Universitas Airlangga Official Website

Inovasi Alat Deteksi Kanker Hati Antar Mahasiswa UNAIR Raih Juara Nasional

Bayu Cahyo Bintoro (kanan) dan Delsyad Muhammad Koosha Alzer (kiri) raih Juara 1 Scientific Essay pada 11th Hypothalamus Competition. (Foto : istimewa).
Bayu Cahyo Bintoro (kanan) dan Delsyad Muhammad Koosha Alzer (kiri) raih Juara 1 Scientific Essay pada 11th Hypothalamus Competition. (Foto : istimewa).

UNAIR NEWS – Inovasi skrining dini kanker hati mengantarkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) meraih prestasi di tingkat nasional. Tim UNAIR  berhasil menyabet Juara 1 Scientific Essay pada 11th Hypothalamus Competition yang berlangsung pada (10 – 11/7/2026) di Universitas Jember. 

Tim tersebut terdiri atas Bayu Cahyo Bintoro dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Delsyad Muhammad Koosha Alzer dari Fakultas Farmasi (FF). Mereka mengusung inovasi alat deteksi kanker hati, konsep perangkat skrining untuk membantu menilai risiko awal kanker hati pada kelompok berisiko tinggi.

Bayu menjelaskan bahwa inovasi ini  merupakan konsep sistem pemeriksaan berbasis point-of-care yang mengintegrasikan sampel darah ujung jari, perangkat pembaca portabel, dan analisis digital untuk menghasilkan kategori risiko. “Kanker hati sering berkembang tanpa gejala yang khas pada tahap awal sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika sudah memasuki stadium lanjut. Karena itu, kami ingin menawarkan pendekatan skrining yang lebih praktis dan aksesnya mudah, terutama di layanan kesehatan primer,” ujarnya.

Delsyad juga menambahkan bahwa inovasi itu bertujuan untuk membantu tenaga kesehatan menentukan tindak lanjut pasien. Konsep itu disusun berdasarkan kajian literatur ilmiah yang menghasilkan rancangan prototipe, alur penggunaan, serta tahapan implementasi.

“Secara teoritis, integrasi komponen dalam alat tersebut  berpotensi membantu stratifikasi risiko kanker hati secara lebih praktis. Namun, inovasi ini masih berada pada tahap pengembangan konsep sehingga tetap memerlukan validasi laboratorium, klinis, dan pemenuhan regulasi sebelum dapat diterapkan secara luas,” jelasnya.

Melalui inovasi tersebut, harapannya dapat memperluas akses skrining awal kanker hati, khususnya bagi individu dengan penyakit hati kronis. Dengan deteksi yang lebih cepat, peluang terapi pada stadium awal harapannya semakin meningkat sekaligus membantu mengurangi keterlambatan diagnosis.

Di akhir, Bayu dan Delsyad berpesan agar mahasiswa tidak ragu mengikuti kompetisi karya ilmiah. “Mulailah dari permasalahan yang nyata, kemudian tawarkan solusi yang memiliki dasar ilmiah, kebaruan, dan peluang implementasi. Jangan takut memulai karena kualitas karya akan terus berkembang melalui proses belajar, diskusi, dan revisi,” pungkasnya.

Penulis : Maulya Afifah Zahra 

Editor : Khefti Al Mawalia