Universitas Airlangga Official Website

Hadir di UNAIR, KH Anwar Zahid Ungkap Sejarah Dakwah Islam Indonesia yang Damai

KH Anwar Zahid saat menyampaikan tausiyah di UNAIR, Jumat (16/1/2026) (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS – KH Anwar Zahid beberkan tausiyahnya dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Masjid Nuruzzaman Universitas Airlangga (UNAIR) Kampus Dharmawangsa-B pada Jumat (16/1/2026). Dengan dihadiri oleh masyarakat umum, KH Anwar Zahid soroti sejarah masuknya Islam ke Indonesia serta pentingnya dakwah yang moderat dan damai di tengah masyarakat majemuk.

Dalam pemaparannya, KH Anwar Zahid menjelaskan bahwa Islam pertama kali berkembang di kawasan benua Afrika dan Eropa pada abad ke-7. Sementara itu, masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-14 pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Persebaran agama Islam itu tidak dilakukan melalui penaklukan, melainkan melalui gerakan dakwah para ulama yang berpusat di pondok pesantren. “Dari pesantren itulah kemudian lahir yang namanya madrasah. Istilah madrasah sendiri berasal dari bahasa Arab,” ujarnya.

Suasana kegiatan Ngaji Bareng KH Anwar Zahid di Masjid Nuruzzaman, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, Jumat (16/1/2026) (Foto: Humas UNAIR)

Menurutnya, keberhasilan para ulama dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia terlihat dari kondisi masyarakat saat ini mayoritas memeluk agama Islam. Padahal, sebelum dakwah Islam berkembang, Indonesia dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang agama yang beragam.

Ia juga menyebutkan kesuksesan penyebaran agama Islam didapatkan karena ulama menggunakan metode yang sangat jitu. “Terutama metode yang digunakan adalah dengan bijaksana dan nasihat-nasihat yang baik. Kalau terpaksa baru dapat dengan mujadalah tapi harus dengan akhsan yaitu menghasilkan yang terbaik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati dalam menafsirkan konsep jihad. Di era modern saat ini jihad diartikan dengan mempersembahkan hidup sepenuhnya di jalan Allah. “Bukan malah ingin mati dengan alasan dan dalil membela Allah,” tuturnya.

Selain materi keislaman, dai kondang asal Bojonegoro itu menyampaikan gaya ceramah humor dengan mencontohkan pentingnya menyesuaikan gaya berbicara dengan audiens dan tempat. “Berbicara di forum resmi tentu berbeda dengan ceramah di masyarakat umum,” katanya.

Tak hanya itu, KH Anwar Zahid menyinggung fenomena di masyarakat yang lebih menyukai mauidhah hasanah daripada sekadar uswatun hasanah. Menurutnya, banyak orang pandai berpidato, tetapi tidak semuanya mampu menjadi teladan. “Semua acara ada mauidhoh hasanah dari mulai peringatan kelahiran hingga kematian, tapi kenapa tidak bisa menjadi wasilah turunnya hidayah,” singgung KH Anwar Zahid.

Penulis: Adinda Octavia Setiowati

Editor: Yulia Rohmawati