UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di ajang bergengsi duta pariwisata Surabaya, yakni Cak dan Ning Surabaya 2025. Kali ini, prestasi tersebut datang dari Nadia Fairuz Zahra, mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR, yang berhasil meraih gelar Wakil III Ning Surabaya 2025.
Bagi Nadia, pencapaian ini bukan sekadar gelar di atas panggung, melainkan simbol keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Ia mengaku, keputusan mengikuti pemilihan Cak dan Ning Surabaya merupakan langkah besar yang bahkan tidak pernah terpikir sebelumnya.
“Dulu aku orangnya takut banget nyobain hal baru. Tapi waktu itu aku merasa harus berubah, harus keluar dari zona nyaman. Aku pengen belajar dari orang lain dan dari pengalaman baru,” ungkapnya.
Peran Ning Surabaya
Kini, setelah resmi menjadi bagian dari Paguyuban Cak dan Ning Surabaya, Nadia memiliki beragam tugas yang berkaitan dengan kegiatan pemerintahan dan sosial kota. Nadia menjelaskan bahwa peran Cak dan Ning tidak hanya sebagai duta wisata, tetapi juga menjadi representasi wajah generasi muda Surabaya di berbagai kesempatan.
“Tugasnya banyak, mulai dari menerima tamu undangan sampai ikut acara besar seperti Hari Kemerdekaan atau event kota lainnya. Tapi yang paling penting itu, gimana kita bisa jadi representasi anak muda Surabaya yang sopan, ramah, dan positif,” terangnya.
Menghubungkan Surabaya dan Jepang
Lebih lanjut, sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang, Nadia juga menemukan cara unik untuk menghubungkan dua budaya yang ia minati. Ia melihat bahwa Jepang dan Surabaya memiliki kemiripan nilai, terutama dalam semangat gotong royong dan penghormatan terhadap tradisi. “Ternyata beberapa bangunan dan tradisi di Surabaya punya pengaruh Jepang juga. Dari situ aku belajar kalau budaya itu bisa saling melengkapi,” ujarnya.
Nadia berharap, kemampuan bahasanya dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan Surabaya lebih luas. Ia berencana merancang kegiatan yang menggabungkan minatnya pada bahasa, komunikasi, dan budaya. Menurutnya, program tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya Surabaya dengan cara yang kreatif dan relevan bagi anak muda.
“Banyak yang bilang bahasa Jepang itu susah, tapi aku pengen nunjukin kalau bahasa bisa jadi cara untuk memperkenalkan Surabaya ke lebih banyak orang. Programnya masih dalam tahap pembicaraan, tapi pengennya bikin program yang nyambung sama bidang linguistik dan komunikasi,” tuturnya.
Peran Anak Muda
Nadia menilai bahwa tantangan generasi muda saat ini bukan lagi soal mengenal budaya, melainkan bagaimana memperkenalkannya dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Kita bisa ngenalin budaya Surabaya lewat cara-cara yang modern, misalnya bikin konten, kolaborasi sama komunitas, atau ikut event budaya lokal. Anak muda sekarang harus kreatif, tapi tetap tahu akar budayanya. Jadi bukan menghilangkan, tapi mengembangkan dengan cara baru,” tambahnya.
Pada akhir, Nadia menyampaikan agar generasi muda agar berani mencoba hal baru dan tidak takut gagal. “Jangan takut mencoba hal baru, karena keberanian itu penting. Kalau gagal, nggak apa-apa. Coba lagi aja. Belajar nggak harus dari buku. Dari orang lain juga bisa. Setiap orang punya potensi, asal mau terbuka dan terus ingin tahu,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





