Pandemi Covıd-19 telah mengubah secara mendasar pekerjaan kepala sekolah di seluruh dunia. Kepala sekolah membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam memimpin dan mengelola sekolah. Saat ini, kepala sekolah diharapkan menjadi manajer yang luar biasa dan pemimpin yang sangat baik di saat laju perubahan tampaknya telah meningkat. Kepala sekolah sekarang diharapkan tidak hanya memanfaatkan keterampilan dan pengetahuan mereka saat ini untuk memenuhi tantangan pembelajran dan kepimimpinan selama pandemi, tetapi melakukannya sambil mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang memungkinkan mengubah beberapa peran mereka saat ini.
Kebutuhan akan pengetahuan dan keterampilan baru muncul dari beberapa faktor, dengan dua yang paling umum adalah sifat SARS-CoV-2 yang tidak diketahui dan kebutuhan untuk mempertimbangkan cara-cara alternatif agar berhasil mendidik siswa di tengah wabah ini, keduanya mengharuskan kepala sekolah untuk melaksanakan perannya dengan cara yang berbeda. Saat ini para kepala sekolah sedang bergumul dalam praktik mereka di sekolahnya masing-masing, kepala sekolah menciptakan kondisi yang ideal bagi siswa untuk belajar dan guru untuk mengajar.
Untuk menilai kecocokan model, pertama-tama dilakukan pemeriksaan loading factor setiap variabel yang diamati pada variabel laten masing-masing. Semakin tinggi nilai loading factor yang diperoleh setiap item, semakin banyak pula nilai loading yang berkontribusi untuk menjelaskan faktor matriks. Dalam penelitian ini, model digital principal instructional leadership in new normal era dikonstruksi menjadi tiga sub-variabel yakni supporting online learning, proactive reducing issues of learning from home, dan leading and managing virtuals schools. Semua faktor lapisan pertama dimuat secara signifikan pada faktor persekutuan (digital principal instructional leadership in new normal era). Semua faktor yang meliputi supporting online learning, proactive reducing issues of learning from home, dan leading and managing virtuals schools sangat kuat memuat dengan factor loadings maksimal.
Sebagai pemimpin tertinggi di sekolah, tugas terbesar kepala sekolah adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran semaksimal mungkin agar semua potensi setiap individu siswa dapat berkembang secara maksimal. Tidak ada tempat sama sekali di dalam pikiran kepala sekolah, kecuali menyukseskan pembelajaran. Artinya, Apapun program yang dilakukan sekolah, tujuan akhirnya hannyalah potensi siswa berkembang maksimal melalui pembelajaran.
Hasil CFA memberikan bukti kuat bahwa model digital principal instructional leadership in new normal era didukung oleh data di lapangan. Hal ini juga menunjukkan tiga faktor yakni supporting online learning, proactive reducing issues of learning from home, dan leading and managing virtuals schools, secara signifikan diidentifikasi oleh sampel sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi digital principal instructional leadership in new normal era. Studi ini, dengan demikian, berkontribusi pada literatur dengan memasukkan tiga faktor dalam model tersebut. Perlakuan item pada setiap skala relevan dengan prinsip model IRT (Item Response Theory) yang mengasumsikan setiap variabel laten dalam model pengukuran bersifat unidimensional. Faktor persekutuan model digital principal instructional leadership in new normal era secara statistik ditetapkan sebagai penyebab dari tiga faktor lapisan pertama dalam model faktor hierarki, dan semua faktor memperoleh koefisien α yang lebih tinggi. Karenanya, pencapaian tersebut memperkuat kesimpulan bahwa model yang dibangun dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai model implementasi digital principal instructional leadership in new normal era.
Adanya perubahan pola pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh, memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif untuk merancang pembelajaran jarak jauh yang efektif agar mutu pembelajaran di sekolah tetap terjamin. Kepala sekolah sebagai top leader harus mampu membuat kreasi dan inovasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas pelayanan di sekolah secara keseluruhan. Pembelajaran yang efektif hanya dapat berlangsung di sekolah yang dikelola dengan baik. Oleh karena itu, tidak hanya kepala sekolah yang memainkan peran penting dalam berfungsinya sekolah; pemimpin lain di sekolah memainkan peran penting, yaitu wakil kepala sekolah dan penanggungjawab program.
Setelah menetapkan pentingnya berhubungan dengan semua pemangku kepentingan sebagai individu dan membangun rasa saling percaya, mendistribusikan tanggung jawab kepemimpinan kepada tim yang sadar akan situasi, dan berkomunikasi dengan jelas dan teratur, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat mengerti dan memahami bahwa mereka tidak diharapkan menjadi sempurna, tetapi menjadi pemimpin dengan fleksibilitas dan kapasitas adaptif untuk belajar dan berkembang sebagai konsekuensi dari menghadapi krisis atau pandemi, sehingga kepala sekolah akan mampu merespons dengan efektif dan sedikit upaya untuk menyelesaikan tantangan masa depan yang ideal untuk lembaga sekolah. Dengan berkomitmen pada praktik terbaik kepemimpinan ini, para pemimpin pendidikan atau kepala sekolah akan keluar dari krisis untuk membangun kembali dan menguatkan perannya, dengan kredibilitas mereka yang baik dan bahkan mungkin bisa meningkatkan kinerjanya sebagai pemimpin pembelajaran.
Penulis: Fendy Suhariadi
Link Jurnal: https://ijere.iaescore.com/index.php/IJERE/article/view/22483





