Universitas Airlangga Official Website

Inkubasi Penetasan Telur Penyu oleh Dosen FKH SIKIA UNAIR

Penyampaian materi kelas akuatik oleh Aditya Yudhana drh MSi pada Sabtu (18/6/2022) melalui Zoom Meeting.

UNAIR NEWS – Penyu merupakan salah satu hewan langka yang dilindungi keberadaannya. Perburuan dan pencurian telur penyu serta pencemaran pantai merupakan beberapa faktor yang menyebabkan menurun drastisnya populasi hewan langka ini.

Mengenai hal tersebut, Divisi Wild and Domestic Animal Care (WDAC) yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HMKH) SIKIA UNAIR Banyuwangi menggelar Webinar Kelas Akuatik dengan tajuk Upaya Pelestarian Penyu melalui Konservasi dalam Bidang Veteriner. Acara tersebut dihadiri oleh Aditya Yudhana drh MSi selaku pembicara sekaligus dosen Prodi Kedokteran Hewan SIKIA UNAIR.

Aditya memaparkan terdapat tujuh spesies penyu yang tersebar di seluruh dunia. Enam spesies penyu ditemukan di Indonesia dan empat spesies di antaranya dapat ditemukan di Banyuwangi. Dibutuhkan tempat untuk kawasan konservasi dimana penyu-penyu tersebut melakukan pendaratan untuk melakukan penetasan telurnya.

Aditya juga menjelaskan bahwa banyak kemungkinan yang dapat terjadi apabila penyu mendarat di kawasan bukan konservasi, sehingga ditemukan oleh orang yang kurang memahami keadaan penyu ketika mendarat. Hal itulah yang menjadi concern lembaga-lembaga konservasi yang berwenang. Terdapat beberapa lembaga yang telah memprediksi dan menemukan lokasi penyu bertelur dengan melihat kriteria pantai tempat penyu mendarat.

“Pantai dengan dataran tinggi merupakan lokasi tepat yang sering dikunjungi penyu ketika bertelur,” ujarnya.

Penyampaian materi kelas akuatik oleh Aditya Yudhana drh MSi pada Sabtu (18/6/2022) melalui Zoom Meeting.

Bersamaan dengan itu, dosen spesialis parasitologi tersebut menyampaikan bahwa telur penyu memiliki masa inkubasi setelah ditinggalkan indukan kembali ke lautan. Inkubasi inilah yang menjadi penentu terbentuknya individu baru dari telur-telur tersebut. Ia menjelaskan, terdapat dua jenis inkubasi yang dapat dilakukan ketika telur dikeluarkan.

Inkubasi Alami

Inkubasi alami merupakan proses penetasan telur yang dibiarkan pada sarang alami, yaitu membiarkan telur dari indukan di alam lepas ketika mereka mendarat. Dalam prosesnya, inkubasi ini memberikan insting alami kepada tukik (penyu kecil) sehingga angka penetasan relatif lebih tinggi. Namun, apabila indukan memilih tempat yang kurang tepat dalam proses inkubasi maka telur penyu rawan tergerus air pasang.

Inkubasi Semi Alami

Inkubasi ini merupakan cara penetasan telur dengan diberikannya fasilitas mumpuni yang didalamnya masih terdapat proses alami menggunakan pasir pantai tempat penyu tersebut bertelur. Dengan diberikannya fasilitas, predator akan sulit untuk menembus kawasan tersebut sehingga nominal penetasan akan lebih tinggi.

Dalam inkubasi ini, Aditya mengatakan bahwa suhu dari sarang telur dapat dikondisikan, sehingga tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Namun, dibutuhkan biaya yang memadai untuk memenuhi fasilitas yang dibutuhkan ketika inkubasi semi alami digunakan.

Di akhir, Aditya menyampaikan bahwa digunakannya inkubasi alami atau inkubasi semi alami jawabannya tergantung kondisi lokasi yang menjadi tempat sarang penyu bertelur. Sebab, masing-masing lokasi memiliki ciri khas berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan.

“Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun, alangkah baiknya menggunakan inkubasi yang memberikan angka penetasan lebih tinggi sesuai dengan lokasi pantai tempat penyu tersebut mendarat,” ujarnya. (*)

Penulis : Azka Fauziya

Editor : Binti Q. Masruroh