Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh ibu hamil di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga dapat membahayakan janin yang dikandung. Ibu hamil dengan anemia berisiko mengalami komplikasi saat persalinan, seperti perdarahan, infeksi, hingga kematian. Di sisi lain, bayi yang lahir dari ibu dengan anemia lebih berisiko mengalami kelahiran prematur, berat badan rendah, serta gangguan perkembangan sejak dini. Karena itu, upaya pencegahan anemia selama kehamilan menjadi langkah penting untuk menjamin kesehatan ibu dan bayi.
Peran Keluarga dalam Pencegahan Anemia
Mencegah anemia tidak dapat dibebankan hanya kepada ibu hamil. Keluarga, terutama suami, memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan ibu selama masa kehamilan. Keluarga menjadi pihak terdekat yang dapat memberikan dukungan nyata. Mulai dari mengingatkan konsumsi tablet zat besi, menyediakan makanan bergizi, hingga memberikan dorongan emosional ketika ibu merasa lelah atau jenuh. Namun, agar keluarga dapat berperan secara optimal, mereka perlu memiliki pemberdayaan keluarga yang meliputi kemampuan, motivasi, pengetahuan, dan sikap positif untuk mendukung ibu hamil menjaga kesehatannya.
Sebuah penelitian yang dilakukan di dua puskesmas di Surabaya, yaitu Klampis Ngasem dan Pacar Keling, melibatkan 150 ibu hamil untuk menilai hubungan antara pemberdayaan keluarga dan peran keluarga dalam pencegahan anemia. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan (p=0.000; r=0.578). Artinya, semakin berdaya suatu keluarga, semakin besar pula kontribusinya dalam membantu ibu hamil mencegah anemia.
Dukungan Keluarga Meningkatkan Keberhasilan Ibu Hamil
Penelitian ini juga mengungkap tiga aspek utama pemberdayaan keluarga yang berpengaruh besar, yaitu motivasi, pengetahuan, dan sifat pribadi anggota keluarga. Suami atau anggota keluarga yang memiliki motivasi tinggi, memahami risiko anemia, serta memiliki sikap positif dalam mendukung ibu, cenderung lebih aktif membantu ibu menjalani pola hidup sehat. Dukungan semacam ini terbukti meningkatkan kepatuhan ibu mengonsumsi suplemen zat besi dan memperbaiki asupan gizi harian.
Hasil penelitian memberikan pesan penting bahwa pencegahan anemia bukan tanggung jawab tenaga kesehatan atau ibu hamil semata, melainkan tugas bersama keluarga. Peran aktif suami, orang tua, dan anggota keluarga lainnya menjadi penentu keberhasilan ibu dalam menjalani kehamilan yang sehat. Karena itu, tenaga kesehatan perlu melibatkan keluarga dalam program penyuluhan dan edukasi, tidak hanya berfokus pada ibu hamil.
Lingkungan Keluarga Sehat untuk Ibu dan Bayi
Melalui pemberdayaan keluarga, rumah dapat menjadi lingkungan yang lebih sehat, suportif, dan penuh perhatian. Keluarga yang berdaya mampu menciptakan suasana positif yang mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. Dengan kolaborasi yang baik antara tenaga kesehatan dan keluarga, risiko anemia pada ibu hamil dapat ditekan, kualitas hidup ibu meningkat, dan bayi yang dilahirkan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat.
Penulis: Dr. Mira Triharini, S.Kp., M.Kep.





