Di pesisir Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, kerang bukan sekadar hasil laut, bagi ratusan nelayan setempat, kerang adalah sumber penghidupan, penentu dapur tetap mengepul, sekaligus warisan yang telah dimanfaatkan turun-temurun. Namun di balik limpahan hasil tangkapan, tersimpan satu pertanyaan besar: sampai kapan kerang di perairan Sedati bisa terus diandalkan?
Hampir setiap bulan, nelayan di Sedati melaut hingga 20–26 hari untuk mencari kerang. Dalam sekali melaut, aktivitas penarikan alat tangkap bisa dilakukan puluhan hingga ratusan kali. Pola ini menunjukkan satu hal yang jelas: kerang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir Sedati.
Semakin banyak kerang yang didapat, semakin besar pula pendapatan nelayan. Tidak mengherankan jika dorongan ekonomi sering kali menjadi alasan utama meningkatnya intensitas penangkapan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan pendorong paling kuat dalam aktivitas penangkapan kerang. Pendapatan yang meningkat mendorong nelayan untuk menangkap lebih banyak lagi. Namun, di sinilah paradoksnya muncul: semakin besar dorongan ekonomi, semakin besar pula risiko berkurangnya stok kerang di alam.
Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa pengaturan, nelayan bisa terjebak dalam lingkaran eksploitasi. Hari ini panen melimpah, tetapi esok hari hasil tangkapan menurun dan biaya melaut meningkat.
Selain faktor ekonomi, aspek biologis—khususnya musim penangkapan—memiliki peran penting. Saat musim kerang berlangsung lebih lama, hasil tangkapan memang meningkat. Namun, jika kerang ditangkap tanpa memperhatikan siklus hidup dan waktu berkembang biak, populasi kerang bisa menurun drastis.
Pengaturan musim tangkap menjadi kunci. Memberi waktu bagi kerang untuk tumbuh dan berkembang bukanlah kerugian, melainkan investasi jangka panjang bagi nelayan itu sendiri.
Menariknya, kondisi lingkungan seperti suhu air dan tingkat keasaman perairan di Sedati relatif stabil dan tidak berpengaruh langsung terhadap hasil tangkapan. Artinya, masalah utama bukan pada alam, tetapi pada cara manusia memanfaatkannya. Dengan kata lain, kerang di Sedati belum terancam oleh perubahan lingkungan ekstrem, melainkan oleh tekanan aktivitas penangkapan yang semakin intensif.
Dari sisi sosial, keberadaan organisasi nelayan ternyata belum memberi dampak nyata terhadap pengelolaan kerang yang berkelanjutan. Hal ini mengindikasikan bahwa organisasi masih berfungsi sebatas formalitas, belum menjadi wadah pengambilan keputusan bersama atau penguatan kesadaran menjaga sumber daya.
Padahal, jika dikelola dengan baik, organisasi nelayan bisa menjadi motor penggerak pengaturan musim tangkap, ukuran kerang layak panen, hingga kesepakatan bersama menjaga wilayah tangkap.
Pengelolaan kerang tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Penelitian ini menegaskan pentingnya menggabungkan aspek biologi, ekonomi, sosial, dan ekologi dalam satu kerangka pengelolaan yang utuh.
Kerang tidak boleh dipandang semata sebagai komoditas, tetapi sebagai sumber daya yang harus dijaga agar terus memberi manfaat. Pengaturan penangkapan, kebijakan ekonomi yang adil, serta keterlibatan aktif nelayan menjadi kunci keberlanjutan.
Kisah kerang di Sedati adalah potret kecil tantangan besar perikanan pesisir Indonesia. Jika pengelolaan dilakukan dengan bijak, laut akan terus memberi. Namun jika eksploitasi dibiarkan tanpa kendali, yang tersisa hanyalah kenangan akan hasil laut yang pernah melimpah.
Menjaga kerang berarti menjaga penghidupan. Dan menjaga penghidupan berarti memikirkan masa depan, bukan hanya hari ini.
Penulis: Prof. Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., M.P.





