Bayangkan Anda berjalan di pagi hari, dan setiap langkah terasa seperti jarum yang menusuk lutut. Itulah yang dialami jutaan penderita osteoartritis — penyakit sendi degeneratif yang lambat laun mencuri kemampuan seseorang untuk bergerak bebas. Lutut menjadi kaku, nyeri datang setiap kali beraktivitas, dan rasa lelah mental pun menyertai karena hal-hal kecil seperti menaiki tangga menjadi tantangan besar.
Di dunia medis, osteoartritis bukan penyakit baru. Namun ironisnya, hingga kini belum ada terapi yang benar-benar efektif untuk memulihkan bantalan sendi yang rusak. Salah satu terapi yang paling sering diberikan adalah injeksi asam hialuronat (hyaluronic acid/HA) — cairan pelumas alami yang berfungsi memperbaiki kelenturan sendi. Sayangnya, efeknya sering kali hanya sementara. Setelah beberapa waktu, nyeri kembali datang.
Muncullah gagasan menjanjikan: bagaimana jika kita menambahkan zat lain yang bisa memperkuat dan melindungi jaringan sendi?
Dari Laboratorium ke Harapan Baru
Tim peneliti dari Universitas Airlangga mencoba menjawab pertanyaan itu melalui sebuah inovasi yang diberi nama hidrogel suntik berbasis asam hialuronat dan doksisiklin (HA-DOX).
Doksisiklin dikenal luas sebagai antibiotik, tetapi di balik fungsinya itu, zat ini juga memiliki kemampuan sebagai chondroprotective agent — pelindung jaringan tulang rawan. Dengan menggabungkan HA dan DOX ke dalam bentuk gel lembut yang dapat disuntikkan langsung ke sendi, para peneliti berharap hidrogel ini tak hanya berfungsi sebagai pelumas, tetapi juga sebagai bantalan buatan yang mampu menahan beban dan meredam peradangan.
Proses pembuatannya tidak rumit, tapi membutuhkan ketelitian tinggi. Tim menyiapkan larutan HA dan DOX, lalu memadukannya dengan metode freeze-thawing — proses pembekuan dan pencairan berulang agar terbentuk struktur gel yang stabil tanpa bahan kimia berbahaya. Hasilnya berupa gel yang bening, lembut, dan sedikit kenyal — namun dengan potensi besar bagi dunia ortopedi.
Pengujian Gel
Dalam laboratorium, empat variasi hidrogel diuji. Perbedaannya hanya pada jumlah doksisiklin yang ditambahkan. Masing-masing diuji kekuatan, elastisitas, kemampuan disuntikkan, hingga keamanan terhadap sel tubuh manusia.
Hasilnya mengejutkan. Hidrogel dengan kadar doksisiklin 0,71 miligram ternyata menunjukkan hasil yang sangat baik, berupa kekuatan tarik paling tinggi, yaitu 32,7 MPa, melebihi hidrogel tanpa doksisiklin. Secara sederhana, artinya gel ini lebih kuat dan tidak mudah robek saat menerima tekanan atau beban.
Hasil pemeriksaan mikroskop elektron menunjukkan bahwa permukaan gel ini halus dan padat, tanda bahwa struktur antarpartikelnya menyatu dengan baik. Tak kalah penting, uji sitotoksisitas membuktikan bahwa bahan ini tidak beracun bagi sel hidup yang merupakan kabar gembira sebelum melangkah ke tahap uji hewan dan klinis.
Namun, sains selalu datang bersama catatan. Hidrogel ini memang kuat, tetapi masih punya kelemahan: tingkat degradasinya tinggi. Dalam simulasi cairan tubuh, ia mudah terurai. Ini berarti, dalam tubuh manusia, gel ini mungkin perlu diformulasikan ulang agar tidak cepat hilang sebelum menjalankan tugasnya sebagai bantalan sendi.
Lebih dari Sekadar Inovasi
Apa yang dilakukan tim Universitas Airlangga ini bukan sekadar membuat bahan baru di laboratorium. Mereka sedang membuka jalan bagi paradigma baru dalam terapi osteoartritis: dari perawatan gejala menuju regenerasi jaringan.
Di masa depan, bisa jadi penderita OA tidak lagi bergantung pada obat pereda nyeri atau operasi penggantian sendi. Cukup dengan satu suntikan kecil berisi hidrogel pintar, bantalan sendi yang aus dapat diperkuat kembali, peradangan mereda, dan pasien bisa kembali menapaki hari tanpa rasa sakit.
Memang, perjalanan menuju terapi klinis masih panjang. Namun riset semacam ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir di laboratorium raksasa di luar negeri. Ia bisa muncul di ruang-ruang penelitian universitas di Surabaya, dari tangan anak bangsa yang percaya bahwa sains bisa menjadi jembatan antara rasa sakit dan harapan.
Osteoartritis adalah silent disease yang menghancurkan kemandirian seseorang. Setiap langkah yang nyeri adalah pengingat bahwa tubuh manusia pun punya batas. Tapi riset seperti hidrogel HA-DOX ini memberi pesan berbeda: bahwa batas itu bisa diperluas. Bahwa sains, ketika berpadu dengan empati, mampu menciptakan solusi yang menyentuh kehidupan nyata. Mungkin suatu hari nanti, ketika pasien OA bisa berjalan kembali tanpa nyeri, kita akan mengingat bahwa semua itu dimulai dari sebuah ide sederhana di meja laboratorium — ide tentang gel lembut yang mampu menopang tubuh manusia yang akan membantunya menjalankan kehidupan yang berkualitas.
Oleh: Prihartini Widiyanti
Program Studi S1 dan S2 Teknik Biomedik, Universitas Airlangga





