Universitas Airlangga Official Website

Glabridin Sebagai Pencerah Kulit dalam Sistem Nanoemulsi dengan Fase Minyak Kombinasi Asam Oleat-Extra Virgin Olive Oil (EVOO) dan Asam Oleat-Minyak Sawit

Pengaruh Minyak Zaitun Extra Virgin Pada Produksi Protein Hsp27
Photo by Alodokter

Paparan sinar UV matahari yang berlebihan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan   hiperpigmentasi pada kulit pria dan wanita di berbagai kelompok etnis [1]. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan pigmentasi karena produksi melanin, yang disintesis oleh sel melanosit [2]. Melanogenesis merupakan proses sintesis melanin, yang melibatkan aktivasi enzim tirosinase, yang terjadi di dalam melanosom. Proses-proses ini pada akhirnya mengarah pada pembentukan dua jenis melanin yaitu pheomelanin, dan eumelanin [2]. Penghambatan aktivasi pembentukan melanin merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi melanin di kulit yang dapat menyebabkan kulit lebih cerah.

Salah satu agen pencerah kulit yang menghambat aktivasi enzim tirosinase di epidermis adalah glabridin [3]. Glabridin juga diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi, neuroprotektif, antimikroba, dan antikanker. Namun, glabridin memiliki kekurangan dalam hal stabilitas yaitu rentan terhadap degradasi saat terpapar cahaya dan keterbatasan penetrasi ke dalam kulit pada sediaan topikal [4]. Untuk mengatasi hal tersebut glabridin dapat diaplikasikan dalam sistem penghantaran nano yang dapat melindungi dan meningkatkan kelarutan serta penetrasinya [5].

Salah satu sistem penghantaran nano adalah nanoemulsi. [6]. Nanoemulsi merupakan emulsi dengan ukuran nanometer memiliki penampilan yang transparan komponennya terdiri dari fase air, fase minyak dan surfaktan [8]. Kemampuan penetrasi sistem nanoemulsi juga dapat dipengaruhi oleh metode preparasi serta komponen bahan penyusunnya.

Asam oleat adalah salah satu minyak yang paling sering digunakan dalam nanoemulsi karena kemampuannya untuk mengganggu lipid barrier startum korneum sehingga dapat meningkatkan penetrasi ke dalam kulit. Asam oleat juga memiliki aktivitas sebagai pelembab, emolien jika diaplikasikan pada sediaan kosmetik [13]. Karakteristik nanoemulsi yaitu ukuran dropletnya dapat mempengaruhi kecepatan penetrasi kedalam kulit. Jenis minyak tertentu dapat menurunkan tegangan permukaan dari fase minyak, sehingga ukuran droplet fase minyak menjadi lebih kecil. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan nanoemulsi glabridin menggunakan fase minyak asam oleat (F1), kombinasi asam oleat dengan extra virgin olive oil (EVOO) (F2), dan kombinasi asam oleat dengan minyak sawit (F3) dengan rasio kombinasi minyak 1:3.

Hasil pengamatan ukuran droplet nanoemulsi glabridin dengan asam oleat yaitu 150,5 ± 3,5 nm (F1), dengan kombinasi asam pleat dan EVOO sebesar 23,2 ± 3,2 nm (F2), kombinasi asam oleat dan minyak sawit sebesar 15,8 ±1,7 nm (F3), Hasil uji iritasi menggunakan Hen’s egg test-chorioallantoic membrane (HET-CAM), nanoemulsi glabridin yang menggunakan fase minyak asam oleat (F1), kombinasi asam oleat dengan EVOO (F2) dan kombinasi asam oleat dan minyak sawit (F3) ketiganya menunjukkan nilai irritation score (IS) = 0. Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan surfaktan dan eksipien lainnya tidak berdampak negatif terhadap toksisitas formulasi nanoemulsi glabridin, sehingga aman dikembangkan sebagai sediaan pencerah kulit. Hasil uji iritasi nanoemulsi glabridin dapat dilihat pada gambar 1

Gambar 1. Hasil uji iritasi menunjukkan efek kontrol iritan (larutan air natrium lauril sulfat 1% b/v) dan kontrol non-iritan (larutan air natrium klorida 0,9% b/v), nanoemulsi Glabridin dengan asam oleat (F1), nanoemulsi Glabridin dengan kombinasi asam oleat dan EVOO (F2), dan nanoemulsi Glabridin dengan kombinasi asam oleat dan minyak sawit (F3) pada membran korioalantois sebelum paparan (0 menit) dan sesudah paparan sampel (5 menit). Tanda panah dan bulat menunjukkan perdarahan, dan lisis terjadi pada pembuluh darah embrio efek kontrol iritan (Suryandari et al., 2025).

Studi in vivo untuk menilai efek pencerah kulit dari nanoemulsi glabridin dilakukan pada 15 subjek manusia. Nanoemulsi glabgidin F1, F2 dan F3 diaplikasikan dua kali sehari pada lengan bawah kiri selama empat minggu. Hasil studi ini menunjukkan penurunan kadar melanin dan peningkatan individual topology angular (ITA) yang sesuai dengan fototipe kulit Fitzpatrick. Khususnya, kombinasi asam oleat dan minyak sawit menghasilkan penurunan kandungan melanin yang signifikan dalam perbaikan warna kulit. Hal ini menegaskan potensi formulasi nanoemulsi glabridin dengan kombinasi fase minyak menggunakan asam oleat dan EVOO atau asam oleat dan minyak sawit memiliki efek pencerah kulit yang baik.  Hasil uji efektivitas pencerah kulit nanoemulsi glabridin dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Tekstur kulit sebelum penggunaan (minggu ke 0) dan sesudah penggunaan (minggu ke 4); Nanoemulsi glabridin dengan Oleic acid (F1), Nanoemulsi glabridin dengan kombinasi Oleic acid dan EVOO (F2) dan Nanoemulsi glabridin dengan kombinasi Oleic acid dan Palm oil (F3). (Suryandari et al., 2025)

Penulis: Prof. Dr. Tristiana Erawati M., M.Si., Apt

Informasi detail riset ini dapat diakses pada artikel kami di:

https://dergipark.org.tr/en/download/article-file/5147284

Suryandari D, Erawati T, Rosita N. Effectiveness and Irritability Study of Glabridin Nanoemulsion with Oleic Acid-EVO Oil and Oleic Acid-Palm Oil as an oil phas. J Res Pharm. 2025; 29(5): 1835-1850.