UNAIR NEWS – Bagi sebagian besar mahasiswa, merancang jenjang karier pascakuliah merupakan tantangan yang tidak mudah. Menjawab kegelisahan itu, Himpunan Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan kegiatan Bincang Alumni 2025. Kegiatan ini terselenggara pada Sabtu (3/5/2025) di Aula Soetandyo, Gedung FISIP Lt 3, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR.
Mengusung tema The Journey of Education and Politics, kegiatan ini bertujuan memberikan sudut pandang berkarier di bidang pendidikan dan politik bagi mahasiswa program studi Sosiologi. Hadir dua pembicara dari alumni program studi Sosiologi UNAIR, yaitu Salsabila Damayanti SSos MSos dan Ajeng Wira Wati SSos MPSDM.
Persiapan Karier
Mengawali sesi pemaparan materi, Salsabila Damayanti SSos MSos menekankan pentingnya mahasiswa untuk mulai mencari dan memanfaatkan peluang sejak duduk di bangku perkuliahan. Menurut Salsa, sapaan akrabnya, berbagai aktivitas seperti bergabung dalam tim riset dosen, mengikuti program magang, aktif di organisasi, serta memanfaatkan kesempatan beasiswa dan perlombaan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesiapan karier.
Salsa juga mengingatkan kepada mahasiswa pentingnya mengerucutkan minat karier sedini mungkin. “Kalian itu harus selektif, jangan cuma coba-coba terus menjadi generalis, nanti portofolio kemana-mana. Awalnya tidak apa-apa kalau mau coba-coba, tetapi ketika kalian sudah menemukan ‘oh ini aku’ ‘oh ini yang bikin aku bahagia’ itu yang difokuskan. Berikan fokus itu untuk menjadi satu koridor lingkungan tertentu, biar kalian dapat informasi yang lebih banyak, peluangnya lebih banyak,” jelasnya.

Sosiologi di Ranah Pendidikan
Lebih lanjut, Salsa menjelaskan bahwa peran sosiologi dalam ranah pendidikan tidak terbatas pada penyampaian teori di ruang kelas semata. Ia menekankan bahwa Sosiologi juga berperan sebagai social engineer, yaitu agen yang merancang, mengarahkan, dan mendorong perubahan sosial secara sadar dan terencana.
“Sosiologi itu bisa jadi pelatih bayangan, karena Sosiologi bisa mengarahkan. Kembali lagi secara science, kalau kalian bisa memahami teori dan metode, hanya melihat fenomena sudah dapat mengetahui konteks yang menyertai hingga langkah yang seharusnya dilakukan ke depan,” ujar Salsa.
Sosiologi di Ranah Politik
Dari perspektif politik, Ajeng Wira Wati SSos MPSDM selaku Ketua Fraksi Komisi D DPRD Kota Surabaya menyoroti peran Sosiologi dalam pembentukan kebijakan. Ajeng menjelaskan bahwa dinamika sosial bersifat dinamis, di mana fakta-fakta dalam realitas sosial terus mengalami perubahan seiring waktu.
Dalam hal ini, pendekatan sosiologis berperan untuk memahami konteks yang berkembang di masyarakat. Upaya ini agar tercipta kebijakan yang relevan, responsif, dan berpihak pada kebutuhan publik. “Adik-adik yang berkuliah di ilmu Sosiologi ini yang bisa menerjemahkan fenomena-fenomena sosial. Tidak hanya menerjemahkan, adik-adik juga berperan untuk mendesain program-program yang cocok untuk memastikan tingkat kesejahteraan membaik,” tuturnya.
Pada akhir, Ajeng berpesan kepada mahasiswa untuk tidak khawatir mengenai jenjang karier lulusan Sosiologi. “Banyak peluang karier, seperti data analis, konsultan, lembaga riset, NGO (Non-Government Organization), anggota partai, PNS (Pegawai Negeri Sipil), jurnalis, dan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah),” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Ragil Kukuh Imanto





