Sepsis merupakan infeksi yang sangat mengancam jiwa, karena disfungsi organ yang disebabkan oleh disfungsi respon imun terhadap infeksi, dengan angka kejadian 4-50%, yang terjadi dalam 48-72 jam setelah penanganan medis. Pada sepsis, terjadi efek kompleks dari inflamasi sistemik, disfungsi imunitas dan disfungsi organ yang bersifat multiple (banyak) di dalam tubuh. Secara patofisiologis, terjadi aktivasi kaskade respon pro dan anti-inflamasi yang dikontrol oleh sitokin, mediator dan komponen seluler sistem imun, diantaranya IL-6, yang menyebabkan kerusakan sel dan kegagalan organ, yang secara signifikan berhubungan dengan prognosis pasien dengan syok septik, dan dapat dijadikan salah satu biomarker yang dapat diandalkan, bahkan dapat digunakan sebagai stratifikasi resiko kematian, dengan nilai sensitifitas dan spesifisitas yang beragam.
Penelitian yang dilakukan di Pediatric Intensive Care Unit, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya yang melibatkan 19 pasien anak dengan syok septik menunjukkan kadar IL-6 yang secara signifikan di hari pertama dirawat lebih tinggi pada anak yang meninggal (10 orang) dibandingkan anak-anak yang berhasil bertahan hidup (9 orang), yaitu 1.041,02 (29,3-94.132,1) vs. 56,33 (17,4-382,2) pg/ml, p=0.002, dan hal ini berhubungan dengan nilai Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 score atau PELOD 2. Nilai PELOD 2 secara signifikan ditemukan lebih tinggi pada penderita syok septik anak yang meninggal dibandingkan penderita yang berhasil hidup (8.70 ± 2.4 vs. 7 (5 – 8), p=0.04) IL-6 merupakan sitokin yang dikeluarkan oleh monosit dan makrofag aktif, dengan konsentrasi normal kurang dari 5 pg/ml. Nilai pada sepsis diketahui lebih tinggi dari nilai rujukan < 5 pg/ml, dan bahkan ratusan kali lipat pada pasien syok septik yang meninggal, yang berhubungan dengan perkembangan syok dan kematian, karenanya IL-6 digunakan sebagai faktor prognostik luaran pasien syok septik, terutama di hari pertama, karena pengukuran selama jam ke- nol dan jam ke-24, IL-6 ditemukan lebih tinggi secara signifikan dibandingkan penderita Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS). Setelahnya, jam ke-72 tidak lagi berbeda bermakna, yang sejalan dalam penemuan ini, dimana pengukuran jam ke-48 dan jam ke-72, tidak lagi berbeda bermakna. Marker lainnya, seperti CRP dan PCT hanya dapat membedakan sepsis, syok septik dan SIRS. Namun tidak bisa dijadikan rujukan prognostic terhadap luaran pasien.
IL-6 memiliki Area Under Curve (AUC) pada Receiver Operating Characteristic (ROC) sebesar 0.811 (95% CI 0.609-1.0; p=0.022). Nilai cut-off IL-6 sebesar 593.35 pg/ml IL-6 pada hari pertama menunjukkan nilai sensitivits 60% dan spesifisitas 100%. Sementara nilai skor PELOD 2 memiliki AUC 0.767 (p=0.05), nilai cut-off 8.5 memiliki sensitivitas 50% dan spesifisitas 100%. Nilai PELOD 2 sudah banyak digunakan untuk mengukur disfungsi organ pada pasien dewasa yang sakit parah, namun banyak diteliti secara luas di populasi anak. Pada dewasa, nilai SOFA berhubungan dengan tingginya kadar IL-6. Diketahui bahwa sindrom disfungsi organ multiple atau Multiple Organ Dysfunction Syndromes (MODS), memberikan pengaruh bermakna pada tingkat survival pasien sepsis, karena berhubungan dengan kebutuhan dukungan ventilator dan lama rawat inap di Intensive Care Unit. Selain IL-6, sitokin lain seperti IL-8 dan IL-10 berhubungan dengan disfungsi organ yang tidak baik, yang bersifat persisten dan parah. Strategi yang harus dilakukan oleh dokter untuk dapat meningkatkan kesempatan hidup pasien syok septi antara lain memperbaiki resusitasi, kontrol infeksi yang tepat, dan dukungan terapi medis yang lebih baik, dan lebih jauh, diperlukan team work yang baik untuk memberikan layanan optimum.
Penulis: Prof. Soetjipto, dr., MS, Ph.D.





