Universitas Airlangga Official Website

Imunostimulan pada Pakan Udang

Ilustrasi Udang (Source: Republika)

Udang merupakan komoditas perikanan yang potensial dan banyak diminati konsumen dalam negeri serta luar negeri. Potensi udang cukup besar dengan nilai jual yang tinggi dan peluang pasar sangat baik, karena permintaan udang tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. 

Dalam melakukan usaha budidaya udang vaname, munculnya serangan penyakit merupakan salah satu faktor pembatas yang dapat menyebabkan kegagalan saat panen. Serangan penyakit umumnya terjadi secara mendadak dan dapat meningkatkan mortalitas pada udang. Penyakit dapat disebabkan oleh serangan bakteri, virus, jamur maupun protozoa pathogen. Adanya penyakit pada udang ini tentu saja dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup besar, juga dapat mengakibatkan berkurangnya stok produksi udang.

Udang sebagai biota akuatik memiliki sistem imun/pertahanan tubuh yang berbeda dengan ikan. Udang tidak memiliki respon imun spesifik, sehingga bergantung penuh pada respon imun non-spesifik. Akibat tidak memiliki respon imun spesifik tersebut, sistem imun udang tidak dapat ‘mengingat’ benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini berbeda dengan ikan yang memiliki respon imun spesifik. Sehingga ketika terjadi infeksi, tubuh ikan masih dapat ‘mengenali’ benda asing tersebut dan memunculkan adanya sistem imun untuk melawan benda asing yang masuk ke tubuh udang.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah adanya penyakit pada udang adalah melalui pemberian imunostimulan. Pemberian imunostimulan umumnya diberikan melalui campuran pada pakan. Imunostimulan yang masuk ke dalam tubuh udang akan merangsang hemosit untuk melakukan degranulasi dan akan melepaskan protein seperti binding molecule (ßGlucan-binding protein / ß G-BP, Lipopolysaccharide-binding protein / LPS-BP, Peptidoglycan-binding protein / PG-BP) coagulation factors (transglutaminase), prophenoloxidase related factors (prophenoloxidase activating enzyme, prophenoloxidase, peroxinectin), protein inhibitors (α2 macroglobulin) dan anti microbial substances (penaedin, lectin). Beberapa protein yang dilepas ini akan digunakan untuk kepentingan respon imun. Seperti phagocytosis, encapsulation, melanization, coagulation, aktivitas enzim prophenoloxidase, opsonisasi, aktivasi antimikroba serta proses aktivitas humoral dan seluler lain.

Penulis : Putri Desi Wulan Sari, S.Pi., M.Si

Link article : DOI 10.1088/1755-1315/1273/1/012046