Macaranga atau Mahang merupakan salah satu tumbuhan perintis dan banyak ditemukan endemik di Indonesia. Mahang merupakan tumbuhan pionir yang banyak tumbuh di wilayah Kalimantan, Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Di Sumatra, tanaman ini dikenal sebagai sapat atau mara yang mana tanaman tersebut banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan kayu bakar atau untuk bahan dalam pembuatan rumah khas suku melayu. Berdasarkan rekam jejak penelitian terhadap tanaman ini, mahang mengandung senyawa metabolit sekunder yang bervariasi terutama senyawa turunan Flavonol.
Penelitian terhadap berbagai jenis mahang telah dirintis oleh group peneliti bahan alam FST, Universitas Airlangga sejak 10 tahun terakhir dan berdasarkan data informasi scopus, kelompok riset bahan alam Departemen Kimia Unair menempati urutan kedua di dunia yang menghasilkan jurnal bereputasi khususnya senyawa antikanker dari tumbuhan Mahang. Group riset bahan alam FST Unair tertarik untuk melakukan penelitian terhadap kandungan senyawa yang terdapat dalam tanaman ini, karena tanaman ini dianggap sebagai tanaman liar yang tidak berguna. Ketertarikan peneliti terhadap tanaman ini juga didasarkan pada penelitian tanaman sejenis sebelumnya yang masih dalam genus Macaranga dan ternyata mempunyai aktivitas sebagai antikanker.
Beberapa penelitian sebelumnya terhadap berbagai jenis tanaman mahang, menunjukkan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder yang aktif, seperti golongan flavonol terprenilasi dan sangat aktif terhadap sel kanker paru-paru (A-549), Sel kanker rahim (HeLa), Sel kanker payudara (T47D dan 4T1) dan Glioblastoma (U-87).
Macaranga gigantea (Rchb.f & Zoll.) Mull.Arg yang diteliti adalah jenis mahang yang endemik di Padang Sidempuan Selatan, Sumatera Utara. Penelitian terhadap Macaranga gigantea dikhususkan pada bagian daunnya. Identifikasi tanaman dilakukan oleh Ismail Rachman, ahli botani dari Herbarium Bogoriensis, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor.
Penelitian yang telah dilakukan oleh tim peneliti kimia bahan alam FST UNAIR khususnya jenis Macaranga gigantea berhasil menemukan senyawa baru yaitu macagigantin A dan senyawa yang telah ditemukan pada Macaranga sebelumnya yaitu golongan flavonol, diantaranya adalah, macagigantin, brousson flavonol F, dan meliternatin. Keempat senyawa tersebut diujikan pada sel kanker payudara (4T1) dan satu diantara keempat senyawa yang dihasilkan yaitu senyawa baru macagigantin A menjadi kandidat bahan aktif sebagai alternatif obat kanker payudara.
Hasil pengujian terhadap sel kanker payudara, menunjukkan bahwa senyawa baru turunan flavonol yang ditemukan mempunyai aktivitas yang tinggi terhadap sel kanker payudara (4T1). Penemuan keempat senyawa turunan flavonol pada tumbuhan Macaranga inermis telah dipublikasikan pada jurnal Natural Product Sciences Tahun 2023.
Hasil penelitian memberikan prospek yang sangat bagus bagi dunia kesehatan dalam upaya penemuan obat anti kanker yang berbasis pada bahan alam yang lebih aman. Penemuan ini memberikan titik cerah bagi penderita kanker payudara yang sangat rawan diderita oleh masyarakat Indonesia khususnya para perempuan.
Selama ini pengobatan terhadap kanker payudara dilakukan dengan menggunakan obat dari golongan senyawa pengalkilasi, antimetabolit, antikanker produk alam, hormon, dan golongan lain-lain. Di antara obat antikanker tersebut, obat kanker yang berbasis bahan alam lebih disukai oleh penderita kanker karena dianggap lebih aman.
Penulis: Prof. Dr. Mulyadi Tanjung, Drs., M.S.





