UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menghadirkan ruang belajar kreatif bagi mahasiswa melalui gelaran Galaxy Campus, hasil kolaborasi bersama Samsung Indonesia. Mengusung tema Flip Your Story into Extraordinary, kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (20/11/2025) di Auditorium Ternate, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai fakultas dan program studi, kali ini, Galaxy Campus mengundang Jovial Da Lopez, seorang content creator yang telah lama berkecimpung di industri kreatif. Jovi, sapaan akrabnya, membuka sesi dengan membagikan kisah perjalanan kariernya yang justru bermula dari keisengan dan modal nekat.
Berani untuk Memulai
Menurut Jovi, langkah paling penting dalam proses kreatif adalah keberanian untuk memulai. Kendati kerap dianggap sepele, justru hal itulah bagian yang paling sulit dilakukan oleh bagi banyak orang. “You have to be brave enough to do it, to start it. Ini mungkin tips yang sangat simple, tapi sebenarnya sangat sulit. Pasti banyak dari kalian punya sesuatu yang ingin dilakukan, tapi nggak kalian lakukan, karena takut gagal,” ujarnya.

Jovi kemudian menekankan bahwa kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari proses bertumbuh. Alih-alih dihindari, kegagalan justru menjadi sumber pembelajaran paling berharga. “Gagal adalah teman terbaik kita. Setiap kita gagal, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil. Kita jauh lebih sering belajar dari gagal daripada sukses,” imbuhnya.
Dari pengalaman tersebut, Jovi mengajak mahasiswa untuk tidak menunggu ide besar atau konsep kompleks untuk mulai berkarya. Menurutnya, kreativitas justru lahir dari hal-hal kecil, seperti pengalaman sehari-hari atau keresahan yang tiba-tiba terlintas dalam benak. Semua itu dapat menjadi bahan bakar untuk memulai.
Spontanitas dalam Berkarya
Selain keberanian memulai, Jovi menyoroti pentingnya spontanitas dalam proses kreatif. Menurutnya, spontanitas seringkali menjadi elemen yang memperkaya sebuah karya, karena mampu melahirkan ide-ide baru yang tidak terduga. “Ide awal itu biasanya masih draft satu. Spontanitas waktu syuting justru bikin draft itu berkembang jadi draft dua, tiga, dan seterusnya,” tuturnya.
Kendati demikian, Jovi mengingatkan bahwa kreativitas tidak hanya bergantung pada ide dan keberanian, tetapi juga pada kemampuan mengelola waktu. Ia menekankan bahwa kebiasaan berselancar di media sosial tanpa kontrol justru dapat menggerus kesempatan untuk mengembangkan diri. Menurutnya, konsumsi konten berlebihan adalah salah satu aktivitas yang paling banyak menyita waktu tanpa disadari.
“Kalau kalian main media sosial selama enam jam, maka dalam setahun kalian kehilangan 2000 jam. Jika kalian gunakan waktu itu untuk latihan bola, mungkin kalian masuk liga 3. Kalau kalian pakai untuk belajar bahasa asing, mungkin kalian sudah fasih. Tapi kalau kalian cuma nontonin hidup orang lain, apa yang kalian dapat?” imbuhnya.
Pada akhir, Jovi mengajak mahasiswa untuk mulai memikirkan hidup dalam kerangka jangka panjang, bukan sekadar untuk kesenangan sesaat. Dengan memprioritaskan hal-hal penting dan menghargai waktu, mahasiswa dapat membuka peluang yang lebih besar untuk berkembang. “Kalau kalian mulai menghargai diri sendiri, kalian akan mulai mengisi hidup kalian dengan hal-hal yang penting, bukan yang terlihat seolah-olah penting,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





