Universitas Airlangga Official Website

Kekerasan dalam Rumah Tangga pada Laki-laki di Keluarga Profesional

laki laki korban kekerasan dalam rumah tangga
Ilustrasi laki-laki korban kekerasan dalam rumah tangga (sumber: Tempo)

Berbagai tindak kekerasan dalam rumah tangga merupakan realitas yang meresahkan kehidupan keluarga di berbagai kelas sosial. Kesetaraan dan ketidakberpihakan gender lebih mudah dicapai dalam keluarga profesional, karena perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama dalam mencapai pendidikan dan pekerjaan profesional. Namun kenyataannya, kesenjangan gender masih sering terjadi, bahkan di kalangan profesional. Berbagai tindak kekerasan dalam rumah tangga menjadi kenyataan yang meresahkan kehidupan keluarga di berbagai kelas sosial. Kajian mengenai kekerasan dalam keluarga profesional masih jarang dilakukan. Dari jumlah tersebut, sebagian besar menganggap perempuan sebagai korban. Bahkan masih sedikit penelitian yang membahas kekerasan yang dilakukan perempuan terhadap laki-laki. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hukum formal. Di Indonesia, pengaturan mengenai kekerasan dalam rumah tangga diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemberantasan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berdasarkan undang-undang, negara menjamin dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga dan mengambil tindakan terhadap pelaku kekerasan dalam rumah tangga.

Kekerasan dalam rumah tangga merupakan permasalahan yang penting untuk diungkap lebih mendalam karena keluarga bertanggung jawab untuk mendidik dan menanamkan nilai dan norma pada individu. Kenyataan menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga masih terjadi, tidak hanya di kalangan kelas sosial bawah tetapi juga di kalangan menengah atas. Perempuan bukan satu-satunya yang menjadi korban kekerasan; laki-laki juga mengalami kekerasan serupa. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan mempengaruhi tindakan dan perilaku individu di masa dewasa. Penelitian ini berupaya untuk mengetahui kekerasan yang dialami laki-laki di kalangan keluarga profesional dan penyebab perempuan melakukan tindakan tersebut

Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam keluarga profesional, terdapat berbagai bentuk kekerasan yang dialami laki-laki: kekerasan verbal/psikologis, fisik, ekonomi, dan seksual. Berbagai pemicu perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki dapat diabstraksikan dalam konsep sosiologis berikut: rasa tidak aman, kecemburuan, dan ketimpangan status sosial ekonomi. Reaksi suami terhadap kekerasan yang dilakukan istrinya berupa perlawanan laten, perlawanan nyata, dan keterasingan.

Laki-laki tertekan oleh patriarki yang menempatkan mereka pada posisi superior. Banyak peran yang harus dimainkan yang mengharuskan laki-laki mengambil alih kekuasaan atas perempuan. Laki-laki harus selalu menang dan tidak boleh kalah dari perempuan. Laki-laki sebagai pemimpin keluarga tidak boleh dipandang lemah di hadapan perempuan. Maskulinitas membuat laki-laki korban kekerasan mengalami tiga kali penindasan. Ketika laki-laki menjadi korban kekerasan, mereka malu dengan stigma negatif yang diberikan kepada mereka. Mereka dianggap ‘tidak normal’ karena masyarakat menganggap mereka gagal menjalankan perannya sebagai penguasa dalam keluarga. Laki-laki menjadi objek gosip di berbagai lingkungan sosial, termasuk lingkungan kerja, persahabatan, dan keluarga. Maskulinitas memaksa laki-laki untuk memilih diam, merahasiakan, dan pasif dalam bereaksi terhadap kekerasan yang dialaminya.

Penulis: Dr. Siti Mas’udah, S.Sos., M.Si.
Link jurnal: https://e-journal.unair.ac.id/DIALEKTIKA/article/view/48551

Baca juga: Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap Kehidupan Anak