UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang berasal dari program studi Ilmu Ekonomi (IE) berhasil meraih juara 3 dalam ajang Conference Call For Paper pada International Development Student Conference (IDSC) 2025. Babak final kompetisi tersebut terselenggara pada 7-8 November 2025 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR.
Tim tersebut beranggotakan Mesakh Roi Pratama Ginsu, Fachry Haris, dan Laura Amaria Dwiputri Julianti. Ketiganya merupakan mahasiswa ilmu ekonomi angkatan 2024.
Teliti Hipotesis Pollution Haven
Mesakh menjelaskan motivasi utama timnya adalah untuk mempraktikkan ilmu ekonomi secara nyata. “Untuk menjadi seorang ekonom, kami butuh keahlian menulis dan menggunakan tools. Lomba ini adalah ‘laboratorium mainan’ kami untuk bereksperimen dan belajar dari orang lain,” ujarnya.
Dalam paper mereka, tim ini mengangkat ide utama untuk membandingkan dampak kepemilikan domestik dan kepemilikan asing terhadap intensitas emisi CO2 di perusahaan-perusahaan Indonesia.
“Kami menemukan bahwa investor asing cenderung meningkatkan emisi di Indonesia dari pada pemilik domestik,” ungkap Mesakh. Temuan ini, lanjutnya, berkaitan dengan Pollution Haven Hypothesis, yaitu ketika pihak luar melihat Indonesia sebagai negara yang bisa dieksploitasi tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan.
Tantangan Sebagai Mahasiswa Semester Tiga
Sebagai mahasiswa yang baru menginjak semester tiga, Mesakh mengakui proses persiapan membutuhkan usaha ekstra. Timnya baru saja mendapatkan mata kuliah Ekonometrika 1, sehingga banyak proses yang harus dijalani secara learning by doing.
Tantangan terbesar pertama adalah pengolahan data. Tim ini harus membersihkan data mikro dari Survei Industri Besar dan Sedang (BPS) yang sampelnya mencapai puluhan ribu. “Yang menarik adalah prosesnya. Kami harus learning by doing, mengombinasikan ilmu di kelas dengan praktik, dan ternyata masih ada yang ‘bolong-bolong’ ilmunya sehingga kami harus belajar lagi,” katanya.
Tantangan terbesar kedua adalah bentroknya jadwal final dengan tiga kegiatan berbeda. “Laura tabrakan dengan konferensi Economics Summit, Fari tabrakan dengan persiapan KSPM, dan saya tabrakan dengan kompetisi policy paper lain,” jelas Mesakh. Tim mengatasinya dengan mengorbankan waktu istirahat dan tidur larut malam.
Kunci Kemenangan dan Pesan
Mesakh menyebut faktor kunci kemenangan timnya adalah pendekatan kuantitatif yang kuat. Ia mengoreksi bahwa panelis berasal dari internal UNAIR, bukan internasional.
“Orang-orang ekonomi itu kan ‘seksi’ banget ya kalau penelitiannya kuantitatif. Kami mencoba untuk banyak menggunakan angka dan equation, dan kami memakai data mikro yang hitungannya ‘mewah’,” paparnya.
Terakhir, ia berpesan kepada mahasiswa baru (maba) agar tidak takut untuk memulai. Ia menganalogikan kompetisi paper berbeda dengan business case. Kompetisi paper membutuhkan kesabaran dan prasyarat keilmuan yang kompleks seperti ekonometrika.
“Tanggal mainnya (paper) itu memang lama dan harus sabar. Apa yang bisa dimaksimalkan sekarang, maksimalkan dulu aja,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Abid Zhahiruddin
Editor: Khefti Al Mawalia





