Universitas Airlangga Official Website

Identifikasi Faktor-faktor Penyebab Stunting

Identifikasi Faktor-faktor Penyebab Stunting
Sumber: Haibunda

Menurut World Health Organization stunting merupakan gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Adapun menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, stunting adalah masalah Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kondisi ini ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi (SD). Lebih lanjut lagi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2020 menetapkan standar antropometri anak yaitu membagi tinggi badan menurut umur ke dalam empat kategori, yaitu sangat pendek (severely stunted) bila nilai Z-score kurang dari -3SD, pendek (stunted) bila Z score antara -3SD sampai dengan <-2SD, nilai normal bila Z-score antara -2SD hingga +3SD, dan tinggi bila Z-score lebih dari +3SD.

Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, seperti Indonesia, stunting merupakan masalah serius dengan prevalensi tinggi. Angka kejadian stunting pada anak usia lima tahun dan balita di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 24,4%, sementara itu di Jawa Tengah, angka stunting pada balita sebesar 20,9%, sedangkan di Semarang mencapai 21,3%. Menurut data Pemantauan Status Gizi (PSG) balita, jumlah balita stunting di Semarang meningkat setiap tahunnya. Awalnya pada tahun 2015 sebesar 14,4%; pada tahun 2016 persentasenya meningkat menjadi 16,5%, pada tahun 2017 prevalensi stunting balita di Semarang meningkat menjadi 21%. Hingga tahun 2021 angka stunting di Semarang sebesar 21,3%.

Pemerintah Indonesia memiliki target penurunan angka stunting rata-rata per tahun sebesar 2,7% sehingga pada tahun 2024 prevalensi stunting hanya sebesar 14%. Akan tetapi, walaupun Pemerintah Kota Semarang telah berupaya menanggulangi stunting antara lain dengan melakukan intervensi 1000 Hari Pertama Kehidupan dan pemberian makanan tambahan untuk pemulihan bagi balita yang mengalami stunting, namun angka stunting di Semarang masih belum menunjukkan perbaikan yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh faktor penyebab stunting pada balita di Kota Semarang khususnya di Puskesmas Lamper Tengah.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari hasil observasi dan wawancara kepada ibu yang memiliki anak stunting. Informan yang dipilih sebanyak 15 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil Hasil penelitian terkait faktor penyebab stunting ini dikelompokkan  menjadi faktor ibu, anak dan lingkungan. Adapun faktor ibu meliputi status gizi ibu hamil, genetik, stres selama kehamilan dan sosio-ekonomi. Sementara itu faktor anak meliputi berat badan saat lahir, infeksi berulang, kesulitan makan dan konsumsi mikronutrien. Faktor lingkungan meliputi kondisi rumah, paparan terhadap asap rokok, akses air bersih.

Faktor Ibu

Aspek status gizi ibu hamil pada informan penelitian ini menunjukkan bahwa lima dari limabelas informan terdeteksi kurang gizi sementara sepuluh dari lima belas ibu hamil tidak mengkonsumsi susu fortifikasi untuk ibu hamil. Bagi ibu hamil, gizi sangat penting untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan gizi ibu dan janin dalam kandungan (Kementerian Kesehatan, 2019).

Aspek genetik, pada penelitian ini sembilan dari limabelas informan memiliki tinggi badan di bawah 155cm. Tinggi badan ibu merupakan faktor genetik yang mempengaruhi pertumbuhan fisik anak (Zhang et al., 2015; Wu et al., 2015). Penelitian lain menunjukkan bahwa ibu bertubuh pendek dengan tinggi badan di bawah 145 cm memiliki risiko dua kali lebih besar untuk melahirkan anak stunting dan tiga kali lebih besar untuk melahirkan anak stunting berat dibandingkan ibu bertubuh tinggi dengan tinggi badan 155 cm ke atas (Khatun et al., 2019).

Aspek stress saat hamil, enam dari lima belas informan merasa stres selama kehamilan. Informan menyampaikan penyebab stres yang dialaminya, antara lain kesulitan makan saat hamil, usia lanjut, faktor ekonomi, muntah dengan frekuensi tinggi, takut melahirkan karena kehamilan pertama, malu karena hamil di usia sangat muda, dan sedih karena masalah keluarga. Informan yang mengalami stres cenderung melahirkan prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Liou dkk pada tahun 2016 yang membuktikan bahwa stres mental yang dialami ibu hamil dapat menyebabkan kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah.

