Aneurisma intrakranial merupakan kondisi medis yang tidak jarang ditemukan dalam praktik bedah saraf, dengan prevalensi pada populasi umum berkisar antara 2 hingga 10 persen. Salah satu lokasi aneurisma yang paling sering dijumpai adalah pada arteri serebri media (middle cerebral artery/MCA), yang menyumbang sekitar 18 hingga 40 persen dari seluruh kasus aneurisma intrakranial. Sebagian besar aneurisma ini ditemukan dalam keadaan belum pecah, berkat meningkatnya penggunaan pencitraan radiologis dalam praktik medis sehari-hari. Meskipun belum menimbulkan gejala, aneurisma yang tidak pecah ini tetap menyimpan risiko besar, karena dapat mengalami ruptur sewaktu-waktu dan menyebabkan perdarahan otak yang berujung pada kecacatan bahkan kematian.
Selama beberapa dekade, metode utama untuk menangani aneurisma MCA yang belum pecah adalah melalui kliping mikrosurgikal. Metode ini dipilih karena memberikan akses langsung ke lokasi aneurisma serta memiliki tingkat penutupan total (occlusion) yang tinggi. Namun, pendekatan ini juga memiliki keterbatasan, terutama dalam hal risiko komplikasi akibat prosedur bedah terbuka. Dalam beberapa tahun terakhir, seiring kemajuan teknologi, pendekatan endovaskular (endovascular treatment/EVT) semakin berkembang dan menarik perhatian sebagai alternatif yang minim invasif. Teknik ini dilakukan melalui kateterisasi pembuluh darah dan memungkinkan penanganan aneurisma tanpa perlu membuka tulang tengkorak.
Namun, efektivitas dan keamanan dari EVT masih menjadi perdebatan di kalangan profesional medis, terutama jika dibandingkan langsung dengan metode kliping. Beberapa kekhawatiran utama meliputi rendahnya tingkat penutupan total aneurisma secara langsung setelah tindakan, kemungkinan terjadinya rekanalisasi atau pembukaan kembali aneurisma, serta risiko komplikasi selama atau pasca prosedur.
Menanggapi kebutuhan akan bukti ilmiah yang lebih kuat, Taryana dkk. dari Universitas Airlangga melakukan sebuah kajian sistematis dan meta-analisis pada tahun 2025 yang telah dipublikasikan dalam Journal of Clinical Neuroscience oleh penerbit Elsevier. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil penggunaan tindakan endovaskular terhadap aneurisma MCA yang belum pecah, khususnya terkait tingkat keberhasilan penutupan aneurisma, angka kekambuhan, hasil fungsional pasien, dan komplikasi yang terjadi selama maupun setelah prosedur.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcomes). Tim peneliti melakukan pencarian literatur dari berbagai database ilmiah seperti PubMed, Cochrane Library, SCOPUS, dan EBSCOhost, hingga bulan Desember 2022. Mereka berhasil mengidentifikasi 29 studi yang memenuhi kriteria inklusi, mencakup total 994 kasus aneurisma MCA yang belum pecah yang ditangani menggunakan metode endovaskular. Mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan (61,88%) dengan usia rata-rata 57 tahun. Studi-studi ini kemudian dianalisis secara statistik menggunakan model random-effects, untuk mengakomodasi perbedaan antar penelitian, dengan penilaian bias publikasi melalui uji Egger.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tindakan endovaskular mampu menghasilkan penutupan total aneurisma segera setelah tindakan pada 58,3 persen kasus. Angka ini meningkat menjadi 64,8 persen pada evaluasi lanjutan atau follow-up. Sementara itu, angka kekambuhan (rekanalisasi) ditemukan sebesar 8,4 persen dari seluruh kasus, dan komplikasi pasca tindakan dilaporkan sebesar 12,7 persen. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah kejadian tromboembolik seperti stroke iskemik ringan, TIA (transient ischemic attack), atau trombosis pada arteri utama, dengan proporsi mencapai 7,87 persen. Secara fungsional, sebagian besar pasien menunjukkan pemulihan yang baik, dengan skor mRS (modified Rankin Scale) kurang dari 1, yang mengindikasikan bahwa pasien tetap mampu beraktivitas secara mandiri.
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa meskipun tingkat penutupan aneurisma dengan metode endovaskular belum menyamai kliping mikrosurgikal, pendekatan ini menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Selain itu, dengan risiko komplikasi yang relatif rendah dan hasil fungsional yang baik, EVT layak dipertimbangkan terutama pada pasien-pasien dengan kondisi tertentu yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pembedahan terbuka. Perangkat endovaskular terbaru seperti stent LVIS dan flow diverter telah menunjukkan peningkatan efektivitas dalam menangani aneurisma yang sulit, khususnya aneurisma dengan leher yang lebar.
Namun, tantangan tetap ada dalam bentuk kekambuhan aneurisma dan risiko komplikasi. Oleh karena itu, penting dilakukan seleksi pasien yang cermat dan tindak lanjut jangka panjang yang konsisten. Penelitian ini juga menyoroti kebutuhan akan uji klinis acak berskala besar untuk memperkuat bukti yang ada serta membandingkan secara langsung hasil jangka panjang antara EVT dan kliping. Salah satu studi besar yang tengah berlangsung, yaitu US Unruptured Intracranial Aneurysm (USUIA), diharapkan dapat menjawab banyak pertanyaan mengenai efektivitas jangka panjang dari berbagai teknik penanganan aneurisma.
Penulis: Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS.
Info detail tentang artikel dapat diakses melalui:
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0967586825003522





