Universitas Airlangga Official Website

Inovasi Beras Analog Besutan Mahasiswa UNAIR Juarai Pendanaan Bisnis Young Entrepreneurs

Tim UNAIR saat meraih Juara I Pendanaan Bisnis Young Entrepreneurs (28/11/2025) (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Perencanaan bisnis seringkali terhenti hanya sebatas perencanaan saja tanpa diwujudkan dalam implementasi nyata. Namun, berbeda dengan tiga mahasiswa UNAIR yang berusaha dalam mewujudkan perencanaan bisnisnya. Langkah tersebut mereka buktikan melalui prestasinya menjadi Juara I Pendanaan Bisnis Young Entrepreneurs.

Kompetisi tersebut terselenggara oleh International Franchise and Business Exchange (IFBEX), berkolaborasi dengan Himpunan Pengusaha Kemitraan & Peluang Usaha Indonesia (HIKPI). Muhammad Kevin Mulki Hakim (FTMM), Irvan Betrando Banjarnahor (FEB), dan Mohammad Pradana Setyawan (FV) meraih penghargaan tersebut pada Jumat (28/11/2025) di Surabaya Convention Center (SCC).

Ide yang Kevin dan tim usung tertuang dalam GARNUSA. GARNUSA adalah beras analog cepat saji berbahan dasar umbi garut yang kaya akan nano kalsium dari tulang ikan. Ide tersebut lengkap dengan teknologi self-heating, sehingga memungkinkan konsumsi tanpa perlu alat masak. 

“GARNUSA kami kembangkan sebagai solusi pangan yang sehat, praktis, dan bergizi tinggi. Produk tersebut cocok untuk masyarakat dengan mobilitas tinggi, kondisi darurat, maupun untuk memenuhi kebutuhan gizi harian,” tuturnya.

Ide tersebut merupakan ide yang juga mereka bawakan ketika mengikuti Kompetisi Mahasiswa Nasional Bidang Ilmu Bisnis, Manajemen, dan Keuangan (KBMK) 2025. Kemenangan di KBMK menjadi bukti bahwa konsep GARNUSA layak dan memiliki nilai inovasi. “Namun, untuk mewujudkannya menjadi produk nyata, kami membutuhkan pendanaan dan dukungan pengembangan yang lebih serius,” imbuhnya.

Enggan menyia-nyiakan peluang, tim Kevin mengikuti kompetisi tersebut karena merasa bahwa ini adalah kesempatan yang sangat tepat. “Kompetisi bisnis yang sekaligus merupakan program inkubasi oleh IFBEX ini mempertemukan tim kami dengan investor. Kami melihat ini sebagai kesempatan terbaik untuk membawa GARNUSA dari tahap konsep menuju tahap komersialisasi,” jelasnya.

Dalam proses penyusunan proposal, Kevin bersama tim mendapatkan pendampingan dari Dr Tri Siwi Agustina SE MSi. Selaku dosen pembimbing, ia membantu memastikan pengembangan bisnis berjalan tepat dan terarah. Kompetisi tersebut dinilai oleh beberapa juri yang merupakan dari tokoh penting. Seperti Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan, serta Direktur Pengembangan Akses Pendanaan, Pembiayaan, dan Investasi Kementerian Ekonomi Kreatif. 

Saat berkompetisi, Kevin bersama tim merasakan atmosfer persaingan yang tinggi saat bertemu dengan beberapa peserta yang telah memperoleh pendanaan dari lembaga lain. “Pengalaman paling menarik dari kompetisi ini adalah suasananya yang benar-benar menyerupai dunia bisnis nyata. Tidak ada guidebook khusus, sehingga kami harus menyesuaikan diri layaknya berhadapan langsung dengan investor profesional,” ungkapnya.

Kevin dan timnya berharap agar GARNUSA dapat terus berkembang hingga siap diproduksi secara masal dan memasuki pasar secara nyata. Sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, sekaligus memberikan dampak positif bagi kesehatan, lingkungan, dan pemanfaatan limbah tulang ikan sebagai sumber nilai ekonomis.

Penulis: Uswatun Khasanah 

Editor: Yulia Rohmawati