Universitas Airlangga Official Website

Kampung Mojo Tampilkan Tarian Daur Ulang di Penilaian Kampung Asik 2025

Ibu-ibu PKK Kelurahan Mojo menampilkan tarian pembuka dengan busana hasil daur ulang sampah rumah tangga. (Dokumentasi Panitia SDGs)
Ibu-ibu PKK Kelurahan Mojo menampilkan tarian pembuka dengan busana hasil daur ulang sampah rumah tangga. (Dokumentasi Panitia SDGs)

UNAIR NEWS – Kemeriahan mewarnai kegiatan penilaian Kompetisi Kampung Hijau yang Berdampak dan Berkelanjutan (Kampung Asik) persembahan dari Sustainable Development Goals (SDGs) Center Universitas Airlangga (UNAIR) Tahun 2025 di Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, Kamis (31/10/2025). Pembukaan acara dengan sambutan tarian dari ibu-ibu PKK Kelurahan Mojo yang mengenakan busana hasil daur ulang sampah rumah tangga. Penampilan itu menjadi simbol kreativitas warga dalam mengolah limbah menjadi karya yang estetis dan bernilai lingkungan.

Jajaran perangkat kelurahan dan kecamatan hadir dalam kegiatan penilaian ini, kader lingkungan, mahasiswa pendamping, serta tim juri dari berbagai lembaga, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Universitas Airlangga (UNAIR), dan KTH Royal Institute of Technology, Swedia.

Penilaian Lapangan dan Harapan Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Sekretaris Kecamatan Gubeng, Indra, menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga Mojo dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

“Kondisi lingkungan yang baik tidak bisa dicapai tanpa semangat warga. Di Mojo, semangat kolektif itu nyata terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan penghijauan,” ujarnya.

Ze’ev Bohbot dari KTH Royal Institute of Technology saat memberikan sambutan dalam penilaian Kompetisi Kampung Hijau di Kelurahan Mojo, Kamis (31/10/2025). (Dokumentasi: Panitia SDGs)

Indra berharap penilaian ini dapat menjadi momentum bagi warga untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga lingkungan dan memperluas praktik ramah lingkungan di tingkat keluarga.

Sementara itu, Lurah Mojo, Widajati, menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga lingkungan berkelanjutan. Ia menyebut bahwa berbagai inisiatif telah warga jalankan, mulai dari pemilahan sampah di rumah tangga, pembuatan pupuk organik cair, hingga penanaman sayuran dengan sistem hidroponik di lahan sempit. “Kami terus mengajak warga untuk aktif dalam pengelolaan lingkungan. Prinsipnya, keberlanjutan bermula dari rumah dan menjadi budaya bersama,” jelasnya.

Mojo Sudah Penuhi Tiga Pilar Keberlanjutan

Salah satu anggota tim penilai, Dr Ze’ev Bohbot dari KTH Royal Institute of Technology, Swedia, mengapresiasi capaian warga Mojo yang mereka anggap telah menerapkan tiga aspek utama pembangunan berkelanjutan mulai dari aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. “Kelurahan Mojo telah menunjukkan bagaimana keberlanjutan dapat tingkat komunitas wujudkan. Upaya warga di sini menyeimbangkan antara pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan partisipasi sosial,” ujarnya.

Ze’ev juga mengungkapkan rasa bangganya dapat turun langsung ke lapangan untuk melihat inovasi masyarakat Surabaya dalam pengelolaan lingkungan. “Keterlibatan warga di Mojo menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari tingkat lokal. Ini contoh luar biasa bagi kota-kota lain,” tambahnya.

Penulis: Samudra Luhur

Editor: Ragil Kukuh Imanto