Aspek sosio ekonomi, semua responden termasuk dalam kelompok berpenghasilan rendah, dan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni dan Fitrayuna pada tahun 2020 menegaskan bahwa tingkat sosial ekonomi memengaruhi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi balita; selain itu, kondisi sosial ekonomi juga memengaruhi pemilihan makanan tambahan dan waktu makan serta kebiasaan hidup sehat. Lebih lanjut, jumlah anggota rumah tangga informan bervariasi dari yang paling kecil, yaitu tiga orang, hingga yang paling besar, yaitu sepuluh orang anggota keluarga. Balita yang tinggal di rumah tangga yang padat berisiko mengalami stunting (Beal et al., 2018).

Faktor anak

Berat badan bayi saat lahir, dua balita stunting dalam penelitian ini memiliki berat badan lahir rendah masing-masing 2,1 kg dan 2,20 kg. Berat badan rendah merupakan faktor anak yang erat kaitannya dengan faktor ibu yaitu ibu hamil dengan gizi buruk, ibu melahirkan prematur, usia ibu hamil, stres pada ibu hamil, dan faktor sosial ekonomi (Kaur et al., 2019; UNICEF-WHO, 2019).

Aspek infeksi berulang, satu balita terdeteksi menderita TBC sementara 14 balita lainnya memiliki Riwayat batuk, pilek demam dan diare. Bayi dan anak-anak di bawah umur lima tahun merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit, karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbangun sempurna sehingga infeksi yang terjadi dalam tubuh anak balita dapat mempengaruhi status gizinya. Oleh karena itu, mencegah terjadinya penyakit pada anak balita dapat mengurangi masalah gizi yang ditunjukkan dengan tingginya prevalensi stunting (BAPPENAS, 2007).

Aspek anak sulit makan, sepuluh dari limabelas balita mengalami sulit makan. Alasan sulit makannya antara lain,  tidak suka makan, makan jumlah sedikti, pilih-pilih makanan, dan makan tergantung suasana hati. Ketidakcukupan jumlah dan jenis makanan pada balita menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan gizi balita yang lambat laun menyebabkan kondisi kurang gizi kronik dan menyebabkan stunting.

Aspek defisensi mikronutrien, empat informan menyatakan bahwa anak-anak mereka tidak mengonsumsi suplemen mikronutrien. Alasan tidak mengonsumsi antara lain: anak tidak mau mengonsumsi mikronutrien; informan tidak mampu membeli suplemen mikronutrien; informan menganggap makan saja sudah cukup dan mendapat saran dari dokter yang menjelaskan bahwa vitamin merupakan doping yang tidak alami. Padahal, intervensi suplementasi dan fortifikasi telah berhasil mengurangi beban malnutrisi mikronutrien pada anak-anak (Tam et al., 2020). Studi serupa juga menemukan bahwa suplementasi bubuk mikronutrien merupakan intervensi yang hemat biaya untuk meningkatkan status mikronutrien, kadar hemoglobin, dan parameter pertumbuhan pada anak-anak di bawah lima tahun (Khan et al., 2023).

Faktor Lingkungan

Adapun faktor lingkungan pada penelitian ini erat kaitannya dengan kondisi rumah yang tidak sehat seperti lembab dan minimnya paparan sinar matahari serta letak rumah seluruh informan berada di pinggir sungai yang cukup kumuh dan kotor menunjukkan susahnya akses air bersih. Sanitasi dan higiene yang rendah akan memicu gangguan pencernaan yang berdampak pada nutrisi untuk tumbuh kembang dan menjadi daya tahan tubuh dalam menghadapi infeksi sehingga menyebabkan kasus stunting pada balita (Schmidt et al., 2014). Terlebih sebagian besar informan menyatakan sebagian keluarganya merupakan perokok aktif. Paparan asap rokok dapat mempengaruhi status gizi anak. Prediktor terjadinya stunting pada balita adalah ayah yang merokok. Paparan asap rokok lebih dari tiga jam sehari meningkatkan risiko anak mengalami stunting (Muchlis et al., 2023).

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 3 kategori faktor yang menyebabkan stunting yaitu faktor ibu, faktor anak, dan faktor lingkungan. Faktor ibu meliputi aspek adalah asupan gizi yang tidak memadai, faktor genetik, stres selama kehamilan, dan kemiskinan. Sedangkan faktor pada anak adalah berat badan lahir rendah, infeksi berulang, anak sulit makan, dan defisiensi mikronutrien. Faktor lingkungan adalah lingkungan rumah yang tercemar asap rokok dan kondisi rumah yang tidak sehat, sanitasi yang buruk, dan terbatasnya akses terhadap air bersih sehingga menyebabkan infeksi berulang.

Penulis: apt. Gusti Noorrizka Veronika Achamd, S.Si., M.Sc., apt. Ana Yuda, S.Si., M.Farm., Firdha Fauzia

Link: https://pharmacyeducation.fip.org/pharmacyeducation/article/view/2815/1870

Baca juga: Kekuatan Genggam Tangan Anak Stunting vs. Non-Stunting