Universitas Airlangga Official Website

Hemifasial Spasme akibat Pembuluh Darah Vertebrobasilar yang Tortuous

Foto oleh startsmile.ru

Hemifasial Spasme merupakan kedutan involunter pada otot wajah separuh sisi. Studi prevalensi menyebutkan bahwa hemifasial spasme diderita oleh 14.5 per 100.000 wanita dan 7.4 per 100.000 pria. Hal ini umumnya disebabkan karena adanya iritasi atau sentuhan oleh pembuluh darah di sepanjang perjalanan saraf facialis yang mempersarafi otot wajah. Penyebab lain adalah kerusakan pada saraf facialis akibat proses trauma. Terkadang kita tidak bisa menemukan adanya patologi dari hasil pemeriksaan penunjang yang dilakukan. Walaupun penyakit ini tidak mengancam nyawa, hemifasial spasme akan menyebabkan gangguan dalam menjalankan aktivitas fisik sehari-hari dan berpotensi menyebabkan tekanan psikososial bagi penderitanya. Tatalaksana yang paling utama adalah mencari penyebab dari keluhan tersebut dan memberikan intervensi yang tepat.

Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan oleh Librata et al (2022) membahas kasus Hemifasial spasme akibat pembuluh darah vertebrobasilar yang berkelok-kelok (tortuous). Penderita adalah seorang perempuan berusia 50 tahun yang mengalami kedutan pada wajah sisi kanan sejak 1 tahun yang lalu. Kedutan ini membaik ketika pasien beristirahat namun memberat bila pasien sedang berbicara, mengalami stress, atau kelelahan dalam bekerja. Keluhan penyerta yang didapatkan pada pasien adalah kelemahan pada separuh tubuh sisi kanan sejak 8 bulan yang lalu, serta adanya suara mendenging, pusing berputar, dan gangguan pendengaran sejak 3 bulan yang lalu. Riwayat penyakit dahulu pasien signifikan untuk suatu hipertensi selama 10 tahun yang tidak terkontrol.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya brow lift sign yang merupakan tanda khas pada kelainan hemifasial spasme. Selain itu, didapatkan adanya kelemahan separuh tubuh sisi kanan, fasial palsy kanan, dan lingual palsy kanan. Pemeriksaan penunjang berupa Magnetic Resonance Imaging dan Magnetic Resonance Angiography menunjukkan adanya dolikoektasia pada pembuluh darah di vertebrobasilar junction. Pada pengamatan yang lebih detil, pembuluh darah yang berkelok-kelok dan mengalami pelebaran ini diduga menekan saraf facialis dan saraf vestibulokoklearis didekat tempat keluarnya. Hal ini dapat menjelaskan kedutan pada wajah sekaligus gangguan pendengaran dan pusing berputar yang dialami oleh pasien. Selain itu, didapatkan adanya temuan insidentil berupa cavernoma (pelebaran pembuluh darah abnormal) pada daerah basal ganglia. Hal ini mungkin dapat menjelaskan keluhan kelemahan separuh tubuh sisi kanan yang dialami oleh pasien.

Pasien diterapi dengan menggunakan pendekatan konservatif berupa obat muscle relaxant, antihipertensi, dan vitamin neurotropik. Follow up yang dilakukan selama satu bulan berikutnya menunjukkan perbaikan keluhan kedutan dan pendengaran pasien. Kelemahan separuh tubuh sisi kanan pasien membaik dengan program rehabilitasi medik. Pemeriksaan penunjang berupa pencitraan ulang diagendakan sebagai follow up jangka panjang sekaligus pertimbangan apakah pasien membutuhkan penanganan yang aggresif untuk penyakit tersebut.

Pada kasus hemifasial spasme, pemeriksaan pencitraan pembuluh darah otak memegang peranan penting untuk mencari penyebab potensial dari keluhan yang dialami pasien. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mengontrol keluhan dan mencegah agar pasien tidak mengalami keterbatasan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Penulis : Achmad Firdaus Sani, Dedy Kurniawan, Muhammad Hamdan, Priya Nugraha, Pramitha Nayana Librata

Jurnal

Librata, P.N., Sani, A.F., Kurniawan, D. et al. Hemifacial spasm caused by tortuous vertebrobasilar artery: a case report. Egypt J Neurol Psychiatry Neurosurg 58, 55 (2022).

Link Artikel

https://doi.org/10.1186/s41983-022-00488-4