Universitas Airlangga Official Website

Hubungan antara Karakteritik Keluarga dengan Stunting

Hubungan antara Karakteritik Keluarga dengan Stunting
Sumber: Kemenkes RI

Saat ini di Indonesia masih menghadapi masalah stunting yang serius pada anak bawah usia lima tahun (balita).  Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi stunting pada anak balita 30.8% (Kemenkes 2018).  Di Jawa Timur prevalensi stunting anak balita lebih tinggi daripada rata-rata prevalensi di tingkat nasional, yaitu 32.8% (Kemenkes 2018a) dan di Kabupaten Sampang mencapai 47.9% (Kemenkes 2018b).  Prevalensi stunting ini lebih tinggi dari ambang batas WHO  dengan kategori prevalensi sangat tinggi (30%) (de Onis, et. al. 2018).  Prevalensi stunting yang sangat tinggi ini (di atas 30%) sudah berlangsung lebih dari 25 tahun. Prevalensi stunting anak balita lebih tinggi pada keluarga dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan tinggal di pedesaan (Kemenkes 2018a).

Pemerintah memiliki berbagai program gizi, baik yang bersifat spesifik maupun sensitif, untuk mencegah dan menanggulangi masalah stunting pada anak balita seperti promosi ASI eksklusif, pemberian suplemen gizi makro dan mikro, pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil sampai pemberian bantuan pangan non-tunai. Namun hasilnya belum mampu menanggulangi masalah stunting, karena anggaran yang terbatas sehingga cakupan program juga sangat terbatas. Disamping itu, faktor sosial ekonomi dan budaya di suatu daerah juga berperan dalam keragaman masalah stunting antar wilayah dan respon terhadap intervensi program penanggulangan stunting.  Beberapa faktor dari keluarga yang dapat berpengaruh pada konsdisi stunting anak yaitu pendidikan orangtua terutama ibu, kondisi dan kesehatan ibu

Pendidikan Ibu

Menurut Hardinsyah dan Supariasa (2017), pendidikan merupakan satu dari beberapa faktor sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.  Pendidikan orang tua khususnya pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan masalah gizi stunting (Mastamin et al. 2018). Hasil penelitian Madanijah et al. (2005) menunjukkan adanya korelasi antara pendidikan dengan pengetahuan gizi. Pendidikan berperan dalam meningkatkan kualitas hidup seseorang, dengan demikian semakin tinggi pendidikan ibu maka akan semakin baik status gizi anaknya. Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan pengetahuan gizi (Beal et al. 2018) atau perilaku pengasuhan anak (Semba et al. 2008). Tingkat pengetahuan gizi dan pendidikan orang tua yang rendah dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting (Beal et al. 2018).  Studi Semba et al. di Indonesia dan Bangladesh menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua yang tinggi dapat menjadi faktor pendukung untuk menurunkan risiko terjadinya stunting melalui perilaku pengasuhan yang baik. Tingkat pendidikan yang tinggi berhubungan dengan perilaku pengasuhan yang baik, termasuk konsumsi suplemen vitamin A, imunisasi lengkap, sanitasi yang lebih baik, dan penggunaan garam beryodium (Semba et al. 2008).

Kondisi dan status kesehatan Ibu

Gizi dan kesehatan ibu yang buruk berkontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang terhambat. Secara khusus, hal ini mencakup status gizi dan kesehatan ibu sebelum, selama dan setelah kehamilan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan awal anak mulai dari dalam kandungan. Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap terjadinya stunting anak adalah tinggi badan ibu yang rendah (pendek), jarak kelahiran pendek, dan kehamilan remaja yang mengganggu ketersediaan zat gizi untuk janin (adanya persaingan kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan ibu yang sedang berlangsung dengan kebutuhan janin) (WHO 2014). Di antara 54 negara berpenghasilan rendah hingga menengah, tinggi badan ibu berbanding terbalik dengan kematian anak, underweight, dan stunting pada masa bayi dan anak-anak (Ozaltin, Hill, dan Subramanian 2010).

Tinggi badan ibu

Karakteristik ibu dilihat dari tinggi badan ibu serta pengetahuan gizi dan perkembangan anak. Tinggi badan ibu berhubungan positif dengan stunting (HAZ). Semakin pendek ibu maka semakin rendah z score HAZ anak. Rata-rata tinggi badan ibu yang memiliki anak berstatus gizi normal lebih tinggi dibandingkan ibu dengan anak stunting. Hal ini menunjukkan terjadinya malnutrisi antargenerasi (intergenerational undernutrition). Hasil ini sejalan dengan studi lain yang menunjukkan adanya hubungan antara tinggi badan ibu yang pendek dengan kejadian stunting anak

Penulis: Riris Diana Rachmayanti, S.KM., M.Kes.