Universitas Airlangga Official Website

Kadar Procalcitonin pada Pasien Sepsis dan Syok Sepsia

Foto by Orami

Meskipun standar emas diagnosis sepsis adalah ditemukannya mikroorganisme pada kultur darah, tetapi kultur darah mempunyai beberapa kelemahan. Kultur darah memerlukan waktu agar bakteri penyebab dapat diisolasi, angka positif pada kultur darah juga rendah, hanya sekitar 30%. Terapi sedini mungkin sangat diperlukan untuk pasien sepsis, bahkan pada subset sepsis yaitu syok septis yang sangat tinggi angka mortalitasnya. Terapi antibiotik tidak boleh diberikan begitu saja tanpa dasar yang kuat.

Tahun 1994 European Society of Intensive Care Medicine membuat konsensus tentang skor Sequential (Sepsis-related) Organ Failure Assessment (SOFA). Terjadi disfungsi organ jika skor SOFA ≥ 2. Skor SOFA kemudian dibuat lebih sederhana menjadi qSOFA untuk pasien-pasien diluar ICU. qSOFA tidak memerlukan pemeriksaan laboratoris dan dapat disimpulkan dengan cepat.

Penelitian ini ingin memberikan evidence-based berapa kadar prokalsitonin (PCT) untuk pasien sepsis. Sehingga pemberian antibiotik pada pasien sepsis mempunyai dasar yang lebih kuat. Prokalsitonin dipilih sebagai biomarker pada penelitian ini, karena PCT lebih sensitif dibanding biomarker lainnya seperti C-reactive protein (CRP). Prokalsitonin dapat dideteksi setelah 2 jam stimulasi dan mencapai kadar puncak 12-48 jam, sedang CRP baru terdeteksi setelah 6 jam stimulasi.

Prokalsitonin adalah hormon yang meningkat terutama dengan adanya infeksi bakteri. Prokalsitonin bermanfaat memonitor perjalanan klinis pasien, dan menentukan kapan terapi antibiotik harus dihentikan. Pada keadaan fisiologis, transkripsi gen Calc-1 hanya terbatas di kelenjar tiroid, sehingga kadar PCT pada individu sehat sangat rendah. Pada sepsis bakterial, ekspresi gen Calc-1 meningkat, dan PCT juga diproduksi oleh sel adiposit yang banyak terdapat di paru-paru, hati, ginjal dan usus. Yang menarik, induksi PCT dapat ditekan dengan adanya IFN-γ yang berperan pada infeksi virus. Diduga inilah penyebabnya mengapa kadar PCT rendah pada infeksi virus. Pada infeksi virus, kadar PCT berkisar 0.05 ng/mL sampai dengan 1 ng/mL.

Data penelitian diambil dari rekam medis pasien sepsis dan syok sepsis di RSUD Dr. Soetomo dari tahun 2017 sampai dengan 2019. Data pasien non-sepsis digunakan sebagai kontrol. Kriteria inklusi adalah rekam medis pasien sepsis, syok sepsis dan non-sepsis yang lengkap mempunyai data PCT, kultur darah, SOFA atau qSOFA. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan gagal ginjal kronik (GGK), karena pasien GGK mempunyai kadar PCT yang sangat meningkat karena tingginya sitokin proinflamatori. Prokalsitonin tetap dapat digunakan sebagai biomarker infeksi pada pasien GGK dengan meningkatkan nilai cut-off. Kelemahan penelitian ini adalah sedikitnya data PCT dari kasus per kasus. Akan lebih bagus dapat menyimpulkan cut-off PCT pada kasus per kasus, seperti pasien sepsis dengan pneumonia, pasien sepsis dengan infeksi sistem saraf pusat, pasien sepsis dengan GGK dan lain-lain.

Sesuai dengan pustaka, bakteri yang dapat diisolasi pada penelitian ini dari kultur darah pasien hanya 26%. Sebanyak 74% sepsis didiagnosis berdasarkan kriteria klinis. Sebanyak 50% sepsis disebabkan bakteri Gram positif, 40% bakteri Gram negatif dan 10% infeksi campuran.

Cut-off PCT pada penelitian ini ditentukan dengan analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pasien sepsis mempunyai kadar PCT ≥ 0.6 ng/mL, dan pasien syok septik mempunyai kadar PCT ≥ 10 ng/mL.  Mayoritas pasien sepsis di RSUD Dr. Soetomo adalah pasien dengan pneumonia (55,17%), kemudian diikuti oleh pasien dengan fokal infeksi traktus urinarius (20,69%). Pasien dengan pneumonia mempunyai Odds Ratio (OR) 6,182 untuk mengalami syok sepsis, atau dengan kata lain pasien dengan pneumonia mempunyai risiko 6x lipat mengalami syok sepsis. Komorbid terbanyak adalah pasien dengan Diabetes Mellitus (DM). Pasien dengan DM mempunyai OR 3,056, atau dengan kata lain, pasien dengan DM mempunyai risiko 3x lipat untuk terjadi syok sepsis.

Penulis :  Shinta Lungit Ambaringrum, Yetti Hernaningsih, Edward Kusuma, Hartono Kahar

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Link artikel: https://www.indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/1827