Universitas Airlangga Official Website

Kenali Reproduksi Musang Luwak Jantan Melalui Gambaran Morfologi Spermatozoa sebagai Upaya Pelestarian Fauna Asli Indonesia

Foto by Kawan Hewan

Musang luwak merupakan salah satu jenis mamalia liar yang diklasifikasikan ke dalam famili viverridae dan termasuk dalam genus paradoxurus. Musang luwak memiliki sebaran geografis yang luas dari Asia Selatan hingga Asia Tenggara.  Musang luwak menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon (arboreal), bersifat omnivora, nokturnal dan soliter. Area disekitar anus musang luwak jantan dan betina terdapat kelenjar anal yang dapat mengeluarkan bau yang menyerupai aroma daun pandan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa, musang luwak merupakan spesies yang masuk dalam ketegori least concern yang berarti statusnya belum menjadi perhatian karena populasinya dianggap masih banyak walaupun satwa ini banyak diburu untuk dijadikan peliharaan, produksi kopi luwak, serta dikonsumsi.

Pemanfaatan musang luwak di Indonesia adalah sebagai penghasil kopi luwak yang memiliki nilai jual yang tinggi. Budidaya musang luwak sebagai penghasil biji kopi luwak belum di lakukan di Indonesia, masyarakat masih menangkap atau memburu langsung musang luwak di hutan untuk dimanfaatkan sebagai penghasil kopi luwak. Hal ini dapat mengancam jumlah populasi apabila tidak adanya upaya pelestarian musang luwak. Upaya pelestarian musang luwak merupakan suatu hal yang harus diperhatikan yaitu melalui program konservasi dan peningkatan populasi musang luwak baik dengan perkembangbiakan alami maupun dengan bantuan teknologi reproduksi. Proses perkembangbiakan sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi musang luwak jantan maupun musang luwak betina.  Fertilitas reproduksi jantan dapat diketahui dari persentase spermatozoa dengan morfologi normal. 

Morfologi spermatozoa menggambarkan bentuk spermatozoa. Spermatozoa terdiri dari bagian kepala, dan ekor yang memiliki ukuran berbeda-beda sesuai dengan spesiesnya. Ukuran-ukuran dari setiap bagian spermatozoa tersebut dikenal dengan istilah morfometri spermatozoa. Informasi mengenai morfometri spermatozoa penting untuk diketahui agar dapat membedakan dan mengidentifikasi perbedaan ukuran morfometri spermatozoa setiap spesies. Menganalisis morfologi dan morfometri spermatozoa musang dengan pewarnaan khusus eosin-nigrosin dapat dijadikan parameter penentu kualitas spermatozoa musang jantan melalui analisa abnormalitas morfologi spermatozoa dan nilai morfometrinya. Hasil penelitian kami menyimpulkan bahwa morfologi kepala spermatozoa musang luwak berbentuk oval mengerucut dengan pewarnaan Eosin-Nigrosin, kepala spermatozoa berwarna merah muda keunguan. Berdasarkan data pengukuran morfometri spermatozoa musang luwak yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa data tersebut memiliki nilai yang seragam dari seluruh populasi sampel yang digunakan atau tidak berbeda jauh antar sampel yang diperiksa. Lebih lengkap dan jelas mengenai hasil penelitian ini bisa diakses melalui link dibawah ini:

Penulis: Ragil Angga Prastiya, Diana Santi, Ade Miftakhul Aziz, Hanun Putri Nuraidahttps://e-journal.biologi.lipi.go.id/index.php/zoo_indonesia/article/view/4307/3553