Kita bangsa Indonesia ini selalu bangga akan posisi strategis negara, diapit dua samudra yang penting dan strategis, bentuknya kepulauan yang berisi 17.000 pulau, beragam suku bangsa, bahasa dan agama, memiliki sumber daya alam yang melimpah dsb; namun belum pernah kita memasukkan variabel atau unsur sejarah bangsa dalam daftar kebanggaan bangsa.
Sementara negara-negara lain seperti Cina, Rusia, Mesir dan India begitu bangganya akan sejarah bangsanya yang gemilang sehingga menjadi penyemangat sebagai bangsa besar didunia. Baru-baru ini pada hari Minggu tanggal 31 Agustus 20225 Presiden Cina didepan tamu negaranya Perdana Menteri India mengungkapkan dengan tegar tentang sejarah bangsa Cina dan India. Presiden China Xi Jinping berujar bahwa Cina dan India adalah dua peradaban tertua di Timur dan suara kunci di Global South. Tepatnya Presiden Xi mengatakan: “China and India are two ancient civilisations in the East. “(Cina dan India adalah dua peradaban kuno di Timur). Dia bertemu dengan Perdana Menteri Narendra Modi di sela-sela KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO). PM Modi berada di China untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun untuk berpartisipasi dalam KTT SCO dua hari, yang mencakup para pemimpin dari Rusia, Asia Tengah, Asia Selatan dan Tenggara, dan Asia Barat, yang mencerminkan front persatuan Global South.
Presiden China mengatakan juga mengatakan, “. Kita adalah dua negara terpadat di dunia, dan kita juga anggota penting dari Global South. Bagi Cina kebanggaan akan sejarah peradaban kunonya menjadi aset bangsa selain jumlah penduduk, posisi geopolitik dsb.
Sementara Rusia juga memiliki kebanggaan sejarah dan masuk menjadi salah satu variabel penting dalam kebijakan negara. Doktrin kebijakan luar negeri barunya, yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Vladimir Putin pada 31 Maret 2023, adalah dokumen yang benar-benar luar biasa, karena untuk pertama kalinya telah menyatakan keunikan peradaban Rusia di tingkat resmi tertinggi dengan memuji “sejarah 1.000 tahun” Rusia yang mulia, cetak biru strategis mengklaim Moskow sebagai “misi yang unik secara historis” untuk “menjaga keseimbangan kekuatan global” dan mendefinisikan “posisi khusus Rusia [di dunia] sebagai peradaban negara yang unik… yang menyatukan orang-orang Rusia dan orang-orang lain yang termasuk dalam komunitas budaya dan peradaban Dunia Rusia.” Belum pernah sebelumnya kepemimpinan Rusia secara resmi menyatakan bahwa Rusia adalah peradaban sui generis. (Sui generis adalah frasa Latin yang berarti “dari jenisnya sendiri” atau “dalam kelasnya sendiri”, yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang unik, khusus, atau berbeda dari yang lain sehingga tidak dapat disamakan atau diklasifikasikan dengan mudah. Istilah ini sering diterapkan dalam konteks hukum untuk merujuk pada kasus, hukum, atau entitas yang membutuhkan klasifikasi khusus karena kekhasannya)
Indonesia selayaknya juga memasukkan faktor sejarah nya gemilang itu menjadi kebanggaan dan selalu dimasukkan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan arah bangsa. Perlu di edukasi kan kepada rakyat terutama generasi muda bahwa dalam sejarahnya Indonesia itu merupakan “regional super power” dimana dua kerajaan besar Majapahit dan Sriwijaya sudah memiliki pengaruh besar dibidang ekonomi, perdagangan, politik dan militer di kawasan Asia (terutama Asia Tenggara). Dalam sejarahnya bangsa Indonesia tidak pernah menyatakan menyerah dalam menentang segala bentuk penjajahan dan diskriminasi dari bangsa lain. Dalam sejarahnya bangsa Indonesia memiliki kekhasan budaya yang luhur dsb. Pendek kata Indonesia itu juga merupakan bangsa dengan peradaban kuno yang cemerlang, jadi Indonesia ini bukan bangsa “abal-abal”.
Sejarah selayaknya tidak hanya dijadikan pelajaran yang hanya menghafal tahun-tahun kejadian, namun harus menjadi pelajaran bahwa sejatinya bangsa ini adalah bangsa besar dan bukan bangsa “coolie” seperti pernah diucapkan Presiden RI Pertama Ir. Sukarno atau Bung Karno. Sejarah itu penting untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh menjadi bangsa yang selalu merasa rendah diri didepan bangsa lain karena menganggap bangsa lain lebih tinggi statusnya.





