Menurut World Health Organization (WHO), sebanyak 24% kematian neonatal disebabkan oleh kelahiran bayi prematur sebelum mencapai 37 minggu usia kehamilan. Indonesia menjadi negara kelima dengan jumlah bayi prematur tertinggi di dunia, yaitu sekitar 675.700 bayi. Kelahiran prematur di Indonesia menyebabkan angka kematian tertinggi kedua setelah pneumonia pada anak-anak di bawah lima tahun. Bayi prematur sangat rentan terhadap komplikasi, termasuk gangguan pernafasan, kesulitan dalam makan, regulasi suhu tubuh yang buruk, dan risiko tinggi terhadap infeksi.
Masalah pertumbuhan yang memadai merupakan hal kritis pada bayi prematur. Asupan nutrisi yang tidak tepat pada bayi prematur dapat menyebabkan pembatasan pertumbuhan pascakelahiran (PGR) dan hasil jangka panjang yang buruk, menjadi tantangan bagi neonatolog. Selama masa penyakit kritis, pemberian nutrisi enteral menjadi tidak mungkin dilakukan dan digantikan oleh nutrisi parenteral. Nutrisi parenteral diberikan pada bayi yang tidak dapat menerima nutrisi enteral atau hanya menerima kurang dari 75% dari total kebutuhan protein dan energi. Pemberian nutrisi enteral lebih diutamakan karena nutrisi parenteral dapat menyebabkan komplikasi terkait kateter, infeksi, dan sepsis. Namun, dalam situasi tertentu, pemberian nutrisi parenteral dini dapat menjadi kritikal dan diperlukan sebagai tambahan untuk terapi enteral.
Berbagai penelitian tentang nutrisi enteral dan parenteral pada bayi prematur telah dilakukan dengan hasil akhir yang berbeda-beda. Studi sebelumnya menyatakan bahwa nutrisi enteral berhubungan kuat dengan kejadian NEC (Necrotizing Enterocolitis) pada sekitar 90-95% kasus NEC yang terjadi saat inisiasi/reinisiasi nutrisi enteral atau peningkatan volume nutrisi secara bertahap. Namun, studi yang membandingkan pemberian nutrisi awal dengan pemberian nutrisi lambat menunjukkan bahwa kejadian NEC tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. Rata-rata berat pasien dalam kedua kelompok juga tidak berbeda secara signifikan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara nutrisi enteral dan parenteral dengan berat badan, kejadian NEC, sepsis, dan lama perawatan pada bayi prematur di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Soetomo dari tanggal 1 Januari hingga 30 April 2020 dengan menggunakan teknik simple random sampling. Subyek penelitian adalah bayi yang lahir sebelum mencapai usia kehamilan 37 minggu dan menerima nutrisi enteral dan/atau parenteral selama di rumah sakit. Bayi yang meninggal sebelum pulang, memiliki malformasi kongenital, dan data medis yang tidak lengkap tidak diikutsertakan. Usia kehamilan dihitung berdasarkan LNMP atau skor Ballard. Berat badan bayi diukur dalam waktu 60 menit setelah lahir dengan kalibrasi yang tepat.
Variabel independen adalah jenis nutrisi enteral yang diterima bayi prematur, yaitu ASI, susu formula, atau hanya susu formula, serta penerimaan nutrisi parenteral. Variabel dependen mencakup berat badan, kejadian sepsis, kejadian NEC, dan lama perawatan di rumah sakit. Peningkatan berat badan dicapai ketika mencapai target pertumbuhan 10-15 g/kg/hari. Data karakteristik sampel, seperti jenis kelamin, usia kehamilan, berat lahir, berat badan saat pulang, mode persalinan, dan hasil akhir, dikumpulkan dan dianalisis menggunakan SPSS versi 21. Analisis chi-square dan regresi logistik digunakan untuk mengolah data. Variabel independen dan dependen dengan nilai p kurang dari 0,05 dianggap signifikan. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etika dari Komite Etika Penelitian Kesehatan (KEPK) di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya dengan nomor izin etika 1971/KEPK/IV/2020.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara nutrisi enteral dan kejadian sepsis pada bayi prematur dengan nilai p sebesar 0,03. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa pemberian makanan awal berhubungan dengan kejadian sepsis nosokomial pada bayi berat lahir rendah. Nutrisi enteral, terutama ASI, juga memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan fungsi saluran pencernaan dan hasil neurodevelopmental pada bayi prematur.
Nutrisi parenteral juga berpengaruh signifikan terhadap berat badan pada bayi prematur. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah bayi prematur mengalami pertumbuhan berat yang buruk selama menerima nutrisi parenteral. Meskipun penting untuk menghindari laju pertumbuhan yang berlebihan, nutrisi yang cukup juga sangat penting untuk perkembangan otak yang baik.
Meskipun nutrisi berperan penting, ada faktor-faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kejadian sepsis pada bayi prematur, seperti faktor risiko ibu dan bayi. Lama tinggal di rumah sakit juga dapat menjadi indikator tingkat keparahan pada bayi prematur.
Meskipun penelitian ini memiliki kelebihan dengan data sampel kasus yang besar, ada beberapa keterbatasan, seperti desain penelitian yang cross-sectional yang tidak menganalisis faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dengan desain studi yang berbeda dan kondisi pasien yang seragam diperlukan untuk memperkuat temuan ini.
Perlu dipertimbangkan variabel lain yang dapat memengaruhi berat badan, kejadian NEC, sepsis, dan lama rawat inap pada bayi prematur seperti penggunaan ventilator, CPAP, HFN, akses intravena sentral, dan faktor lainnya. Penelitian lebih lanjut dengan metode penelitian prospektif diperlukan untuk menentukan apakah hasil tersebut hanya dipengaruhi oleh nutrisi enteral dan parenteral.
Penulis: Dr. Martono Tri Utomo, dr., Sp.A (K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://www.phcogj.com/article/1965
Aldila Pratiwi, Martono Tri Utomo, Risa Etika, Kartika Darma Handayani, Dina Angelika (2023). The Relationship between Enteral and Parenteral Nutrition on Body Weight, Incidence of NEC, Sepsis and Length of Care for Preterm Infant in Dr. Soetomo General Hospital Surabaya. Pharmacogn J. 2023; 15(1): 86-89.





