Tepat di tanggal 28 Oktober 1982 saya bersama 34 pemuda -pemudi utusan delegasi Indonesia pada Program Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang (Southeast Asean Youth Exchange Program) di siang hari digeladak Kapal Jepang Nippon Maru – ditengah glombang samudra Pasifik menuju negara Jepang mengadakan upacara Hari Sumpah Pemuda. Upara yang khidmat dan mengharukan itu dipimpin National Youth Leader atau Pimpinan Delegasi Indonesia Bapak Soehardo dari Yogyakarta (beliau sekarang berusia sudah diatas 92 tahun an). Selain beliau, delegasi Indonesia juga dipimpin Deddy Mulyana, pemuda dari Bandung (sekarang Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Pajajaran) dan Daisy Laureen Lapian, pemudi dari Pangkalan Undara Halim Perdanakusuma – putri seorang Kolonel AU (sekarang menjadi istri Prof. Deddy Mulyana).
Seperti biasanya para pemuda-pemudi yang berasal dari seluruh propinsi di Indonesia ini menangis terharu ketika melantunkan lagu kebangsaan Indonesia dan mengucapkan kalimat-kalimat Sumpah Pemuda. Acara itu disaksikan pemuda-pemudi dari negara-negara anggota ASEAN dan Jepang dan mereka sangat kagum dengan pelaksanaan upacara yang sakral itu.
Sumpah Pemuda merupakan tekad dari para pemuda-pemudi Indonesia disaat suasana penjajahan kolonial Belanda untuk menyatukan diri menjadi satu bangsa terlepas dari latar belakang suku dan agama. Sumpah Pemuda juga merupakan deklarasi yang dibuat pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh pemuda Nasionalis Indonesia pada sebuah konferensi di Hindia Belanda (belum Indonesia) saat itu. Mereka memproklamirkan tiga cita-cita, satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.
Generasi muda sekarang perlu membaca kembali sejarah Sumpah Pemuda ini yang dimulai dengan Kongres pemuda Indonesia pertama diadakan di Batavia (Jakarta), ibu kota Hindia Belanda pada tahun 1926, tetapi tidak menghasilkan keputusan formal, kongres pemuda Indonesia kedua diadakan di tiga lokasi berbeda.
Kongres Pemuda II adalah hasil dari kegagalan Kongres Pemuda I pada tahun 1926 untuk mewujudkan cita-cita persatuan pemuda. Selain itu, alasan dilaksanakannya Kongres Pemuda II adalah untuk menumbuhkan ide-ide politik terbuka di kalangan anak muda melalui berbagai acara. Pada sesi pertama, Pada tanggal 27 Oktober 1928, dilaksanakan di Gedung Pemuda Katolik pada pukul 19.30 sampai 23.30harapan diungkapkan bahwa kongres akan menginspirasi perasaan persatuan.. Pada pertemuan ini, para peserta membahas pentingnya bahasa Melayu sebagai bahasa politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Selain itu, dibahas gagasan untuk menjadi tuan rumah gerakan perjuangan dalam bentuk organisasi nasional.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1928 dari pukul 08.00 sampai 12.00 di gedung Oost Java Bioscoop (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara). Para peserta membahas tentang pentingnya peran pendidikan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pembicara pada kongres tersebut adalah Sarmidi Mangoensarkoro, Sarwono, dan Ki Hajar Devantoro yang menekankan pentingnya pendidikan nasional yang harus diberikan kepada seluruh anak Indonesia
Pertemuan ketiga ini dilaksanakan pada hari yang sama dengan pertemuan kedua, yaitu pada 28 Oktober 1928 pada pukul 17.30 sampai 23.30 di Gedung Indonesische Clubgebouw. Kongres ini membahas mengenai lima hal, arak-arakan pandu, penyampaian dari Ramelan untuk kepanduan, penyampaian dari Pergerakan Pemuda Indonesia dan Pemuda di Tanah Luaran oleh Soenario, pengambilan keputusan dan penutupan kongres.
Kongres ditutup dengan pembacaan ikrar pemuda: “Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia. Kedoea Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
Para pemuda yang menyelenggarakan Kongres Pemuda itu memang terdiri dari utusan-utusan perwakilan pemuda dari berbagai latar belakang; mereka antara lain Ketua: Sugondo Djojopuspito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI); Wakil Ketua: R.M. Joko Marsaid (Jong Java), Sekretarisy: Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond), Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond), Pembantu I-V masing-masing: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond), R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia), R.C.I. Sendoek (Jong Celebes), Johannes Leimena (Jong Ambon) dan Mohammad Rochjani Su’ud (Pemoeda Kaoem Betawi).





