Periode kehamilan, persalinan dan masa nifas merupakan fase penting dalam kehidupan seorang perempuan. Namun, di balik kebahagiaan menanti kelahiran, banyak perempuan mengalami kecemasan perinatal yang kerap tidak terdeteksi dan tidak tertangani. Studi terkini menunjukkan bahwa kecemasan dalam kehamilan bukan sekadar reaksi emosional sementara, tetapi suatu kondisi klinis yang memiliki dampak psikososial yang serius bagi ibu dan bayi.
Kecemasan perinatal dialami oleh 15–20% perempuan selama periode hamil sampai dengan nifas, namun hanya sebagian kecil yang mendapat layanan kesehatan mental yang memadai. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai hambatan sistem kesehatan seperti keterbatasan waktu konsultasi, kurangnya tenaga kesehatan jiwa, stigma negatif, serta alur rujukan pelayanan obstetri yang belum terpadu.
Keadaan di atas diperberat dengan adanya kekerasan dalam rumah tangga, status ekonomi rendah, dan minimnya dukungan keluarga sehingga memperburuk kondisi psikologi ibu hamil. Tanpa intervensi yang tepat dan sesuai, kecemasan dapat berdampak pada proses persalinan, perkembangan janin, serta meningkatkan risiko komplikasi ibu dan bayi.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa skrining dan intervensi dini untuk kecemasan dapat memperbaiki hasil kehamilan dan meningkatkan ikatan awal antara ibu dan anak. Namun banyak fasilitas kesehatan masih belum memiliki layanan terpadu untuk identifikasi dan manajemen kecemasan dalam kehamilan. Instrumen seperti GAD-7 atau Perinatal Anxiety Screening Scale sudah tersedia, tetapi sering kali hanya terarsip tanpa tindak lanjut klinis yang terstruktur.
Model Kolaboratif dan Peran Teknologi Digital
Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah model kolaboratif obstetri – psikiatri yang terintegrasi dalam alur pelayanan kebidanan. Model ini mencakup skrining rutin, penilaian gejala, rujukan terkelola, hingga pemantauan berlanjut dalam sistem berjenjang.
Melalui pendekatan ini, pemeriksaan kesehatan mental bukan lagi dilakukan secara terpisah, tetapi menjadi bagian dari layanan antenatal sampai dengan nifas. Tenaga kesehatan seperti bidan, dokter, ahli obstetri, psikolog, psikiater dan konselor bekerja dalam koordinasi, dilengkapi melalui pelatihan dan supervisi. Sistem ini meningkatkan deteksi, memperbaiki penerimaan terapi, dan menurunkan gejala kecemasan serta depresi pascapersalinan.
Kemajuan teknologi turut membuka akses penanganan kecemasan perinatal, terutama bagi wilayah dengan keterbatasan tenaga ahli. Konseling berbasis telepon / telemedicine, aplikasi pemantauan emosi, hingga terapi kognitif perilaku daring dinilai efektif meningkatkan keterlibatan ibu, menurunkan gejala kecemasan, sekaligus mengurangi stigma saat mencari bantuan psikologis.
Meski demikian, teknologi bukan solusi tunggal. Hubungan interpersonal tetap krusial, sehingga layanan digital idealnya berperan sebagai pelengkap model kolaboratif, bukan pengganti konsultasi tatap muka.
Tantangan Keadilan Kesehatan dan Implikasi Kebijakan
Keberhasilan integrasi kesehatan mental tidak hanya bergantung pada inovasi klinis, tetapi juga restrukturisasi ketimpangan struktural. Diperlukan pelatihan tenaga kesehatan yang peka budaya, dan pemanfaatan kader masyarakat sebagai agen pendukung layanan psikologis.
Integrasi kesehatan mental dalam obstetri membutuhkan dukungan kebijakan yang jelas. Negara-negara maju mulai mengadopsi standar skrining universal, sistem pembayaran terintegrasi, serta indikator kinerja pelayanan kesehatan yang mencakup kesehatan mental ibu. Kami mengusulkan model yang dapat diadaptasi fasilitas kesehatan dari tingkat dasar hingga sistem berteknologi tinggi. Model ini dilengkapi indikator implementasi sehingga keberhasilan dapat diukur dan dimonitor secara berkelanjutan.
Kesehatan Mental Ibu adalah Kesehatan Anak dan Bangsa
Mengintegrasikan kesehatan mental ke layanan obstetri bukan sekadar pembaruan klinis, tetapi suatu intervensi klinis yang bermoral dan profesional. Sistem pelayanan yang hanya menekankan keselamatan fisik tanpa memperhatikan kesejahteraan emosional ibu belum utuh sepenuhnya. Perspektif baru dalam ilmu obstetric psikiatri menempatkan kesejahteraan psikologis ibu sebagai indikator kualitas layanan yang sama pentingnya dengan hasil persalinan.
Dengan dukungan kebijakan, pelatihan tenaga kesehatan, dan kemitraan lintas sektor, kecemasan perinatal dapat ditangani secara lebih sistematis, humanis, dan efektif. Pada akhirnya, sebuah sistem kesehatan yang sehat secara mental adalah fondasi bagi generasi yang lebih kuat dan sehat sehingga mewujudkan kesehatan bangsa dan generasi mendatang.
Penulis: Khanisyah Erza Gumilar
https://www.degruyterbrill.com/document/doi/10.1515/jpm-2025-0300/html





