UNAIR NEWS – Survei American Psychological Association mencatat bahwa 91 persen Gen Z pernah mengalami stres atau gangguan emosional. Namun, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan pengelolaan stres dalam diri masih minim di kalangan mahasiswa. Menanggapi isu tersebut, Kementerian Kesehatan BEM Universitas Airlangga menggelar Seminar Dharmika Jiwa pada Sabtu (11/10/2025) di Ruang Patologi Anatomi Kampus Dharmahusada – A.
Seminar Dharmika Jiwa mengusung tema Sukses Versi Siapa? Saatnya Berhenti Ngebut dan Mulai Hidup Seutuhnya. Sejalan dengan tema tersebut, kegiatan ini menghadirkan dua pembicara ahli pada bidang kesehatan mental. Afif Kurniawan SPsi MPsi serta dr Sheila Maryam Gautama Sp KJ.
Pentingnya Asertif untuk Raih Kesuksesan
Afif menjelaskan bahwa percaya diri dan kompetensi selalu berjalan beriringan dan selaras. Ia juga menekankan perlu adanya realitas dalam menghadapi suatu permasalahan. “Kalau kita mau percaya dirinya tinggi, kompetensinya tinggi, kita butuh aspek realistis. Misalnya, ujian besok materinya susah. Akui saja itu secara realistis, sehingga nantinya upaya kita ada di level itu,” jelasnya.
Menurutnya, selain realistis, sikap asertif dan selalu berpikir positif menjadi kunci penting mengenal diri sendiri. Ia menyinggung bahwa sikap tersebut harus dimiliki oleh generasi sekarang. “Ada satu faktor yang perlu dikuasai oleh generasi sekarang. Cobalah menjadi asertif karena berpikir positif saja tidak cukup untuk mengenal diri sendiri. Semakin terbuka dan asertif, semakin kita akan berhasil,” imbuhnya.
Mengelola Stres untuk Sukses
Sejalan dengan Afif, Sheila memaparkan definisi sukses yang memiliki beragam bentuk. Ia juga menekankan untuk tidak perlu ngebut mengejar sesuatu. “Sukses itu bisa berarti apa saja, tergantung dari nilai-nilai pribadi, minat, dan keadaan seseorang. Jadi jangan ngebut, jangan bandingkan diri kita dengan orang yang tidak kita kenal,” jelasnya.
Lebih lanjut, pengelolaan stres perlu untuk dilakukan. Hal ini menjadi penting untuk meraih kesuksesan. “Stres itu dibutuhkan. Ketika stres itu hadir, dia terbagi jadi dua. Stres positif dan stres negatif. Stres positif akan membuat kita termotivasi, puas, bangga, dan menjadi pendorong, sedangkan stres negatif akan membuat kita panik, cemas, frustasi, dan merasa tertekan. Pengelolaan stres dibutuhkan agar kita mampu mengubahnya menjadi hal yang positif,” ungkapnya.
Seminar Dharmika Jiwa semakin menguatkan peran UNAIR untuk mendorong kesadaran mahasiswa akan pentingnya memperhatikan dan mengelola kesehatan mental. Ia berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan literasi kesehatan mental, keterampilan praktis dalam mengelola diri, juga pemaknaan ulang tentang kesuksesan pada diri mahasiswa.
Penulis: Putri Andini
Editor: Khefti Al Mawalia





