Penyakit Refluks Gastroesofageal (GERD) merupakan kelainan yang ditandai dengan adanya refluks berulang dari isi lambung ke dalam lumen esofagus, yang mengakibatkan gejala dan/atau komplikasi yang mengganggu. Prevalensi GERD secara global diperkirakan sebesar 13,9% pada populasi umum, dengan peningkatan signifikan sebesar 77,5% selama tiga dekade terakhir. Meskipun prevalensi GERD pada populasi Asia lebih rendah daripada rata-rata global (2,5–7,8%), sejumlah penelitian menunjukkan bahwa insidennya terus meningkat setiap tahun. Pasien GERD dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan temuan endoskopi: esofagitis erosif (EE), yang ditandai dengan erosi mukosa esofagus, dan penyakit refluks non-erosif (NERD), yang tidak memiliki bukti kerusakan mukosa esofagus.
Penyebab kerusakan mukosa esofagus pada GERD secara umum dikaitkan dengan cedera yang diakibatkan oleh paparan asam secara langsung. Akan tetapi, baru-baru ini, sebuah penelitian menentang paradigma tesebut dengan menunjukkan bahwa infiltrasi sel imun mendahului keberadaan erosi mukosa. Paparan asam merangsang sel mukosa untuk memproduksi sitokin proinflamasi, sehingga memicu migrasi sel imun. Peran potensial sitokin proinflamasi pada GERD telah diteliti dalam penelitian sebelumnya. Akan tetapi, tidak banyak penelitian yang meneliti hubungan antara sitokin IL-8, TNF-α, dan IL-17 dengan GERD. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Divisi Gastroentero-Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan sebuah penelitian untuk menyelidiki hubungan antara kadar IL-8, TNF-α, dan IL-17 dalam serum terhadap keberadaan esofagitis erosif, serta persepsi gejala yang terkait dengan GERD. Hasil penelitian tersebut berhasil dipublikasikan pada jurnal terindeks Scopus Quartile 1 yaitu Journal of Clinical Medicine.
Penelitian melibatkan sebanyak 65 subjek yang menunjukkan gejala GERD. Berdasarkan temuan endoskopi bagian atas, subjek dikategorikan menjadi dua kelompok: (1) esofagitis erosif (EE LA grade B-D) dan (2) esofagitis non-erosif (EE LA grade A normal). Persepsi gejala dinilai melalui kuesioner GERD (GERD-Q) dan skala frekuensi untuk gejala GERD (FSSG). Metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) digunakan untuk menganalisis kadar serum IL-8, TNF-α, dan IL-17. Analisis hubungan secara statistik antara kadar sitokin dengan tingkat keparahan gejala yang berbeda dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa kadar IL-8 serum rata-rata adalah secara signifikan lebih tinggi pada kelompok esofagitis erosif dibandingkan dengan kelompok esofagitis non-erosif (20,2 (IQR 16,9–32,2) vs. 17,7 (IQR 15,2–19,6), p <0,05). Studi ini menemukan hubungan yang signifikan antara kadar IL-8 dan adanya gejala globus (median kadar IL8 46.961 (38.622–92.644) pada subjek dengan globus vs. 18,06 (16,68–20,49) pada subjek tanpa globus; p <0,05). Begitu pula dengan kadar TNF-α yang berhubungan dengan frekuensi gejala regurgitasi (indeks H = 10,748; dr = 3; p <0,05). Para peneliti juga mengamati korelasi yang signifikan antara tingkat IL-17 dan frekuensi mulas dan gejala awal gejala kenyang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa IL-8 mungkin berperan dalam perkembangan erosi mukosa pada GERD. IL-8, TNF-α, dan IL-17 mungkin terlibat dalam perkembangan gejala globus, frekuensi regurgitasi, dan frekuensi nyeri ulu hati dan cepat kenyang. Berbagai fenotipe gejala yang diamati pada pasien dengan gejala GERD mungkin dimediasi oleh profil sitokin proinflamasi yang berbeda.
Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Link: https://doi.org/10.3390/jcm13195832
Baca juga: Prevalensi pada Ulkus dan Perforasi Lambung Duodenum





