Universitas Airlangga Official Website

Kadar Ferritin pada Anak Stunted terkait Jenis Kelamin

Sumber: Kumparan
Ilustrasi anak-anak (Sumber: Kumparan)

Stunted merupakan bentuk undernutrition paling umum yang banyak dialami oleh anak usia dibawah 5 tahun, akibat dari malnutrisi kronis yang masih menjadi masalah nutrisi dunia, teritama negara berkembang, termasuk Indonesia. Malnutrisi kronis diawali dengan terjadinya weight faltering, dan berakibat terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, baik bersifat jangka panjang maupun jangka pendek, yang berupa penurunan IQ sebesar 2.71 poin, dan berpengaruh besar terhadap prestasi akademik di masa depan, yang merupakan “momok” terhadap perkembangan peradaban. Terjadinya malnutrisi biasanya disertai dengan defisiensi nutrien, terutama mikronutrien esensial seperti besi dan seng.
Besi merupakan mikronutrien esensial yang berperan dalam berbagai proses metabolik tubuh, termasuk transport oksigen, sintesis DNA, dan transport electron. Dalam tubuh, zat besi dibutuhkan untuk memproduksi sel darah merah dan berkontribusi bagi sistem imun, yaitu sebagai reaktan mediator fase akut, selain terlibat dalam produksi energi seluler dalam bentuk NADPH dan flavoprotein. Dengan demikian, zat besi berperan dalam proliferasi sel dan pertumbuhan, yaitu dengan memperbaiki oksigenasi, kadar Hb dan memproduksi growth factor.
Masalah kesehehatan seperti anemia defisiensi besi (ADB) merupakan hal yang umum terjadi pada populasi anak stunted, disebabkan oleh kurangnya cadangan zat besi. Penurunan cadangan zat besi menyebabkan terjadinya hipoksia di sel-sel hepatik sehingga menghambat sintesis protein seperti IGF-1. Serum ferritin merupakan bentuk zat besi yang berupa cadangan, dan menjadi marker yang sensitif dalam mendeteksi adanya penurunan zat besi. Dalam rangka mengetahui adanya growth faltering, stunted dan kadar ferritin pada anak dibawah usia 2 tahun.
Studi dilakukan di Surabaya, yang berupa penelitian analitik observasi dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder dari rekam medik anak di bawah 2 tahun di RS. Husada Utama, yang melibatkan 116 anak baduta, dengan porsi laki-laki vs. perempuan 50% vs. 50%. Prevalensi undernutrisi masih tinggi dalam penelitian ini, sekitar 44.83%. Anak laki-laki memiliki berat badan lebih besar daripada perempuan, namun sayangnya, kejadian stunted juga tinggi pada anak laki-laki, dibanding perempuan (44.83% vs. 25.86%). Perbedaan berat antara anak laki-laki dan perempuan disebabkan adanya masa lemak (fat mass) yang lebih besar pada perempuan namun fat-free mass lebih rendah dibanding laki-laki. Juga adanya perbedaan percepatan kenaikan berat badan antara laki-laki dan perempuan pada periode pertama kehidupan, dan hal ini menempatkan anak laki-laki berisiko mengalami obesitas. Tingginya angka stunted pada penelitian juga ditemukan di penelitian lain, yang menyebutkan jenis kelamin laki-laki merupakan faktor risiko stunted pada anak, dengan OR=2.62-kali. Hal ini mejadikan laki-laki, secara umum, rentan mengalami gangguan nutrisi, yaitu underweight, stunted dan wasted. Perbedaan pertumbuhan antara laki-laki dan perempuan sudah terlihat sejak pertumbuhan in-utero, dan menempatkan laki-laki sebagai populasi yang rentan mengalami gangguan nutrisi dibanding perempuan, sehingga perempuan lebih mampu menghadapi kondisi yang sulit saat lahir. Karena perbedaan fisiologis ini, bayi laki-laki rapuh terhadap serangan infeksi akibat respon imun yang rendah dan produksi antibodi yang lambat.
Perbedaan bermakna juga terlihat pada kadar ferritin (29.69 + 24.80 μg/dl vs. 53.38 + 95.36 μg/dl, p = 0.011). studi juga menunjukkan adanya korelasi yang lemah antara rendahnya kadar ferritin dengan jenis kelamin laki-laki (r = -0.184, p = 0.048), dan studi juga menyimpulkan bahwa laki-laki memiliki risiko mengalami kadar ferritin yang rendah sebesar 2.45-kali dibanding perempuan pada populasi baduta, namun rendahnya kadar ferritin tidak berhubungan dengan jenis kelamin laki-laki.

Penulis: Nur Aisiyah Widjaja