Dalam dunia bisnis yang semakin menekankan keberlanjutan, pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi instrumen penting untuk membangun kepercayaan publik dan mengurangi asimetri informasi (Healy & Palepu, 2001; Eccles & Krzus, 2018). Di Indonesia, meskipun POJK 51/2017 telah mewajibkan pelaporan keberlanjutan bagi perusahaan terbuka, kualitas dan konsistensi pengungkapan ESG masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN (Zarefar et al., 2022; Wanqi et al., 2020). Transisi dari pelaporan sukarela ke wajib, serta tantangan implementasi di masa pandemi, turut memperburuk kesenjangan informasi keberlanjutan. Dalam konteks ini, karakteristik pemimpin perusahaan, khususnya CEO, diyakini memainkan peran krusial dalam mendorong atau menghambat pelaporan ESG (Christensen et al., 2021). Salah satu karakteristik yang relevan namun kurang dieksplorasi adalah variasi karier CEO, termasuk pengalaman lintas industri, fungsi, perusahaan, dan negara.
Penelitian sebelumnya telah mengaitkan karakteristik CEO dengan kinerja perusahaan dan pengambilan keputusan strategis (Custódio et al., 2013; Hambrick & Mason, 1984), tetapi belum banyak yang meneliti secara khusus bagaimana career variety memengaruhi ESG disclosure, terutama dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia. CEO dengan latar belakang karier yang beragam cenderung memiliki fleksibilitas kognitif dan perspektif yang luas, yang dapat memengaruhi perhatian dan sikap mereka terhadap isu keberlanjutan (Crossland et al., 2014). Mengacu pada Upper Echelons Theory, keputusan organisasi mencerminkan nilai, pengalaman, dan latar belakang pribadi manajer puncak, sehingga penting untuk memahami bagaimana keragaman pengalaman ini berperan dalam membentuk kualitas pelaporan ESG.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh variasi karier CEO terhadap tingkat pengungkapan ESG pada perusahaan nonkeuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2018–2021. Dengan menggunakan data 815 observasi perusahaan dan pendekatan kuantitatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi karier CEO secara umum berdampak negatif terhadap pengungkapan ESG, khususnya pada perusahaan yang berusia muda, berukuran kecil, dan memiliki profitabilitas rendah. Sebaliknya, pada perusahaan yang lebih matang dan mapan, keragaman karier CEO justru berdampak positif terhadap ESG disclosure, yang sejalan dengan asumsi bahwa pengalaman luas dapat dimobilisasi secara strategis dalam lingkungan yang lebih stabil.
Uji robustness melalui Coarsened Exact Matching (CEM) dan Heckman Two-Stage Regression memperkuat hasil utama dan meminimalisir risiko bias seleksi dan endogenitas (Imai et al., 2008; Heckman, 1979). Selain itu, dimensi pengalaman internasional dari variasi karier CEO tercatat sebagai faktor negatif paling dominan dalam pengaruh terhadap ESG disclosure. Temuan ini tidak hanya memperluas wacana literatur tentang ESG dan kepemimpinan di negara berkembang, tetapi juga menyajikan implikasi penting bagi regulator, investor, dan dewan direksi dalam menyusun strategi keberlanjutan dan proses seleksi CEO yang berorientasi jangka panjang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linier berganda serta pengujian robustness melalui Coarsened Exact Matching (CEM) dan Heckman Two-Stage Regression untuk menganalisis pengaruh variasi karier CEO terhadap pengungkapan ESG perusahaan nonkeuangan di Indonesia selama periode 2018–2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi karier CEO berdampak negatif terhadap tingkat pengungkapan ESG, khususnya pada perusahaan yang berusia muda, berukuran kecil, dan kurang menguntungkan. Sebaliknya, pada perusahaan yang lebih matang dan stabil, keragaman karier CEO justru meningkatkan kualitas pengungkapan ESG. Temuan ini menegaskan bahwa variasi karier CEO dapat menjadi faktor strategis dalam pengambilan keputusan keberlanjutan, tergantung pada konteks organisasi dan karakteristik perusahaan, serta memberikan implikasi penting bagi proses seleksi pimpinan di era bisnis yang semakin berorientasi pada ESG.
Penulis: Sahrian Aditya Rahmatulloh, Nadia Anridho, Sri Ningsih, Nurul Fitriani, dan Siew Peng Lee
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/par-06-2024-0120/full/html
Baca juga: Green Sovereign Sukuk, Inovasi Keuangan Berkelanjutan Indonesia di Pasar Global





