Universitas Airlangga Official Website

Harumkan Nama UNAIR, Dhiya Bawa Pulang Medali Emas Biologi ONMIPA 2025

Muhamad Dhiya’ Ulhaq bersama delegasi UNAIR saat menerima penghargaan Medali Emas Bidang Biologi pada ONMIPA 2025. (Foto: Dok. Pribadi)
Muhamad Dhiya’ Ulhaq bersama delegasi UNAIR saat menerima penghargaan Medali Emas Bidang Biologi pada ONMIPA 2025. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Airlangga kembali mencetak prestasi membanggakan. Pada Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) 2025, Muhamad Dhiya’ Ulhaq, mahasiswa Kedokteran angkatan 2023, berhasil meraih Medali Emas Bidang Biologi sebagai salah satu delegasi terbaik FK UNAIR.

Dalam proses persiapan, Dhiya dibimbing oleh para pembina ONMIPA. Pembina keseluruhan adalah Dwi Ratri Mitha Isnadina ST MT, sedangkan pembina bidang biologi meliputi Dr Almando Geraldi, Dr Sugiharto, dan Muhammad Hilman Fuadil Amin PhD.

Ketertarikan Dhiya pada biologi sudah muncul sejak SMA. Ia pernah mengikuti OSN Biologi dan mengaku terpesona dengan cara alam bekerja. “Seluruh sistem kehidupan, dari sel sampai biosfer, selalu punya penjelasan masuk akal. Bagian yang paling saya suka tentu sistem organ manusia,” ujarnya.

Perjalanan Menjadi Delegasi dan Strategi Belajar

Penentuan delegasi ONMIPA melalui seleksi internal universitas. Lima peserta terbaik tiap bidang akan mewakili UNAIR di tingkat wilayah hingga nasional. “Universitas memfasilitasi pembinaan bersama dosen. Untuk biologi, kami menjalani lima sesi bimbingan,” kata Dhiya.

Selain itu, UNAIR menyediakan fasilitas seleksi wilayah serta menanggung transportasi dan akomodasi selama kompetisi nasional di Bandung.

Dalam persiapan, Dhiya mengandalkan Campbell Biology dan latihan soal tahun-tahun sebelumnya. “Kami sering diskusi di grup WhatsApp. Bahkan H-1 ujian masih sempat kumpul,” jelasnya.

Tantangan Lomba, Pengumuman, dan Makna Medali Emas

Soal ONMIPA biologi terkenal kompleks, dan dengan waktu yang terbatas. Peserta harus menjawab esai mendalam dalam 100 menit. “Beberapa soal butuh desain percobaan dan ide konservasi. Ruang menulisnya terbatas, jadi harus benar-benar efektif,” tutur Dhiya.

Saat pengumuman, ia tak menyangka meraih emas. “Setelah perunggu dan perak disebut, rasanya udah pasrah. Alhamdulillah ternyata dapat gold,” ucapnya. Ia juga mengenang momen-momen lucu seperti bolpoin rekan yang macet dan rasa pusing karena intensitas berpikir.

Bagi Dhiya, pengalaman bersama delegasi lain sangat berarti. “Rasa kekeluargaan dan saling support itu kerasa banget. Teman saya bilang, that’s more precious than the medal itself,” ungkapnya.

Usai kompetisi, Dhiya berencana mencoba lomba kedokteran dan penelitian, meski saat ini ia ingin fokus menyelesaikan skripsi. Ia menilai ONMIPA memberikan manfaat besar. “ONMIPA itu back to basic. Buat calon nakes, penting punya fondasi kuat di basic science,” jelasnya.

Ia berterima kasih kepada Ditmawa UNAIR, dosen pembimbing, dan seluruh delegasi ONMIPA 2025. Sebagai penutup, ia berpesan, “Jangan kelewatan ikut ONMIPA tahun depan. Pengalamannya seru dan sangat memorable.”

Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto