Pasien pasca SKA (Sindroma Koroner Akut) sering menghadapi peningkatan kemungkinan kematian, rawat inap ulang, dan penurunan kualitas hidup sebagai konsekuensi dari kepatuhan pengobatan yang buruk. Data dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat rehospitalisasi pasien paska SKA cukup tinggi di Indonesia dan di dunia. Beberapa penelitian terbatas menunjukkan bahwa kepatuhan yang buruk terhadap pengobatan yang diresepkan merupakan faktor kunci yang mempengaruhi keberhasilan upaya pencegahan rawat inap ulang dan penurunan kualitas hidup. Di Indonesia, penelitian pada pasien pasca SKA sangat terbatas, terutama mengenai hubungan antara kepatuhan terhadap pengobatan dan hasil pengobatan, seperti angka rawat inap ulang dan kualitas hidup. Penelitian ini menganalisis korelasi antara kepatuhan terhadap pengobatan yang diresepkan dan kualitas hidup pada pasien pasca SKA yang menerima perawatan. Tingkat kepatuhan pengobatan secara keseluruhan hanya 35,89% untuk semua obat yang diresepkan. Sementara itu tingkat kepatuhan pengobatan untuk masing masing obat yaitu 53,85% untuk antiplatelet, 38,46% untuk statin, 55,56% untuk beta-blocker, dan 58,06% untuk ACEI/ARB. Di antara dimensi kualitas hidup, fungsi sosial memiliki skor tertinggi (93,01 ± 15,89), sedangkan fungsi peran fisik memiliki skor terendah (40,39 ± 35,18). Dalam 45 hari setelah keluar dari rumah sakit, 26% pasien mengalami rawat inap kembali. Analisis statistik menunjukkan korelasi positif antara kepatuhan terhadap semua obat yang diresepkan dan fungsi peran fisik dalam kaitannya dengan kualitas hidup (p = 0,038). Selain itu, kepatuhan pengobatan secara keseluruhan berkorelasi negatif dengan risiko rawat inap kembali (p = 0,019). Kesimpulan: Kepatuhan total terhadap pengobatan berhubungan dengan peningkatan fungsi fisik dan kejadian rawat inap ulang. Pada penelitian ini diketahui bahwa Tingkat kepatuhan masih sangat rendah oleh karena itu kedepan harus diupayakan untuk farmasis dapat meningkatkan peran didalam memberikan intervensi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien diantaranya dengan edukasi yang berbasis hambatan, dan intervensi multimodal lain yang atraktif dan efektif sehingga dapat menghasilkan hasil terapi yang lebih baik, peningkatan kualitas hidup, dan pengurangan rawat inap ulang pada pasien.
Ditulis oleh Dr. apt. Wenny Putri Nilamsari, SpFRS
Link: https://e-journal.unair.ac.id/JFIKI/article/view/71762
Berdasarkan publikasi berjudul Medication Adherence, Quality of Life, and Rehospitalization in Post-Acute Coronary Syndrome Patients. JFIKI vol 12 issue 2 p 195





