Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), karies, gingivitis, dan periodontitis merupakan penyakit mulut yang paling umum dan disebabkan oleh pembentukan plak (lapisan tipis yang terdiri dari sekelompok bakteri yang tertanam dalam matriks ekstraseluler mukosa dan permukaan gigi di rongga mulut). Beberapa mikroorganisme ditemukan dalam plak yang menyebabkan beberapa penyakit gigi dan mulut, misalnya, Streptococcus mutans, Porphyromonas gingivalis, dan Staphylococcus aureus. Peradangan di area mulut dan gigi menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS) yang memperburuk karies gigi. Oleh karena itu, beberapa agen antibakteri dan antioksidan dapat membantu mengendalikan karies gigi. Anggur laut (Caulerpa racemosa) berpotensi untuk dipanen secara intensif dan dapat ditemukan di perairan sekitar Indonesia. Beberapa jenis penelitian telah menunjukkan bahwa C. racemosa mengandung senyawa bioaktif, seperti polifenol, flavonoid, dan antioksidan. Lebih lanjut, C. racemosa mengandung caulerpin yang berpotensi bertindak sebagai agen antibakteri (Lunagariya et al. 2019). Temuan sebelumnya menjelaskan bahwa antioksidan dan polifenol yang terkandung dalam C. racemosa telah mencegah karies gigi. Dengan demikian, ekstrak C. racemosa berpotensi untuk digunakan sebagai agen aktif produk perawatan gigi seperti pasta gigi. Selain berperan sebagai agen antibakteri dan antioksidan, C. racemosa juga mengandung beberapa mineral, termasuk kalsium dan fosfor. Kalsium dan fosfor berperan penting dalam pembentukan dan pemeliharaan kesehatan gigi dan gusi pada anak-anak dan orang dewasa. Sepuluh ion kalsium dan enam ion fosfat diperlukan untuk membentuk satu sel satuan fluorapatit dalam remineralisasi gigi. Tulang ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan limbah dari pengolahan ikan yang kaya akan kalsium, fosfor, dan selenium. Pemanfaatan tulang ikan tuna sebagai sumber kalsium merupakan salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan kalsium sekaligus meningkatkan nilai ekonomis dari limbah tulang ikan tuna.
Mengingat potensi anggur laut dan limbah tulang ikan sebagai bahan tambahan untuk produk kesehatan gigi dan mulut, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan kombinasi C. racemosa dengan limbah tulang ikan tuna untuk mengembangkan pasta gigi herbal (TCT). Penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan analisis fisikokimia dan aktivitas antibakteri Streptococcus mutans, Porphyromonas gingivalis, dan Staphylococcus aureus.
Penelitian ini menyoroti bahwa TCT diformulasikan dari bahan-bahan baru, Caulerpa racemosa dan tulang ikan Thunnus. Selain aktivitas antibakteri, penelitian ini juga melakukan penentuan potensi antioksidan TCT. Perlu dicatat, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, mengingat adanya berbagai jenis bakteri kariogenik dan periodontal, TCT belum dievaluasi pada bakteri kariogenik dan periodontal lainnya, seperti Fusosbacteriumnucleatum, Lactobacillus acidophilus, Aggregatibacter actinomycetemcomitans, dan lainnya. Lebih jauh, penelitian pada model hewan mengenai TCT belum dilakukan untuk mendukung klaim antibakteri TCT. Selain itu, beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ini dikategorikan sebagai metode sederhana (uji sensorik, uji kemampuan berbusa, dan uji homogenitas). Keterbatasan ini dapat diatasi dalam penelitian mendatang untuk lebih memperkuat bukti mengenai potensi antibakteri TCT terhadap kolonisasi bakteri kariogenik dan periodontal.
Tulang ikan mengandung 60–70% mineral dengan komponen yang sebagian besar terdiri dari bioapatit, termasuk hidroksiapatit, apatit berkarbonasi, dan 30% protein kolagen. Hidroksiapatit dikenal sebagai biomimetik, atau bahan aktif bionik, ketika digunakan dalam perawatan mulut. Enamel manusia terdiri dari sekitar 97% hidroksiapatit. Dengan mensintesis sifat-sifat seperti hidroksiapatit ini, yang disebut fluorapatit, ia dapat digunakan sebagai agen remineralisasi dalam produk perawatan mulut. Sifat fisik lain yang dianalisis adalah viskositas. Viskositas pasta gigi meningkat akibat makin banyaknya ekstrak yang digunakan. Ini merupakan penelitian pertama yang berhasil menggunakan ekstrak C. racemosa dan limbah laut (tulang ikan tuna) untuk pembuatan pasta gigi. Keterbatasan kami adalah komponen bioaktif TCT yang belum tereksplorasi, dan hal ini akan dieksplorasi dalam penelitian lebih lanjut yang akan dilakukan. Penelitian ini meliputi profil metabolomik dan melihat potensi metabolit docking molekuler yang berperan dalam menghambat beberapa bakteri penyebab sakit gigi. Caulerpa racemosa, atau anggur laut, dapat dikombinasikan dengan tepung tulang ikan tuna untuk pembuatan pasta gigi (TCT). TCT dengan formula F3 (4,5:45), ekstrak C. racemosa, kalsium karbonat atau isolat tulang ikan tuna, memiliki sifat antibakteri dan antioksidan yang menjanjikan untuk menghambat kolonisasi bakteri kariogenik dan periodontal, seperti Streptococcus mutans, Porphyromonas gingivalis, dan Staphylococcus aureus). Studi klinis menggunakan hewan (in vivo) dan uji klinis manusia akan disambut baik dalam penelitian mendatang.
Penulis: Citra Fragrantia Theodorea, Fahrul Nurkolis, Erik Idrus, Timotius William Yusuf, Christopherous Diva Vivo, Dionysius Subali, Nurpudji Astuti Taslim, Alexander Patera Nugraha
Link Lengkap: https://pharmacia.pensoft.net/article/118021/
Baca juga: Elucidasi Mekanistik Senyawa Rumput Laut Hijau dalam Manajemen Relaps Ortodonti





