Fibrosis Paru adalah penyakit paru kronis yang ditandai oleh akumulasi berlebihan komponen matriks ekstraseluler, yang mengakibatkan pembentukan jaringan parut (skar) pada parenkim dan alveolus paru sehingga mengganggu fungsi pernapasan. Fibrosis Paru Idiopatik merupakan bentuk fibrosis paru yang paling umum dan penyebabnya tidak diketahui secara pasti, serta prevalensinya meningkat secara global dalam beberapa tahun terakhir. Insiden diperkirakan berkisar 0,57–4,51 kasus per 100.000 populasi di Asia dengan perjalanan penyakit yang tidak dapat diprediksi, rata-rata angka harapan hidup 2–3 tahun dan serangan mendadak dapat terjadi secara signifikan meningkatkan kematian.
Mekanisme fibrosis paru terjadi akibat proses penyembuhan luka yang tidak normal. Berbagai pemicu, yang sering kali bergantung pada jenis penyakit, memicu respons inflamasi dan fibrosis yang berlebihan seperti luka bakar, infeksi, autoimunitas, luka operasi, luka non-operasi, benda asing, dan tumor. Respons inflamasi ini mempengaruhi sel-sel jaringan paru dan sel-sel inflamasi seperti makrofag, melalui sekresi mediator inflamasi, dan faktor pertumbuhan. Makrofag ini melepaskan berbagai mediator inflamasi seperti IL-1, IL-6, TNF-α, TGF-β, MMPs, dan insulin-like growth factor 1/IGF-1) yang mengatur pertumbuhan sel endotel, aktivasi sel fibroblas, pembentukan pembuluh darah baru, dan akumulasi matriks ekstraseluler untuk mendukung pembentukan jaringan parut di dalam paru-paru. Oleh karena itu, dibutuhkan pengobatan yang menargetkan mekanisme tersebut.
Saat ini, hanya tiga obat yang disetujui oleh badan pengawas obat dan makanan amerika atau Food and Drug Administration (FDA) yaitu pirfenidone, nintedanib dan yang terbaru nerandomilast untuk pengobatan fibrosis paru idiopatik. Namun, semua obat tersebut mempunyai efek samping terutama masalah pencernaan seperti mual dan diare. Efek samping lainnya seperti ruam, sensitivitas terhadap cahaya, potensi peningkatan enzim hati, peningkatan risiko kejadian perdarahan dan serangan jantung. Adanya keterbatasan ini, sehingga dibutuhkan obat baru yang efektif dan lebih aman.
Quercetin adalah flavonoid alami yang terdapat pada berbagai jenis buah, sayuran, dan biji-bijian, dengan beragam aktivitas biologis yang bermanfaat, termasuk efek anti-peradangan, antioksidan, regulasi imun, dan lainnya. Manfaat ini menjadi harapan baru dalam pengobatan fibrosis fibrosis paru. Sebelum quercetin dapat diterapkan secara luas sebagai pilihan terapi fibrosis paru, senyawa ini tetap harus melalui tahapan penelitian yang lengkap dimulai dari uji pra-klinis hingga uji klinis untuk memastikan efektivitas dan keamanannya pada manusia.
Penelitian yang kami lakukan dengan menghimpun berbagai penelitian pada tahap uji pra-klinis sebelumnya dan menganalisisnya menunjukkan bahwa quercetin memiliki efek antiinflamasi yang kuat dalam menurunkan kadar TNF-α dan IL-6. Selain menurunkan peradangan, quercetin juga terbukti memengaruhi proses pembentukan jaringan parut diparu-paru, terutama melalui menurunkan kadar hidroksiprolin yang merupakan penanda adanya jaringan parut. Penurunan ini mengindikasikan potensi quercetin dalam memperlambat perkembangan fibrosis paru. Efektivitas ini semakin ditegaskan melalui penilaian skor Ashcroft, sebuah sistem yang menilai tingkat keparahan fibrosis paru menunjukkan penurunan skor Ashcroft secara signifikan menggambarkan perbaikan struktur jaringan paru.
Temuan ini memberikan gambaran komprehensif bahwa quercetin bekerja melalui efek antiperadangan dan perbaikan jaringan yang merupakan dua aspek kunci dalam mekanisme fibrosis paru. Selain itu, Temuan ini membuka peluang penelitian lanjutan pada tahap uji klinis untuk menilai efektivitas dan keamanannya pada manusia. Dengan dukungan studi pre kinis dan klinis, quercetin berpotensi menjadi salah satu strategi pengobatan dalam Fibrosis Paru.
Penulis: Prof. Dr. Gondo Mastutik, drh., M.Kes.
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/effects-of-quercetin-administration-on-tnf-%CE%B1-il-6-hydroxyproline-/





