Universitas Airlangga Official Website

Gubes Bidang Ilmu Farmasi Ungkap Dampak dan Solusi Ketidakpatuhan Pengobatan 

Prof Yunita Nita saat menyampaikan orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besar di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C, Kamis (12/2/2026)
Prof Yunita Nita saat menyampaikan orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besar di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C, Kamis (12/2/2026) (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS – Obat menjadi suatu bahan atau panduan untuk pencegahan, penyembuhan, dan meningkatkan kesehatan. Dalam konsumsi obat, masih ada pasien yang tidak mematuhi aturan dan anjuran. Hal tersebut menjadi sorotan Prof Dr apt Yunita Nita SSi MPharm. Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis itu menyampaikan kajiannya tentang kepatuhan terapi sebagai aspek krusial dalam keberhasilan pengobatan. Ia menyampaikan kajian tersebut dalam Prosesi Pengukuhan Guru Besar UNAIR di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR pada Kamis (12/2/2026).

Dalam orasinya, Prof Yunita mengungkapkan permasalahan ketidakpatuhan konsumsi obat bisa terpengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor pasien, terapi, sistem kesehatan, dan kondisi sosio ekonomi. “Ketidakpatuhan bisa bersifat disengaja ketika pasien menolak atau mengubah pengobatan. Dan tidak disengaja, ketika pasien gagal mengikuti pengobatan meski berniat melakukannya,” pungkasnya. 

Prof Yunita Nita saat menerima SK Guru Besar dari rektor (
Prof Yunita Nita saat menerima SK Guru Besar dari rektor (Foto: Humas UNAIR)

Konsekuensi ketidakpatuhan ini tidak bisa pasien anggap remeh. Di mana pada kondisi kronis seperti hipertensi, gula darah tinggi, dan penyakit ginjal dapat menyebabkan peningkatan kerusakan organ. Sedangkan pada kondisi mental, dapat memperburuk gejala dalam menurunkan kualitas hidupnya, meningkatkan angka rawat inap hingga bunuh diri. 

Tak hanya berdampak klinis, Prof Yunita mengungkapkan bahwa ketidakpatuhan terhadap terapi juga menimbulkan beban finansial sistem kesehatan di seluruh dunia. Menjawab tantangan itu, peran apoteker sudah seharusnya bergeser dari sekadar berorientasi pada produk menjadi berorientasi pada perawatan pasien (patient-oriented care). Perubahan paradigma ini terbukti mampu meningkatkan kepatuhan pasien sekaligus memperbaiki luaran klinis dan kualitas hidup. 

“Edukasi pasien adalah salah satu strategi yang banyak terterapkan. Yang melibatkan pemahaman pasien tentang kondisi kesehatan mereka dan pentingnya mematuhi pengobatan, hingga pemberian alat bantu juga sudah banyak dibagikan,” katanya.

Meski demikian, penerapan teknologi dapat menjadi sarana penting untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan. Beberapa inovasi bisa menjadi pilihan. Seperti aplikasi seluler, sistem pemantauan elektronik serta telemonitoring dapat memungkinkan pasien menerima pengingat minum obat, melacak kepatuhan secara real-time, dan memberi kesempatan tenaga kerja untuk melakukan intervensi.

Penulis: Adinda Octavia Setiowati 

Editor: Yulia Rohmawati