Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab utama kematian secara global. Pada 2019, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasikan sekitar 10 juta kasus TB dan 1,4 juta kematian akibat TB. Multidrug resistant TB (MDR-TB) atau dikenal dengan TB resistan obat, didefinisikan sebagai resistan terhadap rifampicin dan isoniazid, adalah penyebab dari 25% kematian akibat TB di dunia. Pada tahun 2019 diseluruh dunia, setengah juta orang mengalami resistan rifampicin (RR-TB), dimana 78% merupakan MDR-TB. WHO menetapkan MDR-TB sebagi salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global. Indonesia adalah satu dari 30 negara dengan kasus TB terbanyak. Tahun 2017, insiden MDR-TB di Indonesia mencapai 23.000 kasus dengan estimasi 2,4% kasus terjadi pada pasien baru and 13% kasus terjadi pada pasien yang menjalani pengobatan TB.
Pengobatan MDR-TB yang lama, cukup mahal, berbahaya, dan kurang efektif dapat menurunkan kualitas hidup. Hasil dari pengobatan MDR-TB yang buruk, dan secara umum, tingkat kesuksesan terapetik hanya sekitar 55%. Faktor signifikan yang berpengaruh terhadap kegagalan pengobatan adalah rendahnya obat yang efektif untuk mengendalikan MDR-TB. Beberapa obat TB yang baru untuk pengobatan TB telah dievaluasi lebih lanjut.
Tahun 2016, WHO mempublikasikan panduan yang telah direvisi untuk mengontrol MDR-TB dengan tambahan rejimen terapi di Bangladesh sebagai standar untuk rejimen yang lebih pendek dan tambahan bedaquiline (BDQ) sebagai salah satu komposisi dari rejimen individu. BDQ, diaryquinoline yang menghambat mikrobakteri adenosine trifosfat sintase, adalah obat anti-TB pertama yang disetujui sebagai obat untuk MDR-TB dalam kurun waktu 40 tahun. Beberapa tahun terakhir, banyak penelitian yang telah menilai efikasi dari BDQ.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil pengobatan pasien dengan MDR-TB dengan menggunakan standard shorter regimen (STR Regimen) dibandingkan dengan rejimen individu yang mengandung BDQ di Jawa Timur, Indonesia, wilayah dengan TB yang tinggi.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian retrospektif dengan menggunakan data rekam medis pasien dengan MDR-TB dari rumah sakit dengan pusat pengobatan DR-TB terbesar di Jawa Timur. Populasi penelitian ini merupakan pasien dengan MDR-TB yang memulai pengobatan pada tahun 2016-2018. Kami menggunakan teknik sampling total untuk mengumpulkan data. subjek peneltiian dibagi kedalam 2 kelompok berdasarkan rejimen obat, dengan kelompok pasien yang menerima rejimen STR dan kelompok yang menerima rejimen BDQ.
Subjek penelitian ini sebanyak 99 dari 444 pasien terdaftar tahun 2016–2018. Proporsi keberhasilan secara keseluruhan sebesar 41,4%. Keberhasilan pengobatan lebih banyak pada pasien yang mendapat rejimen individu BDQ dibanding pasien yang mendapat rejimen STR (52,9% vs. 35,4%, RR: 1,496, interval kepercayaan 95% [CI]: 0,948–2,362). Faktor yang mempengaruhi hasil pengobatan adalah status BTA dan kultur sputum.
Tingkat keberhasilan dari rejimen STR dan rejimen individu BDQ dalam penelitian masih dibawah angka nasional dan global karena tingginya tingkat kehilangan tindak lanjut. Tingkat keberhasilan pengobatan lebih tinggi pada rejimen BDQ , meskipun tidak menunjukkan signifikansi secara statistik. Penelitian lebih lanjut diperlukan efek samping, kualitas hidup, dan biaya selama pengobatan.
Penulis: Dr. Soedarsono, dr., Sp.P(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di https://www.ijmyco.org/article.asp?issn=2212-5531;year=2022;volume=11;issue=3;spage=261;epage=267;aulast=Indarti
Hardini Tri Indrati, Erna Kristin, Soedarsono Soedarsono, Dwi Endarti
Treatment Outcomes of Multidrug‑Resistant Tuberculosis Patients in East Java, Indonesia: A Retrospective Cohort Analysis. Int J Mycobacteriol 2022;11:261-7. 10.4103/ijmy.ijmy_86_22.





