Universitas Airlangga Official Website

Kerawanan Pangan Rumah Tangga dan Pengetahuan Gizi Ibu tentang Status Gizi Anak Balita di Pulau Gili Iyang, Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Balita merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap masalah gizi, salah satunya adalah stunting dan wasting yang masih menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu faktor yang memengaruhi status gizi anak adalah ketahanan pangan rumah tangga dan pengetahuan gizi ibu. Rendahnya pemahaman ibu tentang gizi dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, meskipun keluarga memiliki potensi sumber daya pangan yang cukup. Oleh karena itu, pemahaman gizi ibu serta kondisi ketahanan pangan rumah tangga menjadi faktor penting dalam menjaga status gizi balita. Penelitian yang dilakukan di Pulau Gili Iyang, Jawa Timur, pada tahun 2023 mencoba mengkaji hubungan antara kerawanan pangan rumah tangga dengan pengetahuan gizi ibu terhadap status gizi anak balita. Penelitian ini menjadi penting karena meskipun pulau ini dikenal kaya sumber protein, angka kejadian stunting dan wasting masih ditemukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah faktor pengetahuan gizi ibu dan ketahanan pangan rumah tangga berpengaruh terhadap status gizi anak balita.

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan analitik berbasis komunitas. Penelitian dilakukan selama dua bulan, melibatkan 39 ibu/pengasuh yang memiliki anak balita. Responden dipilih menggunakan metode acak sederhana, dengan pengumpulan data melalui wawancara kuesioner mengenai karakteristik demografi, pengetahuan gizi, serta status ketahanan pangan rumah tangga. Status gizi balita diukur melalui antropometri, mencakup berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar kepala. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan Spearman Rank Correlation dengan tingkat signifikansi p<0,05.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu memiliki pengetahuan gizi yang rendah (84,62%). Angka stunting pada balita tercatat sebesar 17,95%, sedangkan wasting sebesar 12,82%. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan gizi ibu dengan tinggi badan menurut umur anak (p=0,032; r=0,343), tetapi tidak ada hubungan signifikan dengan IMT (p=0,92). Selain itu, status ketahanan pangan rumah tangga berhubungan signifikan dengan tinggi badan anak (p<0,001). Rumah tangga dengan ketahanan pangan baik lebih banyak memiliki anak dengan status gizi normal, sedangkan rumah tangga yang mengalami kerawanan pangan lebih sering memiliki anak dengan stunting.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan gizi ibu menjadi faktor penting yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak. Meskipun sebagian keluarga di Gili Iyang memiliki akses terhadap sumber protein dari laut dan ternak, rendahnya pemahaman gizi menyebabkan pemanfaatan pangan belum optimal. Di sisi lain, ketahanan pangan rumah tangga juga menjadi penentu status gizi anak, karena kerawanan pangan dapat berdampak pada kualitas dan kuantitas asupan. Hal ini sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa keluarga dengan ketahanan pangan rendah lebih berisiko memiliki anak stunting. Dengan demikian, faktor sosioekonomi, pendidikan ibu, dan pola asuh juga berkontribusi terhadap hasil penelitian.

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dan ketahanan pangan rumah tangga dengan status gizi balita di Pulau Gili Iyang. Pengetahuan gizi yang rendah serta kondisi kerawanan pangan terbukti berhubungan dengan tingginya angka stunting dan wasting. Oleh karena itu, peningkatan pendidikan gizi ibu dan penguatan ketahanan pangan rumah tangga menjadi strategi penting untuk memperbaiki status gizi balita. Intervensi berbasis masyarakat yang melibatkan edukasi gizi, program peningkatan pendapatan keluarga, serta dukungan multisektoral diperlukan untuk mengatasi masalah gizi.