Universitas Airlangga Official Website

Kejadian Luar Biasa Klebsiella Pneumoniae dan Acinetobacter Baumannii

Foto by Obsession News

Infeksi nosokomial yang disebabkan oleh Extended-Spectrum Beta-Laktamase (ESBL) memproduksi Klebsiella strain pneumoniae dan Multi-Drug-Resistant (MDR) Acinetobacter baumannii sebelumnya tidak pernah didokumentasikan di Indonesia. Klebsiella pneumoniae adalah penyebab paling umum dari Kejadian Luar Biasa di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan berpotensi menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir lebih rentan terhadap infeksi terutama pada bayi dengan Berat Lahir Rendah yang sering menggunakan alat invasif dan antibiotik. KLB di NICU mewakili 37,9% dari semua KLB ICU. Pada studi ini dilaporkan bahwa KLB ESBL yang menghasilkan Klebsiella pneumoniae strain bersamaan dengan MDR Acinetobacter baumannii di NICU RSUD Dr. Soetomo, berikut laporan kasusnya:

Kasus 1

Bayi laki-laki lahir pada minggu ke-34 dengan operasi caesar karena preeklamsia parah. Bayi tersebut diduga sepsis onset dini (EOS) dan dirawat dengan menggunakan CPAP. Tiga hari kemudian kondisinya memburuk dan diinjeksi meropenem, sayangnya bayi tersebut meninggal. Hasil kultur darah menunjukkan pertumbuhan ESBL memproduksi Klebsiella pneumoniae yang hanya rentan terhadap Levofloksasin dan trimethoprim-sulfametoksazol.

Kasus 2

Bayi perempuan lahir spontan pada minggu ke-30 dengan berat lahir rendah. Bayi tersebut mendapatkan ampisilin dan gentamisin. Kultur darah pertama steril, kemudian usia 6 hari kondisi bayi tersebut memburuk dan menerima suntikan meropenem, namun kondisinya semakin memburuk dan meninggal. Hasil kultur darah menunjukkan pertumbuhan MDR Acinetobacter baumannii sensitif terhadap cefoperazone/sulbaktam.

Kasus 3

Bayi perempuan lahir spontan pada kehamilan minggu ke-34 dan BBLR. Beberapa jam pasca-partum, bayi tersebut mengalami tachypnoea, retraksi dinding dada, dan mendengus. Bayi tersebut dicurigai EOS dan dirawat dengan CPAP hidung, serta diberikan ampisilin dan gentamisin. Usia 3 hari bayi tersebut mengalami demam, mendengus, nasal flaring, dan letargi. Kemudian kondisinya memburuk dan diberikan injeksi meropenem dan amikasin. Hasil kultur darah menunjukkan ESBL memproduksi Klebsiella pneumoniae yang rentan terhadap Levofloksasin dan trimethoprim-sulfametoksazol.

Kasus 4

Bayi laki-laki lahir BBLR dicurigai EOS dan dirawat dengan CPAP hidung kemudian diberikan antibiotik ampisilin dan gentamisin. Hari keempat, kondisinya memburuk dan hasil laboratorium menunjukkan bahwa bayi tersebut mengalami trombositopenia. Kemudian diberikan antibiotik meropenem, amikasin, dan dirawat dengan ventilasi mekanis, serta perawatan suportif. Hasil kultur darah menunjukkan ESBL memproduksi Klebsiella pneumoniae rentan terhadap Levofloksasin dan Trimethoprim-sulfametoksazol. Kemudian segera bayi tersebut diberikan Levofloksasin namun kondisinya memburuk dan meninggal.

Kasus 5

Bayi laki-laki lahir spontan pada minggu ke-31 dan BBLSR. Bayi tersebut dicurigai EOS dan dirawat dengan CPAP hidung, diberikan meropenem dan amikasin. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa bayi tersebut mengalami leukopenia dan trombositopenia. Kemudian antibiotik diubah menjadi Levofloksasin intravena. Namun kondisinya memburuk kemudian meninggal. Kultur darah yang diambil pada hari kelima menunjukkan tipe MDR dari Acinetobacter baumannii.

Kasus 6

Bayi perempuan dirujuk dari rumah sakit lain karena mengalami pneumonia dan diduga sepsis pada usia 19 hari. Saat dirawat di RSUD Dr. Soetomo, bayi tersebut mendapatkan injeksi levofloxacin, namun kondisinya memburuk. Kultur darah pertama hasilnya steril tetapi kultur kedua menunjukkan tipe MDR dari Acinetobacter baumannii.

KLB dari 6 kasus di atas terjadi selama dua minggu. Faktor risiko utama yang berhubungan dengan infeksi nosokomial adalah BBLR, usia kehamilan yang lebih rendah dan kateter vena sentral (CVC). Seri kasus di atas ditemukan 5 dari 6 neonatus adalah BBLR, lahir pada kehamilan minggu ke 34 atau kurang, dan mendapatkan perawatan kateter vena sentral. Bahan kateter merupakan predisposisi kolonisasi bakteri di dalam vena sehingga berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial.

Pengendalian KLB tersebut dilakukan dengan membentuk tim pengendalian. Kemudian investigasi dilakukan dan ditemukan bahwa kepatuhan pada kebersihan tangan staf NICU (<70%). Oleh karena itu dilakukan edukasi kembali dan memantau kebersihan tangan melalui pengawasan. Selain itu, dilakukan swab tenggorokan dan kultur mikrobiologi dari tenaga kesehatan dan ditemukan adanya flora normal pada semua kultur. Hal ini disebabkan karena kurangnya rasio perawat-bayi, sehingga dilakukan pengurangan tempat tidur bayi atau menutup rawat inap. Untuk menghentikan transmisi,dilakukan pembersihan inkubator dan peralatan permukaan, mempertahankan pergantian standar incubator, dan pemantauan ETT sesuai prosedur. Selain itu, tim rumah sakit juga mengembangkan manajemen neonatus dengan EOS yang dicurigai atau terbukti dan komitmen terhadap pola sensitivitas antimikroba yang berkelanjutan. Surveilans rutin terhadap pola kerentanan antibiotik juga penting untuk memandu klinisi dalam memilih terapi empiris.

Meskipun durasi KLB ini pendek tetapi tingkat kematiannya tinggi. Intervensi multifaktorial dengan meningkatkan kebersihan dan prosedur yang aman terbukti mampu menurunkan kejadian Healthcare-associated Infections (HAIs). Saat ini ruang perawatan NICU di RSUD Dr. Soetomo memiliki ruang dan peralatan standar, pendekatan baru untuk manajemen neonatal dengan EOS yang dicurigai atau terbukti, pedoman pilihan antibiotik baru, dan pola sensitivitas antimikroba yang berkelanjutan. Pada bulan Mei berikutnya, hanya ditemukan satu kasus sepsis dan pada bulan Juni tidak ditemukan kasus sepsis.

Penulis: Dr. Martono Tri Utomo, dr., SpA(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://doi.org/10.4038/sljch.v51i2.10138 Melati D, Utomo MT, Arif MT, Etika R, Puspitasari D, Aden TY. Outbreak of extended-spectrum beta-lactamase-producing Klebsiella pneumoniae and multidrug-resistant Acinetobacter baumannii in the neonatal intensive care unit, Dr. Soetomo General Hospital, Indonesia: A case series. Sri Lanka Journal of Child Health 2022; 51(2), pp.294–298