhadap studi-studi yang melaporkan hasil klinis dari teknik bedah uterus-sparing. Tujuannya adalah untuk menilai sejauh mana uterus dapat dipertahankan saat pendekatan konservatif dicoba, serta mengevaluasi tingkat keamanan prosedur tersebut berdasarkan angka morbiditas ibu dan bayi yang dilaporkan.
Oleh: Rozi Aditya Aryananda, dr., SpOG





