Diketahui bahwa penggunaan hewan coba pada uji pengembangan obat baru, dirasakan sangat dibatasi. Hal tersebut diakibatkan perkembangan zaman dimana masyarakat dunia mulai menghormati hak hidup semua hewan termasuk hewan coba. Substitusi penggunaan hewan untuk media uji coba obat, tahun demi tahun semakin ketat dan sebagai terobosa tersebut harus dilakukan pengembangan media uji lain. Prinsip penghindaran penggunaan hewan sebagai media uji merupakan semangat pelestarian kehidupan hewan yaitu replacement, reduction dan refinement. Dengan tiga point tersebut pada akhirnya perketatatan penggunaan hewan sebagai media uji, mengakibatkan pengembangan alternatif media uji selain menggunakan hewan.
Kultur sel sebagai media uji dirasakan sangat efisien dan murah, sehingga mampu sebagai media uji untuk menggantikan hewan percobaan. Kultur sel sebagai media uji sangat sesuai untuk sarana media pengujian obat-obat yang digunakaan keperluan topikal. Salahsatu bahan obat yang kelak dikembangkan untuk sediaan topikal adalah komponen dari tanaman obat. Komponen tersebut dapat berupa ekstrak kasar seperti unsur enzim, alkaloid tanaman dsb. Komponen-komponen tersebut kelak akan dikembangkan sebagai bahan aktif obat secara semi-sintetis ataupun sintetis.
Tanaman obat Benalu duku (BD) (Dendropthoe pentandra L. Miq) diketahui mulai diteliti sejak tahun 1990 oleh kelompok peneliti tanaman obat di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Dalam perjalanaan waktu ternyata, tanaman tersebut mengandung unsur-unsur bioaktif dengan peranannya sebagai anti-kanker, anti-mikroba dan yang terbaru adalah mampu bertindak sebagai peningkat nafsu birahi hewan berkelamin jantan (androgenik stimulate substances). Perkembangan lebihlanjut, diketahui bahwa senyawa BD berpotensi dikembangkan sebagai anti-virus dan digunakan secara topikal. Potensi tersebut sangat sesuai diuji menggunakan kultur sel jaringan dengan prinsip pembacaan yaitu kultur sel jaringan akan tetap hidup bila tidak bersifat toksik, sedangkan fenomena sebaliknya akan terjadi bila BD bersifat toksik. Prinsip tersebut belum pernah dikembangkan sebagai upaya substitusi hewan coba khususnya untuk media uji tanaman obat dengan target bioaktif penggunaan topikal.
Kajian Flavonoid Benalu Duku
Flavonoid BD, ternyata diteliti lebihlanjut oleh peneliti dari Perguruan Tinggi Lain di Indonesia, dengan luaran yaitu bersifat sebagai anti mikroba. Pengembangan penelitian tersebut pada umumnya menggunakan uji pada media udang sebagai substitusi penggunaan hewan coba, Strategi tersebut dirasakan sangat tidak sesuai manakala pengembahan bioaktif tersebut tidak digunakan untuk jenis hewan udang. Semenjak tahun 2019, strategi tersebut dicoba dirubah dengan menggunakan kultur sel. Strategi tersebut berhasil dilakukan setelah dilakukan penelitian mendalam mengenai komposisi senyawa pelarut BD yang tidak mengakibatkan kematian kultur jaringan. Dengan demikian harus dapat dipastikan bila akan dilakukan uji toksisitas yaitu kematian kultur jaringan hanya dapat dilakukan semata-mata akibat paparan flavonoid BD.
Flavonoid BD, ternyata hanya dapat di ambil bila daun dari tanaman tersebut dilarutkan pada senyawa polar dan salahsatunya adalah methanol. Unsur flavonoid yang diperoleh dari berbagai tanaman BD, sangat potensial untuk tanaman BD yang tumbuh di wilayah Sumatera Selatan. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat tanah / lahan pertanian di wilayah tersebut masih belum banyak terkontaminasi dengan kimia industri. Pengembangan unsur flavonoid dari BD, ternyata mampu dijadikan senyawa semi-sintesis dalam bentuk serat dan bermanfaat untuk masyarakat penderita penyakit sembelit. Potensi tersebut belum banyak dikembangkan dan kelak akan bermanfaat pula untuk penderita yang mengalami kelainan dalam lambung mereka.
Kajian Batang Daun Benalu Duku
Batang daun BD, ternyata berpotensi sebagai unsur pengusir nyamuk dengan kandungan utama yaitu suatu getah dan larut dalam pelarut polar. Getah tersebut dapat diformulasikan untuk sediaan semprot, sehingga dapat digunakan untuk pengobatan lokal. Penyakit lokal yang dimaksud dapat berupa jamur dan virus pada wilayah kulit. Getah dari daun BD, tersebut sangat susai bila dilakukan uji menggunakan media kultur jaringan di bandiingkan dengan penggunaan media uji hewan percobaan. Dengan demikian getah yang didapat dapat dikemas untuk obat-obat topikal. Namun terdapat kelemahan untuk media uji bila menggunakan getah sebagai bahan uji. Getah yang didapat bersifat alkalis, sehingga mempengaruhi medium kultur jaringan. Pada kondisi demikian maka pengaturan keseimbangan asam-baSa dari getah sebelum digunakan sebagi target uji, harus selalu dilakukan. Getah dari daun BD, tidak banyak didapat sehingga membutuhkan batang pohon dalam jumlah besar untuk mendapatkan unsur getah tersebut.
Media uji kultur jaringan sel sangat sesuai untuk media uji pada senyawa-senyawa calon obat yang kelak berkhasiat untuk pengobatan topikal. Pada akhirnya penggunaan hewan coba untuk media uji obat, dapat diperkecil jumlah dan penggunaannya sehingga upaya pelestarian lingkungan termasuk hewan dapat dilakukan disetiap wilayah. L
Penulis: Mochamad Lazuardi,
Sumber Rujukan: Toxicity test of flavonoid compounds from the leaves of mistletoe using in vitro culture cell models. Lazuardi et al., 2022.http://veterinaryworld.org.





