UNAIR NEWS – Maraknya praktik greenwashing di Indonesia mendorong tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) untuk menghadirkan solusi inovatif berbasis teknologi. Solusi tersebut adalah RasioGreen: Inovasi ESG-Finance Intelligence Platform dengan Blockchain Transparency Score dan AI EduBot untuk Akselerasi Pencapaian SDGs 2030.
Melalui gagasan tersebut, tim yang beranggotakan dua mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), yakni Sagita Audiyah Az-Zahroh dan Muhammad Naufal Fauza, berhasil meraih Juara 3 III Lomba Esai Gebyar Akuntansi UNS 2025 yang terselenggara pada Sabtu (4/10/2025).
Naufal menjelaskan bahwa ide ini lahir dari keprihatinan terhadap maraknya praktik greenwashing di Indonesia. Berdasarkan hasil kajiannya dari beberapa jurnal dan laporan riset, banyak perusahaan memanfaatkan citra ramah lingkungan hanya sebagai strategi pemasaran tanpa bukti konkret. “Selain itu, banyak investor yang masih kurang memperhatikan faktor ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam proses investasi,” ungkapnya.
Praktik Greenwashing
Secara umum, greenwashing adalah upaya manipulatif di mana suatu organisasi membangun citra seolah-olah produk atau aktivitasnya ramah lingkungan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi perkembangan investasi berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai jawaban atas isu tersebut, mahasiswa UNAIR mengembangkan aplikasi berbasis blockchain dan kecerdasan buatan (AI) yang berfungsi membantu investor menganalisis laporan keuangan sekaligus menilai penerapan ESG perusahaan. “Aplikasi kami tidak hanya menampilkan data, tetapi juga melibatkan ahli yang akan memvalidasi kegiatan perusahaan yang terdaftar. Sehingga hasilnya lebih akurat dan transparan,” jelas Naufal.
Lebih lanjut, aplikasi tersebut lengkap fitur untuk menganalisis rasio keuangan, menginterpretasikan hasilnya secara otomatis, serta menelusuri berita-berita terkini terkait perusahaan yang bersangkutan. Dengan adanya teknologi blockchain, potensi manipulasi data juga dapat diminimalisir.
Menurut Naufal, inovasi ini berangkat dari keresahan terhadap rendahnya kepedulian terhadap ESG. Ia berharap aplikasi ini dapat menjadi sarana edukatif sekaligus praktis bagi investor pemula agar lebih selektif dalam menanamkan modal.
“Jika investor mengabaikan faktor ESG, sama saja kita sedang merusak masa depan keberlanjutan. Kami ingin aplikasi ini menjadi langkah kecil untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” pungkasnya.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rochmawati





