Universitas Airlangga Official Website

Hubungan Status Sosial Ekonomi Tinggi dengan Keparahan Stroke pada Pasien Stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta Indonesia

Foto by Siloam Hospital

Stroke merupakan penyakit yang menyebabkan kecacatan yang parah sampai kematian serta memberikan dampak negatif pada status ekonomi, sosial, dan emosional sehingga menjadikannya sebagai suatu masalah kesehatan bagi masyarakat di seluruh dunia. Secara global pada tahun 2019, kejadian stroke mencapai 12,2 juta kasus dengan prevalensi sebesar 101 juta dan 6,55 juta kematian yang diakibatkan oleh stroke. Dari tahun 1990 hingga 2019, jumlah kejadian stroke, prevalensi, dan kematian akibat stroke cenderung meningkat. Stroke adalah penyakit kedua yang menjadi penyebab utama kematian di dunia (11,6% dari total kematian) dan urutan ketiga penyebab kecacatan sebesar 5,7%. Masalah yang sama ditemukan di Indonesia, dimana penyakit stroke merupakan penyebab utama kematian penduduk di atas usia 5 tahun yaitu sebesar 15,4% dari semua penyebab kematian. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin telah melebar dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, yang telah berkontribusi pada ketidaksetaraan status sosial ekonomi di Indonesia serta kemungkinan ketidaksetaraan layanan kesehatan. Dengan demikian, peneliti percaya bahwa ada hubungan potensial antara status sosial ekonomi dan stroke.

Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Preventive Medicine Reports. Penelitian tersebut bertujuan untuk memeriksa hubungan antara status sosial ekonomi dan tingkat keparahan stroke pada populasi Indonesia. Pengetahuan tentang karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi keparahan stroke akan membantu dalam pengembangan strategi untuk mengurangi faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi.

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan pasien dengan diagnosa stroke di Rumah Sakit National Brain Centre (NBC), Jakarta, tahun 2020. Peneliti mengumpulkan data dari rekam medis pasien rawat inap yang memenuhi kriteria seleksi. Dengan kriteria inklusi sebagai berikut: pasien stroke berusia ≥18 tahun; rawat inap di Rumah Sakit NBC; didiagnosis berdasarkan kriteria Trial of Org 10,172 in Acute Stroke Treatment (TOAST) dan dikonfirmasi dengan computed tomography (CT Scan) atau magnetic resonance imaging (MRI). Pasien dengan data status sosial ekonomi (SES) yang tidak lengkap, dikeluarkan dari daftar analisis.

Sebanyak 3.561 pasien dilakukan skrining dan kelengkapan data. Total terdapat 2.443 (67,5%) pasien dengan data lengkap untuk semua kriteria. Sebanyak 1.509 pasien mengalami stroke ringan (42%) dengan rata-rata usia 59 tahun, dan mayoritas pasien (63,6%) adalah perempuan. Kelompok stroke didominasi pasien yang sudah menikah (88%), sedang bekerja (49,7%), berpendidikan tinggi (33,5%), berstatus bukan perokok (82,7%), membayar perawatan sendiri atau dengan asuransi swasta (9,7%) dan dirawat di rumah sakit pada tingkat kelas I atau VIP (43.7%).

Pengaruh SES terhadap risiko keparahan stroke menjadi perhatian di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, khususnya Indonesia. Temuan ini menunjukkan bahwa pasien dengan SES yang tinggi memiliki peluang lebih rendah untuk terkena stroke sedang hingga berat. Pasien yang saat ini bekerja dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi menunjukkan nilai risiko yang lebih rendah dibandingkan mereka yang menganggur atau memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Di Indonesia masih terdapat kesenjangan yang sangat besar dalam hal tingkat pendidikan yang juga berdampak pada tingkat keparahan stroke. Seperti yang kita ketahui bahwa istilah “Waktu adalah Otak” sangat penting dalam mengobati stroke, banyak pasien datang terlambat ke rumah sakit dan tidak dalam masa perawatan akut.

Pengetahuan tentang karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi keparahan stroke di Indonesia harus didalami sehingga dapat dilakukan manajemen pecegahan stroke dan pengelolaan faktor risiko SES untuk stroke sedang hingga berat di masa mendatang. Menurut peneliti, penelitian ini adalah yang pertama menilai hubungan antara faktor SES dan keparahan stroke di Indonesia, harapannya perlu ada penelitian lain yang berfokus pada peningkatan SES sebagai manjemen stroke utamanya di Indonesia.

Penulis: Muhammad Miftahussurur

Artikel dapat diakses pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10025083/pdf/main.pdf