Universitas Airlangga Official Website

Kandungan Logam Berat pada Anggur Laut masih Aman untuk di Konsumsi

ilustrasi anggur laut (Foto: Idntimes.com)

Eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan aspek lingkungan dapat menyebabkan gangguan ekosistem dan degradasi lingkungan, terutama melalui pencemaran. Lingkungan pesisir dan laut rentan terhadap pencemaran baik yang berasal dari kegiatan di darat maupun kegiatan di laut, yang mengakibatkan penurunan kualitasnya. Di wilayah pelabuhan Brondong, aktivitas manusia, terutama yang terkait dengan eksploitasi sumber daya hayati seperti ikan dan kerang-kerangan, berkontribusi terhadap tekanan lingkungan. Di antara polutan yang menimbulkan risiko terhadap pemanfaatan sumber daya, kontaminasi logam berat merupakan masalah yang signifikan, yang berpotensi meningkatkan konsentrasi logam berat di sekitar pelabuhan Brondong.

Kegiatan antropogenik memperkenalkan beragam polutan termasuk patogen, antibiotik, pestisida, logam berat, sedimen, dan nutrisi. Polusi air, yang dikategorikan berdasarkan agen penyebabnya menjadi nutrisi yang menyebabkan eutrofikasi dan racun yang merugikan kehidupan akuatik, merupakan masalah kritis. Logam berat, sebagai zat beracun, merupakan ancaman khusus bagi organisme air. Laut bertindak sebagai penerima berbagai buangan dari sungai, yang menyebabkan akumulasi polutan yang diangkut oleh arus air. Pembuangan limbah yang terus-menerus ke wilayah pesisir memperburuk konsentrasi dan akumulasi logam berat di dalam ekosistem perairan. Sumber pencemaran logam berat terutama berasal dari limbah industri, limbah rumah tangga, limpasan pertanian, pengerukan, reklamasi, lalu lintas kapal, lambung kapal, pembuangan air pemberat, aktivitas maritim, pertambangan, eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi.

Kontaminasi air dan udara dengan logam berat merupakan masalah lingkungan global karena dampak buruknya. Logam berat terdapat secara alami dalam ekosistem meskipun dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Meskipun beberapa logam berat berada pada tingkat yang rendah, konsentrasi yang tinggi dapat menimbulkan risiko bagi ekosistem laut dan kesehatan manusia. Merkuri (Hg) dan Timah (Sn) adalah logam berat yang sangat berbahaya yang sedang diawasi. Merkuri, yang sangat beracun bagi organisme akuatik dan manusia, tahan terhadap degradasi oleh bakteri, sehingga terakumulasi dalam badan air. Sumber antropogenik utama Merkuri (Hg) termasuk pembakaran batu bara, pembakaran bahan bakar fosil, dan pembuangan air pemberat dari kapal. Sumber tambahan meliputi produksi logam dan semen, kebakaran hutan, dan pembuangan limbah. Timah (Sn), meskipun tidak diklasifikasikan sebagai logam berat, diatur dalam Peraturan BPOM No. 5 Tahun 2018. Meskipun demikian, timah tetap menjadi logam berat yang menjadi perhatian karena terakumulasi dalam organisme dan lingkungan. Timah dalam produk makanan sering kali berasal dari kaleng berlapis timah, di mana lapisan timah terkikis, yang menyebabkan keberadaannya. Timah digunakan secara luas di berbagai industri seperti otomotif, energi, peleburan paduan, industri kimia, plastik, dan poliester, serta dalam kehidupan sehari-hari seperti tambalan gigi dan wadah makanan. Kedua logam berat tersebut cukup beracun dan berbahaya. Akumulasi logam berat Cd dan Pb telah dipelajari dalam penelitian sebelumnya.

Keberadaan logam berat dalam air terakumulasi di dalam biota air, termasuk makroalga yang mampu tumbuh subur di lingkungan tersebut. Organisme laut di dasar rantai makanan, seperti rumput laut C. racemosa, sangat rentan terhadap kontaminasi logam berat. Rumput laut dikenal karena kemampuannya untuk menyerap dan meremediasi beragam polutan, termasuk pestisida, antimikroba, dan logam berat. Menilai tingkat kontaminasi logam berat sangat penting untuk memastikan keamanan rumput laut yang dapat dimakan. Oleh karena itu, rumput laut Caulerpa racemosa perlu dievaluasi untuk mengetahui kadar logam berat, terutama merkuri (Hg) dan timah (Sn), melalui faktor konsentrasi biota (BCF) dan indeks geoakumulasi (Igeo). Oleh karena itu, penelitian yang berfokus pada akumulasi merkuri dan timah pada rumput laut C. racemosa perlu dilakukan.

Berdasarkan temuan dari penelitian yang dilakukan, penelitian ini mengungkapkan hasil pengujian logam berat merkuri (Hg) pada berbagai segmen C. racemosa sebagai berikut: 0,0212 pada rizoid, 0,0118 pada stolon, dan 0,00437 pada ramuli. Untuk logam berat timah (Sn), konsentrasinya tercatat sebesar 0,0392 pada rhizoid, 0,0564 pada stolon, dan 0,0390 pada ramuli. Khususnya, analisis logam berat merkuri (Hg) dalam sampel sedimen dari kolam menghasilkan konsentrasi yang tidak terdeteksi, sementara logam berat timah (Sn) diidentifikasi pada tingkat sedang, sekitar 2,10 ppm. Faktor biokonsentrasi (BCF) untuk logam Sn ditentukan sebesar 0,0187, 0,0269, dan 0,0186, yang diklasifikasikan di bawah BCF <30, yang menunjukkan tingkat akumulasi yang rendah. Demikian pula, Indeks Geoakumulasi (Igeo) untuk logam Sn menunjukkan nilai – (4,1876, 4,2061, dan 4,2186), termasuk dalam kategori Igeo ≤ 0 (kelas 0).

Dr. Eng. Sapto Andriyono

Link Publikasi: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1392/1/012023Â